Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jadi Pocong di Film Pendek, Prilly Overthinking: Jangan Dulu Ya Allah!

Jadi Pocong di Film Pendek, Prilly Overthinking: Jangan Dulu Ya Allah!
press conference Next Step Studio Indonesia, Selasa (5/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Jakarta, IDN Times - Prilly Latuconsina kembali ke dunia seni peran. Kali ini, ia menantang dirinya dengan memerankan karakter tak biasa, sebagai pocong dalam film pendek berjudul Holy Crowd.

Dalam press conference yang berlangsung di Institut Français Indonesia (IFI) Thamrin, Selasa (5/5/2026), film ini diperkenalkan sebagai karya kolaborasi dari sutradara Indonesia Reza Fahriyansyah bersama Ananth Subramaniam asal Malaysia.

Prilly mengungkapkan, tidak mudah baginya untuk memerankan karakter pocong bernama Ratna tersebut. Ia mengaku sempat overthinking hingga akhirnya kerap mengalami migrain selama proses syuting.

1. Prilly jadi pocong di film pendek Holy Crowd, awalnya lucu tapi pas baca naskahnya ternyata nyesek

Para peserta dan pembicara berpose bersama di konferensi pers Next Step Studio Indonesia dengan latar belakang layar bertema acara.
press conference Next Step Studio Indonesia, Selasa (5/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Prilly menceritakan bahwa awalnya, ia melihat pocong Ratna sebagai karakter yang lucu. Namun, setelah membaca skenarionya lebih dalam ia pun mulai menyadari bahwa karakter tersebut justru merepresentasikan situasi yang kerap terjadi di sekitar kita, bahkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Karakternya unik banget, karena saya merasa karakter Ratna ini, mungkin pas baca sekilas kayak lucu, kayak dia jadi pocong atau apa. Tapi ternyata karakternya itu menggambarkan situasi yang terjadi saat ini di sekitar kita dan bahkan terjadi setiap hari. Cuma gak boleh kita spoiler-in,” kata Prilly, Selasa (5/5/2026).

Di hadapan awak media yang hadir, Prilly pun mengaku merasa sangat relate dengan karakter tersebut. Menurutnya, tokoh tersebut menggambarkan bagaimana orang-orang cenderung ingin mengambil sesuatu dari diri kita, tergantung pada apa yang bisa kita berikan. Ia pun menyoroti bahwa kedekatan seseorang sering kali didasari oleh keuntungan dan mempertanyakan apakah orang lain akan tetap bertahan ketika kita tidak lagi memberi manfaat.

“Jujur, habis baca ini, karena saya relate, saya lumayan agak nyesek dan lumayan berkaca-kaca pas baca script-nya karena di karakter Ratna ini menggambarkan bahwa semua orang itu akan selalu mau mengambil sesuatu di dalam diri kita,” lanjutnya.

2. Benar-benar dibungkus seperti pocong, Prilly ngaku overthinking sampai kerap migrain

Beberapa orang duduk di kursi merah saat konferensi pers Next Step Studio Indonesia, dengan salah satu pembicara memegang mikrofon.
press conference Next Step Studio Indonesia, Selasa (5/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Prilly melanjutkan bahwa pengalaman memerankan pocong ini terasa sangat berbeda baginya, baik secara secara emosional dan fisik. Ia mengaku setiap kali bercermin saat mengenakan kostum, muncul rasa takut dan penolakan dalam dirinya.

“Setiap ngaca, ‘Amit-amit jabang bayi. Belum belum belum ya Allah belum. Jangan dulu ya Allah.‘“

Menurutnya, proses fitting menggunakan kain kafan yang benar-benar membungkus tubuh membuatnya semakin tegang dan deg-degan. Ditambah dengan kebiasaannya yang overthinking, kondisi tersebut pun kerap memicu migrain setiap akan memulai syuting.

“Benar-benar kayak dibungkus, deg-degan banget. Terus setiap pakai kain kafan karena mungkin saya juga overthinking, jadinya migrain. Setiap mau mulai syuting migrain,” lanjut Prilly.

3. Arswendy Bening Swara puji totalitas Prilly

Beberapa orang berdiri bersama saat konferensi pers Next Step Studio Indonesia dengan latar belakang banner acara dan media yang meliput.
press conference Next Step Studio Indonesia, Selasa (5/5/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Selain Prilly Latuconsina, film ini juga diperkuat oleh sejumlah aktor ternama, seperti Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, dan Arswendy Bening Swara. Dalam kesempatannya, Arswendy pun mengungkapkan kekagumannya terhadap Prilly. Ia menilai Prilly mampu bermain dengan sangat intens tanpa mengeluh, meski harus mengenakan kostum yang cukup menantang.

“Saya kagum dengan Prilly karena dia main sangat intens dan gak mengeluh dengan kostum dan ini yang paling susah. Dia diikat, dibalut, ditutup hidungnya,” kata Arswendy.

Dalam film ini, Arswendy sendiri memerankan karakter seorang ustaz. Namun, menurutnya, sosok tersebut cukup berbeda dari ustaz pada umumnya karena alih-alih mengayomi, karakter tersebut justru lebih menonjolkan sisi kekuasaan.

Adapun film Holy Crowd akan melakukan world premiere di program Next Step Studio, La Semaine de la Critique, Cannes Film Festival 2026 bersama tiga film pendek hasil kolaborasi sutradara Indonesia dan Asia Tenggara lainnya, yaitu Mothers Are Mothering, Original Wound, dan Annisa yang disutradarai oleh Reza Rahadian bersama Sam Manacsa, sutradara asal Filipina.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zahrotustianah
EditorZahrotustianah
Follow Us

Related Articles

See More

Model India Bhavitha Mandava Disorot usai Pakai "Jeans" di Met Gala 2026

05 Mei 2026, 23:06 WIBHype