Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Karakter Oshi no Ko yang Punya Fans dan Banyak Haters
Kana Arima (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)
  • Lima karakter utama Oshi no Ko seperti Kana, Akane, Aqua, Ruby, dan Ai digambarkan kompleks dengan sisi positif-negatif yang memicu cinta sekaligus kebencian dari penonton.
  • Setiap karakter mencerminkan pergulatan batin manusia nyata—mulai dari kejujuran Kana, kesempurnaan Akane, manipulasi Aqua dan Ruby, hingga kepalsuan penuh makna dari Ai.
  • Perbedaan reaksi penggemar terhadap tiap karakter dipengaruhi latar budaya, pengalaman pribadi, serta nilai moral masing-masing individu yang membentuk persepsi unik terhadap kisah Oshi no Ko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Karakter dalam Oshi no Ko tidak hanya dirancang untuk disukai, tetapi juga untuk mencerminkan kompleksitas manusia di dunia nyata. Setiap kali dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit, pergulatan batin pun tak terhindarkan. Mengungkapkan emosi serta pemikiran paling jujur dan mungkin tak ingin diakui hingga mengundang kontroversi.

Beberapa penonton akan terhubung dengan karakter tertentu lebih daripada yang lainnya. Tak mengherankan jika penilaian yang muncul menjadi beragam meski menonton konten yang sama. Demi pemahaman yang lebih mendalam, mari bedah lima karakter Oshi no Ko yang punya fans dan banyak haters berikut ini dengan detail!

1. Kana Arima

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Kana adalah mantan aktris cilik populer yang kini sedang mengalami kemerosotan karier. Atas bujukan Ruby dan Aqua, ia setuju untuk bergabung sebagai member idol group B-Komachi generasi baru. Karakter ini dicintai penggemar karena merefleksikan ketekunan, ketegaran, serta kejujuran dengan rentang emosi paling luas.

Kana memakai busur karakter positif yang awalnya diperkenalkan sebagai gadis cilik sombong serta remaja tsundere, tetapi kemudian terungkap bahwa sikapnya berasal dari rasa tak aman serta ketakutannya untuk ditinggalkan. Kana tahu betapa tak ramahnya dunia sehingga perilaku naif selalu ia anggap sebagai cara terburuk untuk bertahan hidup. Meski begitu, ia bersikap realistis dan selalu berusaha melihat sisi positif, menjaga keseimbangan untuk bersikap seperti yang dunia inginkan terhadapnya dan apa yang ia inginkan terhadap dunia.

Kana akhirnya sering dipersepsikan sebagai semangat feminis. Berjuang menjadi sosok mandiri, aktif, dan vokal yang mengekspresikan keinginannya serta mengakui kekurangannya alih-alih berusaha mengubah jati dirinya. Salah satu karakter perempuan yang mengagumkan sekaligus menakutkan karena tak bisa dikekang oleh kerangka budaya patriarki yang menuntut kepatuhan serta ketundukan.

Meski kejujuran identik dengan nilai positif, bersikap jujur tidak selalu dinilai baik. Itu sebabnya beberapa karakter atau penonton kurang menyukainya. Hanya karena bersikap jujur atas perasaannya, Kana bisa dianggap egois, kekanakan, kurang peka, tidak sopan, dan sebagainya. Kana menyadari fakta tersebut dan itulah sebabnya ia sering tersiksa atas emosinya sendiri. Menghadapi kritik karena mengecewakan ekspektasi dunia demi tak mengkhianati diri sendiri memang tak pernah mudah, bukan?

2. Akane Kurokawa

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Akane mempresentasikan tipe perempuan ideal di mata laki-laki. Seorang aktris cantik, punya kepekaan penalaran, bertubuh proporsional, bersikap lembut, ramah, serta anggun yang kariernya tengah naik daun. Kerapuhan dan pengabdian tak bersyarat Akane dianggap memikat karena membangkitkan insting laki-laki untuk melindunginya. Tak peduli bahwa Akane juga memiliki sisi kelam yang tak sehat, ia masih dianggap sempurna karena tetap menjaga sikap sebagaimana dunia ingin melihatnya.

Dengan semua privilege kehidupan yang didapatkan, tindakan Akane tidak memiliki celah kesalahan. Bagaimanapun, sulit melihat sisi negatif karakter yang tidak menunjukkan ambisi pribadi dan hanya bereaksi terhadap segala sesuatu di sekitarnya. Oleh sebab itu, kebencian terhadapnya muncul bukan karena karakteristik tersebut, tetapi karena pesan yang melekat pada caranya hadir dalam cerita.

Akane pernah berada di titik krisis, tetapi ia berhasil keluar berkat diselamatkan oleh karakter lain. Segala konflik yang pernah dialaminya tidak pernah benar-benar meninggalkan jejak negatif dalam perkembangan kepribadiannya sebagaimana umumnya karakter penting lain dari seri ini yang harus terus kembali bergulat dengan konflik masa lalu mereka (trauma). Akane juga sering dengan mudah mendapatkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin menginginkannya atau tidak.

Mengingat betapa ramahnya plot cerita terhadapnya, mau tak mau, penonton jadi terpantik untuk menarik korelasi dengan kehidupan nyata. Pesan yang tersirat yaitu hidup akan lebih mudah jika perempuan bersikap sesuai tuntutan patriarki atau menjadi kaum elit yang memborong keberuntungan sejak kelahirannya. Mendambakannya menjadi sesuatu yang normal, tetapi terkoneksi dengannya tidak akan mudah bagi kebanyakan orang yang tidak berada dalam kondisi kehidupan yang ideal. Sederhananya, kebencian terhadap Akane muncul atas persepsi bahwa penonton seakan dipaksa pasrah menerima ketidakadilan tatanan sosial.

3. Aquamarine Hoshino

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Sebagai narator utama pada sebagian besar cerita, karakter Aqua dibuat memikat dengan banyak sisi positif. Ia digambarkan berparas rupawan, taktis, negosiator andal, serta pandai menempatkan diri dalam relasi dan dinamika sosial. Ia memiliki sisi manipulatif, tetapi kebaikan hatinya yang hangat mencegahnya melanggar batas moral tertentu. Singkatnya, ia memang bisa bertindak jahat, tetapi tujuan akhirnya adalah kebaikan.

Kebencian terhadap karakter ini didasari oleh keyakinan-keyakinan bahwa kebaikan tidak hanya harus nyata dalam hasilnya, tetapi juga dalam prosesnya. Itu sebabnya beberapa tindakan Aqua tetap tidak bisa dibenarkan. Karakter ini juga dipermasalahkan ketika identitasnya sebagai reinkarnasi Goro menempatkannya pada penilaian yang bias.

Meski kesadarannya sebagai reinkarnasi Goro merupakan kelebihan di awal cerita, pengungkapan perasaannya pada Sarina dalam versi manga menjadi masalah sensitif karena menyinggung isu pedofilia. Meski ada bagian yang menjelaskan keterpisahan emosi dan jiwa keduanya, sangat sulit untuk benar-benar mengabaikannya. Menjadi cerita yang lebih pahit lagi karena faktanya Aqua menanggung beban trauma dari dua jiwanya tanpa pernah benar-benar berhasil ditolong siapa pun.

4. Ruby Hoshino

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Ruby digambarkan sebagai gadis dengan semangat murni yang polos. Ia terlihat begitu mudah move on dari masalah-masalah yang ditemui sepanjang hidupnya. Ia mengalami perubahan signifikan setelah penemuan mayat Goro, cinta pertamanya.

Perubahan karakter Ruby menjadi sosok manipulatif awalnya masih diterima cukup baik karena nilai kejutan dalam menyemarakkan plot cerita. Ditambah, terungkap pula trauma kehidupan masa lalu yang ternyata belum benar-benar sembuh. Sisi naif yang perlahan hilang tidaklah terlalu buruk jika saja egoismenya sedikit lebih dikontrol terhadap orang terdekat atau setidaknya ada indikasi kesadaran akan rasa bersalah.

Berbeda dengan Aqua dan Kana yang secara narasi telah terang-terangan menyadari sisi negatif mereka disertai hadirnya rasa bersalah, Ruby tidak digambarkan demikian. Masalah paling krusial dari karakter Ruby adalah pemaksaan rute inses kepada Aqua. Meski hampir abai terhadap Aqua sepanjang kehidupan barunya, Ruby tiba-tiba menuntut Aqua bertanggung jawab atas perasaannya terhadap Goro tanpa mempertimbangkan posisi mereka saat ini. Ditambah, relasi Sarina dan Goro secara romantis dianggap bermasalah.

5. Ai Hoshino

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Karakter Ai begitu menawan sebagai idol yang digadang-gadang akan segera meraih puncak kesuksesan. Sebelum pengungkapan skandalnya, ia merupakan gambaran citra idol yang ideal. Pandangannya mengenai penggemar yang ingin ditipu terasa masuk akal mengingat dirinya pun ingin kebohongannya dalam mencintai menjadi kebenaran itu sendiri.

Menelusuri masa lalunya, kehausannya akan perhatian dan cinta bisa dimengerti. Mirip dengan dinamika karakter Aqua, ia juga menggunakan kebohongan dan manipulasi untuk sesuatu yang dianggapnya baik. Kemunculannya cukup singkat, tetapi begitu berdampak. Ia kemudian hidup dalam benak orang-orang yang mencoba menerka-nerka sosoknya di balik topeng yang dipakainya.

Meski kehadirannya terasa menyenangkan, Ai bisa dinilai sebagai sosok yang terlalu sembrono. Ia membuat banyak pilihan tak dewasa karena berpura-pura menjadi dewasa dan membuat orang lain terseret dalam kekacauannya. Latar belakangnya sebagai yatim piatu, usianya yang masih terbilang belia, serta kehadirannya yang singkat dalam cerita secara tak langsung telah membantu karakter tersebut menerima kritik lebih jauh.

Gelombang cinta dan benci yang menyelimuti setiap karakter anime Oshi no Ko tidak sesederhana penilaian baik-buruk. Lebih dari itu, selera penonton terbentuk oleh kristalisasi dari pengetahuan, latar belakang budaya, pengalaman, nilai-nilai moral, serta prioritas hidup setiap penonton. Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat diskusi mengenai pilihan hidup Aqua, Ruby, Kana, maupun Akane selalu menjadi topik perdebatan menarik tanpa kesimpulan mutlak.

Lebih jauh lagi, reaksi emosional penonton terhadap para karakter erat kaitannya dengan kondisi psikologis dan tipe kepribadian yang beragam pada masing-masing orang. Hal ini menyebabkan munculnya karakter Oshi no Ko yang punya fans dan banyak haters. Menyadari hal ini akan membantu kamu untuk secara sadar memahami perasaanmu terhadap suatu karakter tanpa perlu memaksakan penilaian tersebut atau bahkan tergoda untuk merendahkan penilaian orang lain yang berseberangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team