Kenalin Nuh…, ASN Medan dan Penyanyi Lagu Teruntuk Mia yang Viral

Jakarta, IDN Times - Di balik lagu “Teruntuk Mia” yang sempat viral di media sosial dan menyentuh hati banyak orang, ada sosok Nuh… yang nyaris memutuskan untuk berhenti bermusik. Musisi asal Medan yang juga berprofesi sebagai aparatur sipil negara (ASN) tersebut sempat merasa perjalanannya di dunia musik telah cukup. Ia ingin fokus bekerja, membangun rumah tangga, dan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja. Namun, terkadang rencana manusia memang kalah oleh kejutan yang telah dipersiapkan semesta.
Siapa sangka, lagu “Teruntuk Mia” yang awalnya ingin dijadikan sebagai rilisan terakhir justru menjadi titik balik yang membuat Nuh… semakin yakin untuk terus melanjutkan perjalanannya di dunia musik.
Lalu, bagaimana cara Nuh… menyeimbangkan perannya sebagai ASN di BKKBN sekaligus musisi? Apakah ia sendiri pernah merasa kewalahan menjalani dua peran yang berbeda tersebut?
1. Lagu Teruntuk Mia jadi titik balik yang membuat Nuh… yakin menjalani pekerjaan sebagai ASN dan musisi

Dalam sesi wawancara eksklusif bersama IDN Times, Kamis (23/7/2026) Nuh… mengungkapkan, viralnya lagu “Teruntuk Mia” merupakan hal yang tidak pernah ia bayangkan. Lagu itu awalnya hanya ingin dirilis sebagai karya penutup perjalanan bermusiknya setelah lebih dari satu dekade berkarya.
Saat itu, Nuh… bahkan sudah siap menjalani kehidupan yang sederhana sebagai ASN dan membangun rumah tangga bersama Mia, yang kini telah menjadi istrinya. Namun siapa sangka, lagu tersebut justru menerima sambutan hangat dan viral di media sosial, terutama TikTok, setelah dirilis pada 2024 lalu.
“Jadi ketika lagu ini viral, jadi menganggap, ‘Apa ini saatnya aku serius musik juga, ya.’ Jadi emang jadi titik balik juga,” kata Nuh… mengenang momen viralnya lagu tersebut.
Setelah lagu Teruntuk Mia viral dan ia mantap melanjutkan kembali perjalanan bermusiknya, Nuh… mengaku sempat merasa takut dan mengalami culture shock, karena banyak tawaran manggung yang datang. Padahal, selama hampir satu dekade berkarier di dunia musik, ia hanya beberapa kali tampil di atas panggung.
“Tiba-tiba antusias orang besar. Di situ banyak yang approach dan aku gak terbiasa, gak siap untuk itu sebenarnya. Aku takut karena belum banyak fenomena kayak gitu di Medan. Jadi aku belajar dulu sama orang yang aku rasa sudah duluan di industri itu tentang yang harus ku lakukan pertama kali ketika mendapatkan respons seperti itu,” lanjutnya.
2. Nuh… akui tidak menjadikan musik sebagai pekerjaan utama

Meski sudah berkarya di dunia musik sejak 2013, Nuh… awalnya tidak pernah berambisi untuk menjadikan musik sebagai pekerjaan utamanya. Ia hanya menjadikan musik sebagai ruang untuk mengekspresikan perasaannya saja, bukan sebagai sesuatu yang ingin ia tekuni sebagai profesi.
“Karena musik itu awalnya memang sebagai sarana untuk mengekspresikan apa yang ku rasain aja. Terlebih kan juga di Medan itu belum banyak contoh yang pasti. Belum banyak contoh yang nyata kalau berkarya di musik itu hidup, gitu. Jadi emang musik itu awalnya emang cuma untuk mengekspresikan apa yang ku rasain aja,” ungkap pemilik nama asli Muhammad Rizki Nugroho tersebut.
Oleh karena itu, meski sudah lama terjun ke dunia musik, Nuh… tidak terpaku pada karier menyanyi. Ia tetap fokus menjalani pekerjaannya hingga akhirnya diangkat menjadi ASN di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) wilayah Medan, Sumatra Utara.
3. Cara Nuh… menyeimbangkan waktu sebagai ASN sekaligus musisi

Menjalani dua peran sebagai ASN dan musisi, ternyata bukan hal yang mudah. Nuh… mengaku, awalnya ia pun sempat mengalami kesulitan dalam mengatur waktu, karena berusaha memberikan porsi yang sama besar untuk kedua pekerjaan ini hingga membuat jadwal kesehariannya sangat padat.
“Awalnya agak keteteran. Jadi keteteran, karena mencoba menjalankan keduanya secara bersama dan secara 100 persen-100 persen. Jadi kayak dari pagi bisa sampai ke pagi lagi tuh kerjanya.
Nuh… melanjutkan, “Pagi sampai sore itu kerja, baru jemput istri, baru kerja musik. Nanti pulangnya jam 1 pagi, jam 2 pagi. Nanti bangun jam 5, begitu lagi rutinitasnya hampir setiap hari.”
Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai belajar untuk mengatur prioritas agar kedua tanggung jawab tetap dapat dijalankan dengan baik. Oleh karena itu, ia memutuskan mengurangi porsi kegiatannya di musik dan mengatur jadwalnya dengan lebih terencana.
“Jadi kayaknya ada yang harus dikorbankan. Kayaknya musik itu proporsinya agak lebih kecil. Jadi kita cuma ngerjain musik itu kalau untuk lingkup Medan bisa cuma malam. Kalau untuk yang di luar kota, itu kita bisa cuma start di Jumat malam. Jadi gak ganggu jam kerja.”
Sementara itu, untuk kegiatan di luar kota yang berlangsung pada hari kerja, Nuh… akan menggunakan jatah cuti selama masih mendapatkan izin dari pimpinan di tempatnya bekerja.




















