Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Film Bambi Terlalu Mengerikan untuk Anak-anak?

Kenapa Film Bambi Terlalu Mengerikan untuk Anak-anak?
Bambi dan ibunya (dok. Walt Disney Productions/Bambi)
Intinya Sih
  • Film Bambi menampilkan realisme alam yang kuat tanpa perlindungan fantasi, membuat kisah kehilangan dan ketakutan terasa nyata bagi penonton muda.
  • Manusia digambarkan sebagai ancaman tak terlihat yang menimbulkan kecemasan eksistensial bagi hewan-hewan hutan, memperkuat nuansa gelap film ini.
  • Adegan kematian ibu Bambi, kebakaran hutan, dan siklus kehidupan yang berulang menggambarkan kerasnya alam serta ketidakberdayaan makhluk hidup di dalamnya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Merasa takut itu adalah hal yang bagus untuk anak-anak. Namun, banyak orang tua gak mau anak-anaknya terpapar hal-hal menakutkan, terutama dalam cerita fiksi.

Sayangnya, para pendongeng di masa lalu justru menulis kisah-kisah mengerikan yang ditunjukan untuk anak-anak, contohnya saja Brothers Grimm hingga R.L. Stine. Namun, siapa sangka kalau film-film Walt Disney justru punya kisah gelapnya sendiri, lho.

Ada banyak adegan menegangkan dalam semua karya Disney. Ada pelarian Putri Salju di hutan belantara, halusinasi gajah Dumbo, dan adegan keledai yang mengerikan dalam Pinocchio. Ada juga Bambi, film klasik rilisan 1942 berdasarkan novel karya Felix Salten. Sayangnya, film ini justru membuat anak-anak menjadi trauma selama beberapa generasi.

Bambi menceritakan tentang pertumbuhan anak rusa di hutan yang dipenuhi kengerian, diwarnai kehilangan, dan teror. Jika kamu berpikir itu berlebihan, mari kita bahas lebih mendetail alasan kenapa film Bambi ternyata cukup mengerikan untuk ditonton anak-anak.

1. Bambi dibuat sangat naturalisme

cuplikan hutan dalam film Bambi
cuplikan hutan dalam film Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Salah satu hal gelap tentang Bambi terletak pada cara film ini mengarahkan pandangan pada alam. Sebagai film panjang kelima Disney, sangat sedikit preseden realisme dalam karya mereka. Meskipun Disney berupaya menciptakan drama dan karakter manusia sejak munculnya Snow White, Disney masih terpaku pada ranah fantasi dan dongeng.

Latar belakang film Bambi (yang diawasi oleh direktur seni Tyrus Wong) menampilkan hutan yang lebih mirip lukisan impresionis ketimbang negeri dongeng untuk kartun. Dibandingkan dengan teman-teman hewan Snow White beberapa tahun sebelumnya, karakter-karakter dalam Bambi terlihat sangat realistis. Jadi, meskipun indah dari segi alamnya yang realistis, gak ada sihir untuk melindungi penonton dari kisahnya yang gelap dan memilukan.

2. Penjahatnya adalah manusia

cuplikan dalam film Bambi
cuplikan dalam film Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Antagonis Disney sering kali diisi dengan unsur fantasi atau komedi. Jadi, antagonis ini punya penggemarnya sendiri, tapi ada juga yang memang dibenci. Namun, sama halnya dengan Bambi, penjahatnya gak terlihat. Penonton hanya tahu kalau dia adalah manusia yang merusak keseimbangan hutan.

Kita gak pernah melihat manusia yang dimaksud, dan "Manusia" adalah satu-satunya nama yang pernah disebut untuknya. Itu berarti, manusia itu mewakili seluruh umat manusia. Bambi menampar kita bahwa manusia adalah perusak. Adapun, berburu adalah hobi atau gaya hidup bagi sebagian orang.

3. Film Bambi mengundang kecemasan

cuplikan perkemahan para pemburu dalam film Bambi
cuplikan perkemahan para pemburu dalam film Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Manusia selalu berada di luar layar, hanya dibicarakan oleh hewan-hewan dengan suara berbisik dan penuh ketakutan. Hewan-hewan di hutan gak memahami motifnya kenapa manusia memburu mereka. Hewan-hewan ini pun gak bisa memprediksi kapan manusia akan muncul atau apa yang akan dilakukan. Satu-satunya hal yang menandakan kehadiran manusia adalah api unggunnya, pelurunya, dan musik yang menakutkan bagi para hewan di hutan.

Kita, sebagai penonton, mungkin tahu apa yang dilakukan seorang pemburu. Namun, saat kita dipaksa melihat dari sudut pandang hewan-hewan tersebut, manusia merupakan ancaman eksistensial bagi hewan. Bagi hewan, manusia bisa mewakili ketakutan yang bersembunyi di alam bawah sadar.

Kita pun sebagai manusia bisa merasakan teror dan ketakutan terhadap hewan-hewan di hutan, karena kita juga harus bergulat dengan bahaya yang gak terduga dan juga gak bisa kita pahami. Bahkan, mereka yang menonton Bambi yang pertama kali dirilis pada 1942 mungkin teringat akan Perang Dunia II yang melanda seluruh dunia.

4. Rasa takut yang fatal layaknya di film horor

cuplikan burung pegar dalam film Bambi
cuplikan burung pegar dalam film Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Salah satu momen kecil, tetapi sangat mengejutkan dalam film Bambi adalah karakter minor yang hanya muncul selama 30 detik di layar. Uniknya, karakter ini memberikan kesan yang mendalam. Pasalnya, selama perburuan, kita bertemu seekor burung pegar yang berjuang melawan serangan panik saat sang penjahat semakin mendekat. Teman-temannya membujuknya agar ia tetap bersembunyi di dedaunan, tetapi rasa takutnya menguasai dirinya.

Ketika burung pegar gak tahan lagi, ia pun melesat pergi. Sesaat kemudian, terdengar suara tembakan. Penonton pun menyaksikan bagaimana bangkai burung pegar jatuh ke tanah. Alhasil, burung-burung lain berhamburan pergi.

Adegan ini membangun dan melepaskan ketegangan dengan sangat apik seperti film horor terbaik. Selain itu, close-up dari karakter yang kehilangan akal sehatnya sama mengerikannya dengan film thriller berperingkat R. Adegan ini juga menunjukkan bagaimana rasa takut bisa membunuh seseorang.

5. Kematian ibu Bambi yang terlalu berat untuk diterima anak-anak

cuplikan kematian ibu Bambi
cuplikan kematian ibu Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Saat seluruh binatang di hutan melarikan diri dari ancaman mematikan manusia, ibu Bambi juga meminta anaknya untuk terus berlari dan tidak boleh menoleh ke belakang. Kita memang gak melihat ibu Bambi jatuh terkena tembakan, tapi suara tembakan memberi tahu kita apa yang telah terjadi sebelum Bambi menyadarinya. Penonton dibiarkan menunggu Bambi menyadari bahwa ibunya telah tiada.

Saat Bambi mengembara sendirian melewati salju yang lebat dan suram sambil memanggil ibunya, ia bertemu dengan ayahnya, pangeran agung hutan, yang menyampaikan kebenaran yang menyedihkan. "Ibumu tidak bisa bersamamu lagi."

Bambi bukanlah satu-satunya protagonis Disney yang kehilangan orangtua, tapi penderitaannya masih terasa dalam kesadaran penontonnya selama beberapa dekade. Mungkin itu adalah perasaan yang realisme dan alamiah. Momen ketika salju lebat turun juga memperburuk kisah ini. Apa pun alasannya, gak bisa disangkal bahwa pembunuhan ibu Bambi bisa memengaruhi mental generasi anak-anak dan orang dewasa. 

6. Perubahan momen yang tiba-tiba dan drastis

cuplikan lagu "Let's Sing a Gay Little Spring Song" dalam film Bambi
cuplikan lagu "Let's Sing a Gay Little Spring Song" dalam film Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Saat Bambi baru kehilangan ibunya, ia menghilang ke hutan bersama ayahnya. Film tersebut langsung beralih ke "Let's Sing a Gay Little Spring Song," sebuah musikal yang menampilkan burung-burung hutan berkicau riang tentang cinta. Melodi ini cukup riang, setelah momen menyedihkan.

Nyanyian yang riang ini setelah adegan kesedihan dan kehilangan memang gak masuk akal. Tapi hal itu juga tanpa sadar menggarisbawahi bahwa hidup harus terus berlanjut di tengah kengerian dan kehilangan. Fakta ini memang penting, tapi kurangnya waktu untuk berduka (bandingkan dengan The Lion King, ketika Simba berjuang setelah kematian ayahnya untuk beberapa waktu) menggarisbawahi intensitas dari apa yang telah direnggut dari Bambi.

7. Bambi punya ayah yang gak bertanggung jawab

cuplikan ayah Bambi
cuplikan ayah Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Mengubah protagonis menjadi yatim piatu adalah taktik standar dalam karya-karya Disney. Sebab, banyak kisah menyedihkan tentang anak-anak kartun dalam Disney yang kehilangan satu atau kedua orangtua mereka. Namun, biasanya, mereka segera menemukan wali yang penyayang untuk melindungi mereka atau mentor yang lucu untuk membimbing mereka.

Sayangnya, Bambi tinggal bersama ayahnya, yang gak jauh lebih baik. Ayahnya disebut Pangeran Agung Hutan karena merupakan pelindung yang mulia dan sosok yang menginspirasi. Sayangnya, sikap ayahnya dingin dan acuh tak acuh. Hal ini membuat Bambi kurang nyaman berada di dekat ayahnya.

Bambi bahkan gak tahu kalau sosok misterius yang mengawasi hutan itu adalah ayahnya sampai pertengahan film. Lebih dari 6 dekade kemudian, Disney merilis Bambi II, sekuel yang melanjutkan kisah film aslinya dan menceritakan bagaimana Pangeran Agung mencari orang lain untuk membesarkan Bambi. Ayah Bambi memilih untuk menjalankan tugas-tugas pentingnya di hutan.

8. Nafsu yang gak terbendung

cuplikan Ronno, Feline, dan Bambi
cuplikan Ronno, Feline, dan Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Banyak cerita anak-anak yang bercerita tentang protagonis muda yang mampu mengatasi rintangan atau mewujudkan impian mereka. Kita semua pasti terinspirasi dengan pesan-pesan yang bilang kalau kita bekerja cukup keras, dan gak gampang putus asa, kita mungkin bisa meraih apa yang kita impikan. Misalnya saja seperti gadis miskin yang menikah dengan pangeran, kutukan yang dipatahkan, boneka menjadi anak laki-laki sungguhan, dan sebagainya. Sayangnya, Bambi bukanlah salah satu dari cerita-cerita itu.

Berkali-kali, kita harus menyaksikan bagaimana Bambi harus pasrah dan tunduk pada kehendak alam semesta yang sepertinya gak peduli padanya. Ambil contoh, adegan di mana Burung Hantu ngasih tahu Bambi, Thumper, dan Flower bahwa mereka bisa saja merasakan jatuh cinta. Ketiga anak muda itu menolak dan bersumpah gak mau merasakan hal tersebut.

Namun, naluri hewan itu muncul, dan ketiganya tergila-gila pada binatang lain yang mereka sukai. Bahkan Bambi bertarung dengan saingannya, Ronno, untuk mendapatkan rusa betina cantik bernama Faline. Namun, hal ini dilandasi oleh kebutuhan biologi, ketimbang adanya sebuah tujuan untuk membangun kisah percintaan yang abadi.

9. Terbakarnya hutan

cuplikan kebakaran hutan dalam film Bambi
cuplikan kebakaran hutan dalam film Bambi (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Penggemar Disney menyukai pertarungan yang seru antara si pahlawan dan penjahat. Adegan ini memancing sorak sorai penonton. Ada duel sihir dalam The Sword in the Stone, Ursula yang tumbuh menjadi raksasa dalam The Little Mermaid, dan transformasi ular Jafar dalam Aladdin.

Namun, Bambi punya akhir yang jauh lebih menakutkan daripada memukau. Manusia kembali dengan sekelompok pemburu, tetapi alih-alih ngasih pahlawannya kesempatan untuk menegakkan keadilan, film ini malah menampilkan kebakaran hutan besar-besaran.

Manusia tetap menjadi antagonis, karena kecerobohannya dengan api unggunlah yang memicu kebakaran tersebut. Namun, api, yang merupakan kekuatan alam itu sendiri, dengan cepat melahap pepohonan. Para pahlawannya nyaris selamat, tetapi pemandangan yang kita kenal sepanjang film justru terbakar habis di sekitar mereka. Adegan ini pun dianggap mengerikan.

10. Siklus kehidupan dalam cerita Bambi

Bambi dan Feline
Bambi dan Feline (dok. Walt Disney Productions/Bambi)

Bambi sepertinya mirip dengan film The Lion King, yang muncul 52 tahun setelah perilisan film Bambi. Keduanya merupakan contoh langkah dari pemeran hewan dalam latar yang sepenuhnya naturalistik. Masing-masing menampilkan adegan pembunuhan orangtua. Nah, kedua cerita tersebut didedikasikan untuk menggambarkan siklus kehidupan.

Baik Bambi maupun The Lion King, keduanya dimulai dengan kelahiran seorang pangeran hewan dan berakhir dengan kenaikan mereka ke takhta. Simba punya akhir cerita yang menggembirakan, ketika musuh-musuhnya dikalahkan. Penonton pun dibuat yakin kalau generasi berikutnya akan hidup jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya. Namun, Bambi gak punya cerita seperti itu. Ia hanya bisa mengawasi pasangan dan anaknya dari kejauhan, sama seperti yang dilakukan ayahnya sendiri.

Yap, semua hewan melanjutkan hidup di bawah bimbingan naluri mereka sendiri. Semua penderitaan dan perjuangan di masa pertumbuhan yang kita saksikan dari mata Bambi akan terus berlanjut dalam siklus tanpa akhir bagi anak-anak dan cucu-cucu mereka. Itulah hukum alam, dan itulah yang membuat Bambi menakutkan sekaligus menakjubkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More