Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Microdrama China Ngetren, Begini Pandangan Netflix dan YouTube
World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • WCCE ke-5 di Jakarta membahas ekonomi kreatif, termasuk tren microdrama China: serial vertikal berdurasi 1–5 menit per episode untuk konsumsi smartphone.
  • Netflix menilai setiap format punya audiens dan strategi sendiri; meski memperhatikan pasar mobile-first, konten vertikalnya saat ini dipakai untuk pemasaran, bukan microdrama.
  • YouTube terbuka terhadap microdrama jika menciptakan nilai bagi kreator, penonton, dan pengiklan, dengan pengembangan yang produktif, aman, berkelanjutan, serta menjaga kreativitas manusia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indonesia menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) ke-5 yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dan perwakilan pemerintah dari berbagai negara di Jakarta. Konferensi ini membahas peran ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan yang lebih inklusif di tengah ketidakpastian global.

Dalam sesi Visions for Creators di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026), Director of Global Affairs Southeast Asia Netflix Ruben Hattari dan Head of Government Affairs and Public Policy YouTube SEA Danny Ardianto turut membahas perkembangan format konten saat ini. Salah satunya adalah microdrama China atau duanju, serial web berdurasi sangat pendek, biasanya sekitar 1–5 menit per episode dengan total 20 hingga 100 episode, yang dirancang untuk format vertikal di smartphone.

1. Netflix melihat setiap format konten punya penontonnya masing-masing

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Ruben Hattari menjadi pembicara pertama yang menanggapi perkembangan microdrama China. Menurutnya, industri hiburan perlu memahami bahwa setiap format memiliki karakteristik dan kelompok penontonnya sendiri.

"Ya, menurut saya kita perlu memikirkan bahwa semua bentuk hiburan memiliki tipe penonton yang berbeda-beda," tegas Ruben.

Ia kemudian menjelaskan bahwa Netflix selama ini memiliki fondasi kuat dalam penyajian konten dengan format horizontal. Format tersebut memungkinkan penonton menikmati film dan serial melalui layar televisi di rumah, baik bersama keluarga maupun secara individu. Namun, perkembangan konsumsi konten melalui perangkat mobile membuat Netflix juga perlu memperhatikan karakteristik pasar yang mobile-first.

"Namun kami (Netflix) juga memahami bahwa kami sedang mempertimbangkan wilayah yang merupakan mobile-first," tegasnya.

Ruben juga melihat perkembangan microdrama di China sebagai salah satu fenomena yang menarik untuk diperhatikan, termasuk karena format serupa mulai berkembang di Indonesia.

"Jika Anda melihat kebangkitan Tiongkok, maksud saya, ada juga platform mikrodrama Indonesia yang juga sedang berkembang," lanjutnya.

2. Netflix sudah menggunakan konten vertikal, tetapi bukan untuk microdrama

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Meski Netflix juga telah menggunakan format vertikal, Ruben menjelaskan bahwa pemanfaatannya sejauh ini memiliki tujuan yang berbeda. Konten vertikal yang tersedia di Netflix pada dasarnya berasal dari materi yang sudah ada dan digunakan untuk kebutuhan pemasaran.

"Netflix memiliki konten vertikal. Namun ini adalah konten vertikal yang kami gunakan dari konten yang sudah ada, yang pada dasarnya digunakan untuk tujuan pemasaran, untuk benar-benar menarik orang agar, 'Hei lihat, konten ini akan segera hadir. Serial musim keempat akan segera hadir. Tolong, Anda bisa menontonnya di layar lebar,'" tegasnya.

Menurut Ruben, perkembangan berbagai format hiburan tidak serta-merta harus dilihat sebagai sesuatu yang harus diikuti oleh setiap platform dengan cara yang sama. Setiap layanan memiliki karakteristik, strategi, serta kebiasaan konsumsi penontonnya masing-masing.

"Jadi, maksud saya, sekali lagi, ada semua jenis format ini. Tapi menurut saya pribadi ini tidak harus dianggap sebagai suatu hal," ucapnya.

3. YouTube terbuka dengan microdrama selama memberikan nilai bagi ekosistem

World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Berbeda dengan Netflix, Danny Ardianto melihat microdrama dari posisi YouTube sebagai platform terbuka. Menurutnya, setiap perkembangan format konten dapat menjadi peluang selama memberikan manfaat bagi berbagai pihak dalam ekosistem.

"Jadi untuk menyederhanakannya, kami (YouTube) memiliki tiga kategori utama pemangku kepentingan di platform kami: pembuat konten, pemirsa, pengiklan. Jadi setiap peluang yang bisa membawa nilai, nilai terbuka bagi semua pihak, dalam hal ini mikrodrama juga, selalu merupakan peluang yang disambut baik," jelas Danny.

Namun, Danny menekankan bahwa peluang tersebut perlu dikembangkan dengan cara yang berkelanjutan, produktif, sekaligus aman. Menurutnya, perkembangan kreativitas digital juga tidak bisa dilepaskan dari sejumlah tantangan, termasuk persoalan hak asasi manusia serta perkembangan AI.

"Di YouTube, kami pasti ingin platform kami menjadi wadah kreativitas manusia. Dan AI adalah alat, tidak untuk menggantikan manusia. Dan tentu saja kami juga mendeteksi jenis konten berbahaya karena sifat platform kami," tambahnya.

Karena itu, YouTube melihat perkembangan format seperti microdrama China sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dijaga keseimbangannya. Kreator mendapatkan ruang untuk bereksperimen, penonton mendapatkan pilihan hiburan baru, sementara pengiklan memiliki peluang untuk menjangkau audiens.

"Jadi semua ini, selama semuanya seimbang sehingga memberikan nilai terbaik bagi semua orang di ekosistem, kami pasti berinvestasi untuk melakukan hal tersebut," tutup Danny.

Curated For You

Editorial Team

Related Article