Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AI dalam Film, Ryan Adriandhy dan Mike Wiluan Tekankan Peran Manusia

4 min read
AI dalam Film, Ryan Adriandhy dan Mike Wiluan Tekankan Peran Manusia
Mike Wiluan dan Ryan Adriandhy saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Jakarta, IDN Times - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai membawa perubahan besar terhadap berbagai sektor industri, termasuk perfilman. Teknologi ini kini dapat digunakan dalam berbagai tahap produksi, mulai dari riset hingga proses pascaproduksi. Selama acara World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026, Ryan Adriandhy dan Mike Wiluan ikut membahas hal tersebut.

Dalam sesi Platforming Creativity Through Our Screen di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026), keduanya membahas bagaimana insan perfilman seharusnya menyikapi perkembangan AI, termasuk peluang sekaligus kekhawatiran yang mengikutinya.

  1. 1. Mike Wiluan sebut AI bisa bantu produksi film, tetapi SDM tetap penting

    Mike Wiluan sebut AI bisa bantu produksi film, tetapi SDM tetap penting.jpg
    Mike Wiluan saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Mike Wiluan menilai perkembangan teknologi tidak bisa hanya diikuti dengan pembangunan infrastruktur. Menurutnya, industri juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami dan mengarahkan teknologi tersebut sesuai kebutuhan kreatif.

    "Kecerdasan buatan (AI) dapat mendukung berbagai tahapan produksi. Mulai dari riset, perencanaan, penyuntingan, efek visual, hingga lokalisasi. Manfaat terbesarnya adalah mengurangi pekerjaan yang bersifat repetitif, sehingga memberikan lebih banyak waktu bagi insan kreatif untuk fokus pada aspek cerita, desain, performa, dan penyutradaraan," ucapnya.

    Karena itu, menurut Mike, kemampuan yang dibutuhkan bukan sekadar mengoperasikan AI. Industri perlu memiliki individu yang mampu mengambil keputusan kreatif sekaligus memahami teknologi yang digunakan.

    "Tujuannya bukan sekadar bekerja lebih cepat, melainkan menghasilkan karya yang lebih baik. Kreativitas, penilaian, dan tujuan manusia lah yang mengubah perangkat canggih menjadi cerita yang bermakna, bisnis yang sukses, serta usaha yang mampu memberikan dampak jangka panjang bagi pengembangan industri ini maupun bangsa kita," tuturnya.

  2. 2. Ryan Adriandhy tegaskan proses kreatif harus tetap dipimpin manusia

    Ryan Adriandhy merasa proses kreatif harus tetap dipimpin manusia.jpg
    Ryan Adriandhy saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Ryan Adriandhy mengamini pandangan Mike mengenai posisi manusia dalam perkembangan teknologi AI. Sutradara Jumbo (2025) dan Na Willa (2026) tersebut menilai teknologi memang dapat memberikan banyak manfaat bagi industri perfilman, terutama dalam memperluas akses terhadap karya.

    "Saya sangat setuju dengan Mike bahwa proses ini harus dipimpin oleh manusia. Teknologi memang telah sangat membantu kita, dan saya yakin akan terus demikian," ujar Ryan.

    Menurut Ryan, teknologi dapat membantu berbagai aspek perfilman, termasuk distribusi, pelestarian film, hingga penyediaan takarir (subtitle). Teknologi juga memungkinkan karya dari Indonesia menjangkau audiens yang sebelumnya sulit dijangkau. Meski menyambut perkembangan AI, Ryan menekankan pentingnya melindungi sumber asli dari sebuah karya.

    "Sebab, ketika kita berbicara tentang cerita, menurut saya cerita bukanlah sekadar data. Cerita bukan sekadar susunan informasi. Mungkin mesin bisa mengenali struktur atau pola sebuah cerita sehingga kita bisa menirunya, tetapi manusia, kita, menjalani hidup dan telah bercerita jauh sebelum teknologi ada," lanjutnya.

    Ryan kemudian menghubungkan hal tersebut dengan berbagai peninggalan manusia dari masa lalu. Candi dengan relief di dindingnya hingga lukisan di gua merupakan bentuk bagaimana manusia meninggalkan cerita berdasarkan pengalaman hidup mereka.

    "Kita menjalani hidup, merasakan malu, kehilangan orang yang dicintai, jatuh cinta, mengalami kesalahpahaman dengan orang tua, atau mungkin menjadi orang tua sendiri," ujarnya.

    Menurut Ryan, pengalaman tersebutlah yang kemudian menjadi sumber lahirnya sebuah cerita. "Saya rasa, dari pengalaman-pengalaman (manusia) itulah cerita mulai muncul. Dan sisi kemanusiaan seperti inilah yang sangat berarti bagi saya," tegasnya.

  3. 3. Mike Wiluan soroti risiko AI terhadap kekayaan intelektual

    Mike Wiluan soroti risiko AI terhadap kekayaan intelektual.jpg
    Mike Wiluan saat bicara dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Jumat (23/10/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

    Di sisi lain, Mike juga tidak menutup mata terhadap kekhawatiran yang muncul seiring semakin luasnya penggunaan AI dalam industri kreatif. Salah satu persoalan terbesar menurutnya adalah bagaimana melindungi kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).

    "Menurut saya, kekhawatiran utama terkait AI adalah risiko tersebarnya kekayaan intelektual (IP) ke dalam sistem AI dan kemudian beredar luas tanpa kendali. Bagaimana cara melindungi kekayaan intelektual? Bagaimana cara melindungi cerita kita?" ujarnya.

    Menurut Mike, pertanyaan tersebut kini tengah dicari jawabannya oleh industri hiburan. Bukan hanya cerita, tetapi juga aktor, suara, serta berbagai proses kreatif perlu dipikirkan perlindungannya di tengah perkembangan teknologi. Untuk saat ini, Mike melihat industri masih berada dalam tahap eksperimen. Yang jelas, menurutnya, teknologi tersebut membuka kemungkinan untuk melakukan berbagai hal yang sebelumnya sulit dilakukan.

    "Hal terpenting dalam cara kita menggunakan teknologi ini sekarang—atau bagaimana kita berencana menggunakannya—adalah bahwa prosesnya tetap digerakkan oleh seniman. Kita tidak membiarkan AI atau teknologi tersebut yang menciptakan karya untuk kita," jelas Mike.

    Prinsip tersebut, lanjut Mike, berlaku dalam berbagai aspek produksi, baik dari sisi penceritaan maupun teknis. AI digunakan sebagai alat untuk membantu mempercepat dan memperdalam proses kerja, sementara keputusan kreatif tetap berada di tangan manusia.

    "Bagaimanapun, kreativitas dan imajinasi manusia adalah sumber kekuatan yang luar biasa. Oleh karena itu, kita harus terus mempertimbangkan hal tersebut saat mengembangkan konten di masa depan," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More