Obsession Jadi Litmus Test karena Sebagian Lelaki Membela Bear

- Obsession karya Curry Barker mengikuti Bear yang memakai jimat One Wish Willow agar Nikki mencintainya, tetapi kutukan itu merampas kendali tubuh dan emosi Nikki.
- Film ini menampilkan Bear sebagai sosok egois yang tetap memanfaatkan Nikki meski mengetahui ia kehilangan otonomi; pembahasan kritikus menyebutnya sebagai kekerasan seksual.
- Ulasan Alex Meyers dikritik karena membela Bear serta mengobjektifikasi Nikki, sehingga dinilai mengulang pola seksualisasi perempuan dan mengabaikan pesan otonomi tubuh.
Sejak dirilis, Obsession garapan Curry Barker tak cuma jadi tontonan horor biasa. Film ini justru berubah jadi semacam tes kepekaan: dari cara penonton merespons karakter Bear dan Nikki, kelihatan siapa yang benar-benar menangkap kritik film ini terhadap budaya incel dan siapa yang malah mengulang pola yang sama.
Fenomena ini semakin kentara ketika sejumlah konten kreator ikut membahas film tersebut di media sosial. Alih-alih menyoroti relasi kuasa yang timpang antara Bear dan Nikki, sebagian dari mereka malah kembali memperlakukan Nikki sebagai objek tontonan, persis pola yang coba dikritik oleh film ini sendiri.
1. Kutukan One Wish Willow yang jadi pangkal masalah

Obsession bercerita soal Baron "Bear" Bailey (Michael Johnston), lelaki canggung yang naksir rekan kerjanya, Nikki Freeman (Inde Navarrette). Alih-alih jujur terkait perasaannya, Bear membeli jimat murahan bernama "One Wish Willow" dan mengucapkan permintaan agar Nikki mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.
Permintaan itu benar-benar terkabul, tetapi dengan cara yang mengerikan. Nikki berubah menjadi sosok yang disebut "Freaky Nikki". Ia posesif, kehilangan kendali atas tubuh dan emosinya sendiri, sampai beberapa kali memohon agar dibunuh saat kesadarannya sempat kembali. Dari titik inilah film mulai menunjukkan wajah aslinya, bukan sebagai kisah cinta yang gagal, melainkan sebagai potret kekerasan terhadap otonomi seseorang.
2. Bear, sosok incel yang dibungkus sebagai hati yang patah

Banyak kritikus menyebut Bear sebagai gambaran incel yang jujur di layar lebar. Ia tampil simpatik di awal, tapi lama-lama terlihat egois dan pengecut, termasuk saat tahu betul kutukannya bekerja dan tetap memilih diam.
Yang bikin film ini rumit adalah Bear terus melakukan kontak fisik dengan Nikki meski tahu Nikki tidak lagi punya kendali penuh atas dirinya sendiri. Sejumlah pembahasan bahkan menegaskan adegan itu sebagai kekerasan seksual, bukan sekadar hubungan asmara yang canggung.
Sutradara Curry Barker sendiri disebut menolak tawaran studio besar yang mensyaratkan Bear dibuat jadi pahlawan, sebuah pilihan kreatif yang menegaskan Bear memang tidak dimaksudkan sebagai korban.
3. Ketika penonton lelaki justru salah paham seperti Alex Meyers

Ironisnya, pesan itu tidak sampai ke semua orang. YouTuber ulasan film, Alex Meyers, sempat mengunggah video berjudul "Obsession is an INSANE movie" yang memicu kritik luas. Alih-alih menyoroti relasi kuasa yang timpang, Meyers malah berulang kali membingkai Bear sebagai "cowok canggung yang naksir cewek" dan cenderung menyebut tindakan Bear sebagai hubungan seksual biasa, bukan pelecehan.
Yang lebih disorot, Meyers juga melontarkan komentar yang mengobjektifikasi dan merasialisasi penampilan fisik Nikki. Videonya lantas dibanjiri kritik dari sesama kreator, hingga akhirnya ia menghapus video ulasan dan video permintaan maafnya sendiri.
Kasus Meyers ini jadi contoh nyata tentang bagaimana sebagian penonton lelaki bisa menonton film yang secara terang-terangan mengkritik seksualisasi perempuan, tapi malah keluar dengan kesimpulan yang justru melakukan hal yang sama.
4. Pesan film yang justru soal otonomi tubuh, bukan romansa gagal

Inti dari Obsession sebetulnya sederhana: mencintai seseorang bukan berarti berhak memiliki tubuh dan pikirannya. Sepanjang film, Nikki digambarkan kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sesuatu yang berulang kali ditampilkan lewat momen-momen sadar sejenak dan ngeri dengan tubuhnya sendiri.
Karena itu, respons seperti yang ditunjukkan Meyers justru membuktikan poin yang coba disampaikan film ini. Ketika sebagian penonton lebih sibuk menilai daya tarik fisik Nikki atau mencari alasan untuk memaafkan Bear, mereka sebenarnya sedang mengulang pola relasi yang dikritik film itu sendiri, yakni menomorduakan otonomi perempuan demi kenyamanan emosional lelaki.
Perdebatan di sekitar Obsession pada akhirnya menunjukkan bahwa sebuah film horor bisa berfungsi lebih dari sekadar hiburan. Cara seseorang menonton dan memaknai Bear serta Nikki, bisa jadi cerminan kecil soal cara pandangnya sendiri terhadap batas, izin, dan otonomi tubuh orang lain.






















