Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Pasang Film Masa SMA untuk Ditonton sebagai Double Feature

5 Pasang Film Masa SMA untuk Ditonton sebagai Double Feature
The Crossing dan It’s A Summer Film! (dok. Wanda Media/The Crossing | dok. Happinet Phantom Studio/It’s A Summer Film!)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti lima pasang film bertema masa SMA dari berbagai negara yang menggambarkan sisi hangat, kelam, hingga penuh dilema kehidupan remaja.
  • Setiap pasangan film menampilkan isu berbeda seperti kreativitas, tekanan ekonomi, krisis identitas, kontrol otoriter di sekolah, hingga kekerasan dan hierarki sosial antar siswa.
  • Melalui rekomendasi ini, penonton diajak memahami bahwa masa SMA bukan sekadar nostalgia manis, tetapi juga fase pencarian jati diri yang kompleks dan penuh tantangan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Masa SMA itu bisa dibilang era yang penuh dilema. Ada kalanya kita merasa tak punya beban, tetapi pada waktu yang sama, kita kadang terjebak dalam situasi sulit karena kebutuhan validasi eksternal. Tak heran, film masa SMA bisa beragam genre dan nuansanya. Ada yang nostalgic, tetapi gak sedikit yang kelam.

Kalau kamu mau dapat gambaran masa SMA yang berimbang, silakan coba tonton lima pasang film berikut ini. Cocok kiranya ditonton sebagai double feature, tetapi siapkan mental dulu, ya.

1. It’s Summer Film! (2020) dan Swing Girls (2004)

It's Summer Film! dan Swing Girls
It's Summer Film! dan Swing Girls (dok. Happinet Phantom Studios/ It's Summer Film! | dok. Toho/Swing Girls)

Mari memulai daftar ini dengan yang hangat dan ringan dulu, Swing Girls dan It’s Summer Film yang sama-sama berasal dari Jepang. Keduanya berkutat pada kegiatan ekstrakurikuler yang membuat masa SMA para tokohnya semakin berwarna.

Dalam Swing Girls, sekelompok anak malas mendadak rajin gara-gara menemukan asyiknya musik jazz. Kalau film kedua mengikuti petualangan siswi pencinta film yang beraspirasi bikin film samurai sendiri. Ia berhasil menyakinkan seorang pemuda sebayanya untuk menjadi aktor utama filmnya, tetapi sang aktor ini justru membeberkan sebuah fakta mencengangkan yang susah dipercaya.

2. Bad Genius (2017) dan The Crossing (2018)

Bad Genius dan The Crossing
Bad Genius dan The Crossing (dok. GDH 559/Bad Genius | dok. Wanda Media/The Crossing)

Dirilis berdekatan, Bad Genius dan The Crossing adalah potret anak-anak SMA yang karena butuh uang nekat melakukan aksi kriminal. Bad Genius berlakonkan seorang bocah pintar dari kelas bawah yang menawarkan jasa joki ujian terorganisir untuk anak-anak kaya.

The Crossing di sisi lain bicara tentang siswi SMA asal China daratan yang setiap hari melintasi perbatasan dengan Hong Kong untuk sekolah. Di situlah, ia menemukan celah untuk menjalankan bisnis ilegal yang harapannya bisa membiayai ambisi-ambisi pribadinya.

3. Better Days (2019) dan Made in Hong Kong (1997)

Better Days dan Made in Hong Kong
Better Days dan Made in Hong Kong (dok. Well Go USA Entertainment/Better Days | dok. Nicetop Independent/Made in Hong Kong)

Siapa bilang krisis eksistensialisme hanya menghantui orang dewasa. Anak-anak remaja yang tak punya support system memadai punya indikasi mengalaminya, lho. Seperti yang terjadi pada para protagonis di dua film Asia masa SMA, Better Days dan Made in Hong Kong.

Film pertama mempertemukan dua remaja di China yang ditelantarkan oleh orangtuanya karena beberapa hal dan akhirnya membentuk koneksi. Di film kedua, kamu akan kembali ke Hong Kong tahun 1997 yang dilanda krisis ekonomi dan secara tak langsung memengaruhi kondisi mental anak-anak muda dalam derajat yang beragam, tetapi cukup mengkhawatirkan.

4. Happyend (2024) dan The Wave (2008)

Happyend dan The Wave
Happyend dan The Wave (dok. Magnify/Happyend | dok. Rat Pack Filmproduktion/The Wave)

Happyend and The Wave adalah sebuah simulasi kepemimpinan otoriter yang dimulai dalam skala kecil, yakni sekolah. Happyend berlatarkan sebuah SMA di Jepang yang setelah sebuah insiden memutuskan untuk melakukan pengawasan ketat terhadap murid-muridnya. Itu termasuk memasang CCTV yang bisa mendeteksi wajah di berbagai sudut sekolah.

Dalam The Wave, seorang guru ingin membuktikan kepada murid-muridnya betapa mudahnya sebuah negara menjadi otoriter dalam waktu singkat. Ia mulai dengan hal sepele, tetapi tanpa disadari kebiasaan itu meluas dan berkembang menjadi sebuah sistem yang susah diubah.

5. Evil (2003) dan Once Upon a Time in High School (2004)

Evil dan Once Upon a Time in High School
Evil dan Once Upon a Time in High School (dok. Nordisk Film Production/Evil | dok. CJ Entertainment/Once Upon a Time In High School)

Hierarki juga bisa terbentuk di sekolah, seperti yang didemonstrasikan oleh dua film masa SMA asal Swedia dan Korsel ini. Premis Evil dimulai dengan kepindahan seorang bocah bandel ke sekolah asrama yang ternyata membuatnya harus beradaptasi dengan hierarki yang dibentuk oleh sekelompok anak terkuat di sana.

Lanjut dengan nonton Once Upon a Time in High School, kisah seorang murid pindahan yang dikejutkan dengan tatanan brutal di sekolah barunya. Guru-guru kasar dan geng-geng anak bandel menjadi kombinasi mematikan yang memaksanya untuk memutar otak agar bisa tetap aman.

Mungkin pengalaman SMA kamu tidak seeksterem yang dipotret dalam film, tetapi bolehlah kita mengamini bahwa gak semua orang menikmati masa sekolah dengan tenang. Nyatanya, usia-usia remaja memang penuh dengan dilema. Era itu juga menandai proses evolusi panjang dalam hidup seseorang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More