5 Pasang Film Double Feature tentang Menerima Diri Sendiri

Sedang berjuang menerima kekurangan dan kemalangan diri sendiri? Bersabar mungkin jadi nasihat paling memuakkan dan klise yang kamu dengar sekarang. Sebagai gantinya, mending kamu nonton film dengan tema penerimaan diri sendiri saja.
Ini mungkin bisa jadi jalan terefektif untuk setidaknya meredakan rasa tak nyaman. Ada setidaknya sepuluh judul menarik yang bisa kamu tonton sebagai double feature. Datang dari beragam era dan negara, masalahnya tak harus persis dengan isu personalmu, tetapi relevansinya tetap dapat. Coba sekarang!
1. Waterboys (2001) dan Swing Girls (2004)

Waterboys dan Swing Girls sama-sama film komedi anak sekolahan Jepang yang bakal bikin harimu semarak. Keduanya membahas sekelompok murid yang menemukan minat di bidang yang sebenanya tak mereka kuasai pada awalnya. Keterlibatan mereka bahkan karena ketidaksengajaan.
Waterboys mengikuti beberapa anak laki-laki yang terpaksa menggantikan tim renang indah sekolah mereka. Swing Girls pun begitu, sekelompok anak malas harus menggantikan tim drum band dan orkestra sekolah karena sebuah insiden yang tak sengaja mereka lakukan. Awalnya canggung dan susah, tetapi lama-kelamaan mereka menemukan kenyamaan, kepercayaan diri, dan penerimaan.
2. Liquor Store Dreams (2022) dan Didi (2024)

Jadi imigran itu pengalaman yang unik, tetapi juga menantang. Hal ini yang dibahas dalam dua film Didi dan Liquor Store Dreams. Keduanya berlatar Amerika Serikat dan memotret kehidupan anak yang lahir dari orangtua imigran asal Asia.
Didi mengikuti kehidupan remaja laki-laki dari keluarga imigran Taiwan yang jadi bulan-bulanan di sekolah karena latar belakang dan penampilan fisiknya. Mirip dengan itu, Liquor Store Dreams adalah film dokumenter yang memotret dilema anak imigran Korea yang orangtuanya membuka bisnis skala kecil di Los Angeles yang warganya beragam, tetapi tetap tersegregasi.
3. Kokuho (2025) dan Hedwig and the Angry Inch (2001)

Kokuho jadi salah satu film yang mencuri perhatian pada 2025. Meski menyenggol eksistensi yakuza, film itu sebenarnya fokus kepada proses penemuan jati diri Kikuo (Ryo Yoshizawa). Ia pemuda yang lahir dari klan yakuza, tetapi dibesarkan seniman kabuki. Seiring bertambahnya usia, Kikuo mulai dihadapkan pada dilema antara kembali kepada keluarga yakuzanya atau memilih jalan yang selama ini lebih dikenalnya, yakni seni.
Lanjut dengan nonton Hedwig and the Angry Inch. Lebih berat di komedi, film klasik ini juga mengekspos dilema yang dirasakan seorang pria asal Jerman. Ia melakoni operasi transgender untuk bisa bermigrasi ke AS guna meraih mimpinya jadi musisi.
4. Sound of Metal (2019) dan The Way We Talk (2024)

Hidup itu kadang monoton, kadang diisi gebrakan. Itu salah satu hal yang diangkat film Sound of Metal ketika si lakon yang seorang musisi harus kehilangan pendengarannya secara mendadak. Dunianya runtuh seketika, tetapi ia beruntung dikelilingi orang yang suportif. Namun, tak bisa dimungkiri, dorongan untuk memberontak dan memperbaiki sesuatu yang ia anggap rusak dari dirinya belum pudar.
Tonton film itu bersama film The Way We Talk. Bergenre melodrama, film ini juga memakai perspektif seseorang dengan isu pendengaran yang memutuskan melakoni implan koklea telinga. Namun, pertemuannya dengan seorang ahli bahasa isyarat membuatnya berada dalam dilema.
5. Tokyo Fist (1995) dan Anna Magdalena (1998)

Kadang momen menerima diri sendiri itu terjadi saat kamu jatuh cinta dan patah hati. Ini yang dijelajahi dua film Asia 1990-an, Tokyo Fist dan Anna Magdalena. Mereka dikemas dengan trope cinta segitiga dengan salah satu jadi korban cinta bertepuk sebelah tangan.
Dari momen patah itulah mereka justru mulai bisa menemukan kepercayaan diri. Dalam Tokyo Fist, seorang pegawai kantoran nekat melakukan transformasi gila-gilaan untuk jadi petinju demi mempertahankan cinta tunangannya. Sementara, Anna Magdalena menyoal seorang pria pemalu yang akhirnya menemukan medium ekspresinya, yakni menulis setelah tahu kalau cintanya tak berbalas.
Proses menerima diri sendiri memang berbeda-beda. Tiap pengalaman manusia itu unik. Ia tak bisa diseragamkan, tetapi tujuan akhirnya sama, yakni merasa nyaman dan damai dengan diri sendiri, tak lagi disetir kebutuhan akan validasi eksternal. Lima pasang film di atas boleh jadi bisa membantumu mengatasi krisis itu.


















