The Bride! (dok. Warner Bros. Pictures/The Bride!)
Dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly (6/3/2026), Maggie Gyllenhaal menjelaskan bahwa adegan akhir film memang sengaja dibuat terbuka. Menurutnya, Dr. Euphronius melakukan sesuatu yang sangat radikal di akhir cerita.
"Dia melakukan sesuatu yang ikonoklastik, radikal, melawan arus. Seharusnya dia tidak melakukannya, tetapi dia tetap melakukannya. Dan itulah yang mengakhiri film ini," jelas Gyllenhaal.
Ia juga menambahkan bahwa kebangkitan kembali Frank dan Sang Pengantin tidak serta-merta berarti akhir yang bahagia. Dalam logika cerita yang dibangun film, Sang Pengantin bahkan tidak memiliki ingatan jelas tentang masa lalunya saat pertama kali dihidupkan.
"Mungkin salah satu dari mereka memiliki ingatan, sementara yang lain tidak. Mereka bahkan mungkin tidak saling mengenal lagi. Apakah itu akhir yang bahagia? Tidak ada yang tahu," lanjutnya.
Meski begitu, Gyllenhaal tetap melihat ending film ini dari sudut pandang yang optimistis. Baginya, momen paling penting justru adalah solidaritas para perempuan dalam cerita.
"Hal yang paling menggembirakan di akhir film ini adalah Mary Shelley, Myrna, Greta, Dr. Euphronius, semua perempuan ini bersatu untuk menghidupkan kembali perempuan lain," ungkap kakak Jake Gyllenhaal ini.
Ia juga menyoroti adegan tengah kredit sebagai pesan penting bahwa siklus kekerasan tidak harus selalu dibalas dengan kekerasan yang lebih besar.
"Saya suka saat para wanita di akhir cerita bersama Lupino. Dia memang mendapatkan balasan setimpal, tetapi mereka tidak membunuhnya. Mereka hanya menato wajahnya seperti Sang Pengantin. Ini bukan kekerasan yang melanggengkan kekerasan yang lebih besar," tutup sang sutradara.
Itulah penjelasan ending The Bride! (2026). Dengan lapisan cerita tentang cinta, balas dendam, hingga solidaritas perempuan, film ini memang memberikan banyak ruang bagi penonton untuk menafsirkan maknanya sendiri. Jadi, gimana menurutmu soal akhir kisah Sang Pengantin dan Frank?