5 Perbedaan Film Dokumenter dan Film Fiksi, Biar Gak Keliru!

- Film dokumenter bertujuan merekam fakta, realitas, dan kebenaran untuk edukasi, arsip sejarah, atau kritik; film fiksi mengutamakan hiburan melalui imajinasi, meski kisah nyata dapat didramatisasi.
- Dokumenter bersandar pada penelitian, wawancara, dokumen, serta saksi atau ahli dengan respons spontan; film fiksi memakai skenario dan aktor profesional untuk membangun karakter, emosi, serta konflik.
- Produksi dokumenter fleksibel mengikuti situasi lapangan dan dirangkai lewat penyuntingan, sedangkan fiksi direncanakan ketat. Dokumenter dapat mendorong advokasi, sementara fiksi memengaruhi tren budaya dan gaya hidup.
Dunia sinema memiliki beragam jenis karya yang penikmatannya bisa sangat berbeda. Dua diantaranya yang sering kita dengan adalah film fiksi dan dokumenter. Meski sama-sama berbentuk film, tapi keduanya punya aspek yang berbeda.
Sebagain orang mungkin sudah paham jika film dokumenter berisi tentang kejadian nyata, sementara film fiksi sebaliknya. Namun, ada perbedaan lain dari dua jenis karya tersebut. Apa saja? Simak penjelasannya di bawah ini!
1. Tujuan

Film K-Pops (x.com/NetflixJP) Perbedaan pertama yang bisa dilihat adalah dari tujuannya. Film dokumenter diproduksi dengan niat merekam fakta, realitas, serta menyampaikan kebenaran tentang suatu peristiwa, tokoh, atau fenomena sosial tertentu. Oleh sebab itu, film dokumenter bisa dijadikan sebagai media edukasi, pengarsipan sejarah, dan penyampaian kritik.
Kalau film dokumenter menyajikan fakta, berbeda dengan film fiksi yang ditunjukkan sebagai hiburan. Sebab, film fiksi bersumber dari imajinasi, karangan, atau penulisan kreatif sang pengarang. Meski sebagian film fiksi ada yang diangkat dari kisah nyata, tapi biasanya akan mengalami banyak penyesuaian dan dramatisasi.

film dokumenter Going Viral: Beyond the Hot Zone (x.com/DisneyPlusID) Perbedaan yang paling fundamental terletak pada asal-usul ide ceritanya. Film dokumenter murni bersumber dari fakta, data dari kejadian nyata. Semua data didapat dari penelitian dan perekaman, seperti wawancara, dokumen, hingga footage sejarah.
Sementara film fiksi didapat dari imajinasi atau karangan sang penulis. Oleh sebab itu, film fiksi memiliki elemen dramatis untuk menciptakan pengalaman bebeda. Pembentukan konflik yang dramatis juga sengaja dibuat demi menjaga tempo ketegangan dan estetika struktur narasi.
3. Pemilihan pemeran

Film Call (instagram.com/ssinz7) Karena sumber cerita berdasarkan fakta, maka film dokumenter tidak memerlukan aktor profesional. Orang-orang yang tampil di dalamnya adalah mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa. Mereka biasanya saksi mata atau ahli yang kompeten di bidangnya.
Ekspresi, dialog, dan tindakan yang mereka tampilkan juga tidak berdasarkan naskah, melainkan bersifat spontan. Gaya visual dokumenter juga cenderung sederhana dan natural karena minim editan.
Sementara film fiksi membutuhkan aktor profesional untuk menghidupkan karakter di dalamnya. Para aktor akan berakting sesuai dengan interpretasi skenario yang dibuat oleh sutradara. Pendalaman emosi, gestur, dan seni akting dari para pemeran jadi bagian yang sangat penting.
4. Teknik produksi

film dokumenter The Last Repair Shop (x.com/DisneyPlusID) Selanjutnya, tekni produksi film dokumenter dan film fiksi juga cukup berbeda. Untuk menjaga urutan fakta dan alur informasi, narasi disusun berdasarkan rekaman arsip dan wawancara subjek utama. Teknik produksi film dokumenter menuntut fleksibilitas.
Dimana tim produksi harus jeli untuk merekam situasi di lapangan yang spontan serta tidak terprediksi. Kreativitas film dokumen terletak pada menyusun ribuan klip visual dan wawancara pada tahap penyuntingan.
Sementara film fiksi berpatokan pada skenario ketat dan perencanaan skema syuting yang presisi. Karena menekankan estetika, semua aspek seperti set, pencahayaan, hingga efek visual, ditata dengan matang. Teknik yang biasanya sering digunakan adalah montage, cross-cutting, hingga slow motion.
5. Dampak sosial dan budaya

film Arrival (instagram.com/arrivalmovie) Dampak yang dihasilkan film dokumenter cenderung bersifat lebih nyata dan langsung menyasar pada kehidupan sehari-hari. Lewat film dokumenter penonton bisa mengambil pelajaran penting di dalamnya. Bahkan tak jarang bisa dijadikan alat advokasi untuk mengubah kebijakan publik.
Di sisi lain, film fiksi memberikan dampak pada hal tren gaya hidup dan budaya. Karakter ikonik, dialog populer, serta tren busana dari film fiksi bisa terserap menjadi identitas budaya masyarakat. Sebab, film fiksi memiliki daya jangkau emosional yang bisa menyentuh emosi dan membentuk perubahan.
Sebagian orang mungkin menikmati tontonan hanya sebatas duduk manis dan mengikuti alur. Padahal setiap jenis film dibuat dengan cara berbeda menyesuaikan tujuannya. Kalau kamu lebih suka film dokumenter atau fiksi?




















