Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kenapa Supergirl Membunuh Krem of the Yellow Hils?

Kenapa Supergirl Membunuh Krem of the Yellow Hils?
Supergirl dan Krem of the Yellow Hills (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)
Intinya Sih
  • Film Supergirl (2026) menampilkan Milly Alcock sebagai Kara Zor-El yang membunuh Krem of the Yellow Hills, memicu perdebatan karena ending-nya berbeda dari versi komik.
  • Tindakan Kara didorong oleh dendam atas racunnya terhadap Krypto dan empati pada Ruthye, korban kebrutalan Krem yang kehilangan keluarganya.
  • Keputusan Supergirl membunuh Krem menegaskan perbedaan moralnya dengan Superman serta menggambarkan dirinya sebagai pahlawan impulsif yang berpegang pada kode etik pribadi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Artikel ini mengandung spoiler bagi yang belum menonton Supergirl!

Sang Girl of Steel kembali menghiasi layar lebar lewat film Supergirl (2026) dengan menggaet Milly Alcock, aktris Australia yang pernah naik daun berkat serial House of the Dragon, sebagai bintang utamanya. Film ini sekaligus menjadi entri kedua dalam semesta DC Universe (DCU) setelah Superman (2025). Adapun, Supergirl disutradarai oleh Craig Gillespie berdasarkan naskah yang ditulis oleh Ana Nogueira.

Terlepas dari performanya yang terseok-seok di box office, Supergirl tengah menjadi bahan perbincangan karena ending-nya yang menuai polemik. Pasalnya, Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock) diperlihatkan membunuh Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts) dengan menusukkan pedang ke perut dan tenggorokannya.

Jika dicermati secara mendalam, sebenarnya terdapat sejumlah alasan menarik yang melatarbelakangi sang Girl of Steel untuk mengakhiri hidup Krem pada akhir Supergirl.

1. Krem adalah pelaku yang meracuni Krypto, anjing kesayangan Supergirl

pertemuan pertama Kara dengan Krypto
pertemuan pertama Kara dengan Krypto (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Seekor anjing putih bernama Krypto yang menemani duo Kryptonian di DCU sebenarnya merupakan peliharaan Kara Zor-El, bukan Kal-El alias Superman (David Corenswet), seperti dalam versi komiknya. Kara dan Krypto pertama kali bertemu di Argo City, sebuah kepingan kota Krypton yang selamat dari kehancuran. Makanya, tak heran jika Supergirl menyajikan dinamika yang hangat antara sang Girl of Steel dan Krypto yang sukses menjadi salah satu daya tarik utama film ini.

Semuanya berubah menjadi malapetaka tatkala Krem of the Yellow Hills bersama pasukan perompaknya, Brigands, mencoba mencuri kapal Kara. Berusaha menghentikannya, Krypto justru terkena panah beracun yang hanya dapat disembuhkan dengan penawar milik Krem. Insiden tersebut mendorong Kara untuk bertualang melintasi galaksi bersama Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley) untuk merebut penawar dari Krem sebelum racun itu merenggut nyawa anjing kesayangannya.

2. Supergirl berempati pada Ruthye yang menjadi korban Krem

Eve Ridley sebagai Ruthye
Eve Ridley sebagai Ruthye (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Sebelum Krypto, Ruthye-lah yang pernah merasakan kebrutalan Krem of the Yellow Hills. Pada awal Supergirl, kita diperlihatkan peristiwa mengerikan ketika Krem menghabisi keluarga Ruthye tepat di depan matanya. Melihat kejadian tersebut, Ruthye bersumpah membalas dendam dengan membunuh Krem menggunakan pedang yang ditempa oleh ayahnya sendiri.

Ruthye sebenarnya menemukan kesempatan untuk menghabisi Krem setelah pertarungan klimaks yang epik antara dirinya dan Kara melawan Krem beserta pasukan Brigands. Sebelum menghunuskan pedangnya, Kara mencoba untuk mengingatkan bahwa balas dendam tidak akan menghapus trauma yang telah dia alami.

Nasihat Kara sebenarnya berhasil membuat Ruthye mengurungkan niatnya sebelum sang Girl of Steel mengambil pedang dari tangan Ruthye dan menggunakannya untuk menghabisi Krem sambil berkata, "This is for my dog, and this is for what you did to that little girl."

3. Krem adalah ancaman tingkat galaksi yang tak bisa dibiarkan hidup

Matthias Schoenaerts sebagai Krem of the Yellow Hills
Matthias Schoenaerts sebagai Krem of the Yellow Hills (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Krem of the Yellow Hills yang kita lihat dalam Supergirl sebenarnya memiliki perbedaan yang sangat mencolok dibandingkan dengan versi komiknya yang berjudul Supergirl: Woman of Tomorrow (2021—2022). Dalam komik tersebut, Krem digambarkan sebagai prajurit berjanggut merah dengan penampilan yang terinspirasi dari nuansa fantasi abad pertengahan. Sedangkan, Krem dalam Supergirl tampil berkepala botak, memiliki satu kepang panjang, serta dihiasi ornamen logam di wajahnya.

Walaupun keduanya merupakan seorang perompak, Supergirl menggambarkan Krem sebagai sosok yang jauh lebih kejam dan tidak manusiawi dibandingkan Supergirl: Woman of Tomorrow. Pasalnya, sang antagonis utama dalam film ini dimunculkan sebagai dalang di balik pembunuhan, penjarahan, serta penculikan perempuan untuk diperdagangkan dan dieksploitasi. Dengan begini, keputusan Kara untuk membunuh Krem terasa masuk akal karena dianggap sebagai cara untuk menghentikan kekejaman Krem dan mencegah lebih banyak korban berjatuhan.

4. Keputusan Supergirl menegaskan perbedaannya dengan Superman

Supergirl dan Superman
Supergirl dan Superman (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

DCU tampaknya mencoba membuat perbedaan yang kontras antara Supergirl dan Superman. Berbeda dengan sepupunya yang kompas moralnya banyak terbentuk karena dibesarkan di Bumi, Supergirl masih berusaha membentuk kompas moral versi dirinya sendiri. Selain itu, pengalaman hidup Kara ketika melihat penderitaan warga Krypton sejak kecil membuatnya berkembang menjadi pribadi yang menyimpan trauma dan masih terus meraba jati diri.

Supergirl berusaha mengembalikan sosok Kara Zor-El ke akarnya dalam komik, yaitu seorang Kryptonian yang impulsif dan emosional, tetapi tetap berusaha untuk menjadi pahlawan terbaik versi dirinya sendiri. Superman mungkin masih akan memberi kesempatan kepada Krem, tetapi tidak bagi Kara. Tindakan membunuh Krem bukanlah menunjukkan jika Kara adalah pembunuh berdarah dingin, melainkan mencerminkan kompas moral dan kode etik yang lebih ekstrem ketimbang sepupunya.

"Dia harus mendefinisikan dirinya secara berbeda dari Superman. Dia harus mengatakan, 'Aku punya moralitasku sendiri. Aku punya rasa kebaikan sendiri, dan sebenarnya, kemampuanku untuk membedakan kapan aku akan menyingkirkan seseorang adalah kekuatan yang kumiliki. Aku tidak punya aturan seperti yang kau miliki. Aku punya pedomanku sendiri, dan aku tahu ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Dan fakta bahwa aku telah melalui semuanya memberiku kemampuan untuk melakukan ini,'" ujar Ana Nogueira, dikutip Entertainment Weekly.

5. Perombakan ending Supergirl memicu perdebatan di kalangan fans DC

Milly Alcock sebagai Supergirl
Milly Alcock sebagai Supergirl (dok. Warner Bros. Pictures/Supergirl)

Perubahan ending dalam Supergirl menuai reaksi yang campur aduk, khususnya dari fans yang telah membaca Supergirl: Woman of Tomorrow karya Tom King dan Bilquis Evely. Sejumlah fans menilai kalau ending ini menghilangkan pesan utama komiknya yang menekankan pentingnya pengampunan dan keadilan melalui sistem. Karena ending tersebut, Supergirl dianggap terlalu menyederhanakan konflik dan memberi kesan bahwa membunuh merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri rantai kejahatan.

Meski begitu, tak sedikit fans yang mendukung keputusan Kara untuk menghabisi Krem di tempat. Selain mempertegas perbedaannya dengan Superman, keputusan ini dinilai masuk akal mengingat perubahan Krem dari komik yang menjadikannya pelaku berbagai kejahatan berat. Keputusan Kara juga menunjukkan kalau dia sebenarnya berusaha menjadi pahlawan dengan melindungi Ruthye dari siklus balas dendam sekaligus mencegahnya menanggung beban emosional atas kematian Krem.

Supergirl sekilas membuat sang Girl of Steel tampak seperti seorang antihero, yaitu pahlawan yang rela menempuh cara-cara kejam demi mendapatkan keadilan. Namun, justru di situlah letak keunikannya. Alih-alih menghadirkannya sebagai superhero perempuan yang sempurna dan klise, DCU memilih menampilkan Supergirl sebagai sosok yang berusaha menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa bergantung pada bayang-bayang nama besar maupun warisan Superman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman

Related Articles

See More