Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Perjuangan Member MARBLES demi Kejar Mimpi Jadi Idol, Training 3 Tahun
potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Tiffany, Bebe, Kyka, Quilla, dan Daniella menjalani sekitar tiga tahun training sebelum debut pada 12 Juni 2026, sambil menghadapi tantangan pendidikan dan perpindahan kota.
  • Dukungan keluarga serta orang terdekat membantu para member mengambil keputusan besar, termasuk homeschooling, meninggalkan sekolah seni, dan membuktikan komitmen terhadap pendidikan.
  • Setelah debut, MARBLES tetap menjalani latihan intensif di tengah promosi dan ekspektasi publik; Kyka menyebut tekanan mental setelah debut terasa lebih berat dibanding masa training.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menjadi idol tidak hanya tentang berdiri di atas panggung dan tampil di hadapan banyak orang. Ada proses panjang yang harus dilewati sebelum kesempatan tersebut datang, mulai dari menjalani latihan intensif, mengembangkan kemampuan, hingga membuat sejumlah keputusan besar dalam hidup.

Hal tersebut pun juga dirasakan oleh member MARBLES, yakni Tiffany, Bebe, Kyka, Quilla, dan Daniella. Sebelum resmi debut pada 12 Juni 2026, kelima member MARBLES tersebut harus melewati proses training selama kurang lebih tiga tahun. Perjalanan tersebut tentu tak selalu mudah, terutama karena mereka masih harus menyelesaikan pendidikan di tengah kesibukan sebagai trainee.

Dalam media visit di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026), para member MARBLES berbagi cerita tentang perjalanan mereka selama menjalani training. Mereka terlihat cukup emosional saat mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi, mulai dari membagi waktu dengan sekolah, meyakinkan keluarga, hingga meninggalkan aktivitas yang sebelumnya mereka tekuni demi mengejar mimpi menjadi idol.

1. Perjuangan MARBLES jalani training selama 3 tahun

potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Perjalanan MARBLES menuju debutnya ternyata membutuhkan waktu yang cukup panjang, lho. Kepada IDN Times, Tiffany, leader MARBLES menjelaskan bahwa proses tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, terhitung sejak tahap audisi hingga pengembangan lagu.

Selama periode tersebut, beberapa member pun masih harus menjalani pendidikan formal, termasuk Kyka. Ia mengaku sempat bersekolah reguler hingga kelas XI sebelum akhirnya beralih ke homeschooling karena kesulitan membagi waktu dengan aktivitas training yang semakin padat. Perjuangan serupa juga dirasakan Bebe. Saat duduk di kelas XI, ia harus rela bolak-balik Surabaya–Jakarta setiap akhir pekan demi tetap bisa menyelesaikan sekolah sekaligus mengikuti training, lho.

“Kalau aku kelas XI itu sambil menyelesaikan sekolah di Surabaya. Aku bolak-balik ke Jakarta setiap weekend. Setelah kelas XI selesai, aku pindah homeschooling dan sekalian pindah ke Jakarta,” kata Bebe sambil tersenyum mengingat perjuangannya demi mengejar mimpi menjadi idol.

Cukup berbeda dari Daniella yang memang tinggal di Jakarta dan sudah menjalani homeschooling atas izin orangtuanya, Quilla justru sempat dihadapkan pada pilihan sulit antara melanjutkan pendidikan seni di Yogyakarta atau pindah ke Jakarta untuk mengikuti training. Saat menceritakan pengalaman tersebut, sorot mata Quilla pun tampak berkaca-kaca. Ia mengaku cukup berat meninggalkan keinginannya untuk mendalami budaya dan tari klasik Yogyakarta melalui sekolah seni yang sebelumnya sudah ia pilih.

“Jadi aku nangis berat buat memutuskan harus pilih salah satu,” kata Quilla dengan nada emosional.

Sedangkan Tiffany memang sudah menjalani homeschooling. Ia mengaku sempat tinggal di luar negeri sebelum akhirnya kembali ke Indonesia. Karena sudah terbiasa merantau, Tiffany yang berasal dari Surabaya tidak merasa menghadapi kesulitan ketika harus berpindah lagi untuk mengejar kesempatan di industri hiburan.

“Aku memang sudah homeschooling, soalnya kebetulan aku sempat tinggal di luar negeri dan balik ke Indonesia. Jadi ya udah, lumayan dari dulu sempat merantau, dan merantau lagi ke Jakarta,” kata sang leader.

2. Keluarga jadi support system terbesar

potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Meski memiliki perjalanan yang tidak sama, dukungan dari orang-orang terdekat, terutama keluarga, menjadi bekal penting yang membuat mereka berani mengambil kesempatan untuk mengejar mimpi menjadi idol. Dalam media visit yang berlangsung sekitar 40 menit, Kyka mengungkapkan, dunia musik sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil. Ia mengaku sudah bernyanyi sejak berusia lima tahun dan mulai menekuni dance ketika beranjak remaja. Ketertarikannya tersebut pun juga membawanya mengikuti berbagai kompetisi dance, termasuk World of Dance di Jepang, Los Angeles, dan Indonesia.

Namun, meski sudah memiliki mimpi untuk berkarier di industri musik, perjalanan Kyka ternyata tidak selalu mudah. Lahir di keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan akademis membuatnya harus pintar-pintar membagi waktu antara sekolah dan passion-nya di bidang seni. Ia juga harus membuktikan ke keluarganya bahwa kesibukan menjalani training tidak akan membuat pendidikannya terbengkalai.

Kyka bahkan membutuhkan sedikit waktu untuk meyakinkan keluarganya agar mendapatkan izin menjalani homeschooling dan lebih fokus mengejar impiannya. Dengan mata berkaca-kaca, Kyka mengungkapkan bahwa keluarganya sebenarnya memberikan dukungan, tapi tetap memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi.

“Karena aku lahir di keluarga yang sangat akademik, ketika awal mulai itu agak susah membagi waktu dan mendapatkan kepercayaan. Jadi aku tetap harus bisa sekolah, nilainya harus bagus. Tapi akhirnya setelah dua tahun, aku berhasil meyakinkan mereka buat homeschooling dan bisa fokus ke jalur ini aja,” kata Kyka.

Perjalanan berbeda dimiliki Tiffany yang sejak kecil sudah menekuni berbagai jenis tarian, mulai dari balet hingga hip-hop. Dengan nada antusias, Tiffany menceritakan bahwa ia pernah mengikuti sejumlah kompetisi dance, baik di dalam dan luar negeri, termasuk Kejuaraan Nasional serta kompetisi tari internasional, lho.

Menurut Tiffany, kesempatan bergabung dengan MARBLES ini bermula ketika ia mengikuti kegiatan dance bersama Bebe di sekolah. Saat itu, keduanya tampil dalam sebuah kompetisi antarsekolah hingga akhirnya menarik perhatian staf yang kemudian melakukan scouting. Meski begitu, Tiffany tidak langsung mengambil kesempatan tersebut. Ia sempat mempertimbangkan keputusannya, menjalani homeschooling, dan belajar di luar negeri sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk bergabung.

“Waktu SMP aku ikut dance sama Bev, kita dulu satu sekolah. Di sekolah, kita berdua barengan di acara lomba sekolah, terus ada staf yang datang dan scout kita berdua. Mungkin waktu itu memang Bev lebih duluan masuk. Aku masih mempertimbangkan. Aku sempat homeschooling, aku belajar di luar negeri, terus setelah balik ke Indonesia, baru masuk ke sini.”

Quilla juga sudah mengenal dunia seni sejak kecil. Ia bahkan pernah menjadi talent sekaligus dancer di Cabaret Show Yogyakarta dan sempat menempuh pendidikan di SMK jurusan seni tari. Hingga, kesempatan mengikuti training di Jakarta membuatnya dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit.

Beruntung, Quilla mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Ia bercerita bahkan para seniornya di Cabaret Show juga mendorongnya untuk mengambil kesempatan tersebut agar bisa mendapatkan pengalaman yang lebih luas.

Perjalanan Daniella untuk bergabung dengan MARBLES juga gak kalah menarik karena datang secara tidak terduga ketika ia sedang bersantai sambil scrolling Instagram. Dengan nada antusias, Daniella menceritakan bahwa saat itu, ia menemukan informasi terkait audisi dan akhirnya memutuskan untuk mencoba karena merasa memiliki kemampuan bernyanyi dan menari. Apalagi, ia juga mendapat dukungan penuh dari orangtuanya.

“Waktu itu aku lagi gabut gitu, kan. I can sing, I can dance. Why not?” cerita Daniella.

Pada akhirnya, perjalanan kelima member MARBLES menunjukkan bahwa mengejar mimpi tidak selalu harus dilakukan sendirian. Di balik keputusan besar yang mereka ambil, ada keluarga dan orang-orang terdekat yang turut memberikan dukungan.

3. Debut bukan akhir perjuangan, MARBLES tetap harus latihan intens

potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Setelah menjalani training selama kurang lebih tiga tahun, debut tentu menjadi salah satu momen yang paling dinantikan oleh para anggota MARBLES. Namun, sambil tertawa kecil, Tiffany mengungkapkan bahwa ekspektasinya tentang kehidupan setelah debut ternyata sedikit berbeda dari kenyataan. Ia sempat mengira bahwa mereka akan memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat setelah menjalani latihan yang cukup padat selama masa training. Tapi kenyataannya, aktivitas mereka justru semakin sibuk setelah debut. Selain menjalani berbagai kegiatan promosi dan penampilan, mereka juga tetap harus berlatih untuk terus meningkatkan kemampuan masing-masing.

“Aku mengira kalau sudah debut itu kita punya waktu buat menarik napas bentar. Bisa agak sedikit santai karena training-nya sudah padat banget. Ternyata setelah debut kita juga makin padat, dan kita gak melepaskan training itu karena kita mau improve terus ke depannya,” kata Tiffany membuat suasana media visit saat itu sempat menuai tawa.

Di balik kesibukan tersebut, MARBLES pun juga menghadapi dinamika tersendiri saat menjalani latihan. Para member menceritakan bahwa Tiffany kerap meminta mereka untuk terus berlatih, ketika sedang merasa lelah atau kurang bersemangat.

“Dia nge-push kita di hari-hari ketika kita gak mau latihan karena capek,” kata para member secara bersamaan.

Menariknya, di tengah momen yang dipenuhi tawa tersebut, Kyka segera membela Tiffany. Menurutnya, sang leader merupakan sosok selalu bisa diandalkan.

“She’s like always on everyone’s side kalau ada apa-apa. Biasa membantu, make the situation better kalau ada fight," ujar Kyka.

Mendengar hal tersebut, Tiffany pun menjelaskan bahwa setiap member memiliki peran masing-masing untuk menjaga keseimbangan dalam grup. Ia mengakui terkadang memang terlalu mendorong teman-temannya untuk terus berlatih.

“Semuanya dengan peran masing-masing. Kayak aku kadang memang terlalu nge-push.”

Terlepas dari kesibukan dan dinamika mereka sebagai girl group, Kyka mengungkapkan bahwa ia sempat merasakan tekanan dari sisi mental karena harus menghadapi ekspektasi publik.

“I think the mental struggle after debut itu lebih berat daripada pas training. Mungkin ekspektasi publik kali ya. Setelah debut, kita udah ada di public eye. Banyak ekspektasi dari publik yang secara gak langsung juga berefek ke kita,” ungkap Kyka.

Meski begitu, para member MARBLES berusaha untuk tetap berfokus pada karya dan usaha yang telah mereka berikan. Bagi Kyka, selama mereka merasa puas dengan lagu dan penampilan yang sudah dipersiapkan secara maksimal, respons positif dari publik menjadi bonus yang patut disyukuri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article