potret MARBLES di kantor IDN, Jakarta, Rabu (14/10/2026)(dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Meski memiliki perjalanan yang tidak sama, dukungan dari orang-orang terdekat, terutama keluarga, menjadi bekal penting yang membuat mereka berani mengambil kesempatan untuk mengejar mimpi menjadi idol. Dalam media visit yang berlangsung sekitar 40 menit, Kyka mengungkapkan, dunia musik sudah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil. Ia mengaku sudah bernyanyi sejak berusia lima tahun dan mulai menekuni dance ketika beranjak remaja. Ketertarikannya tersebut pun juga membawanya mengikuti berbagai kompetisi dance, termasuk World of Dance di Jepang, Los Angeles, dan Indonesia.
Namun, meski sudah memiliki mimpi untuk berkarier di industri musik, perjalanan Kyka ternyata tidak selalu mudah. Lahir di keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan akademis membuatnya harus pintar-pintar membagi waktu antara sekolah dan passion-nya di bidang seni. Ia juga harus membuktikan ke keluarganya bahwa kesibukan menjalani training tidak akan membuat pendidikannya terbengkalai.
Kyka bahkan membutuhkan sedikit waktu untuk meyakinkan keluarganya agar mendapatkan izin menjalani homeschooling dan lebih fokus mengejar impiannya. Dengan mata berkaca-kaca, Kyka mengungkapkan bahwa keluarganya sebenarnya memberikan dukungan, tapi tetap memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi.
“Karena aku lahir di keluarga yang sangat akademik, ketika awal mulai itu agak susah membagi waktu dan mendapatkan kepercayaan. Jadi aku tetap harus bisa sekolah, nilainya harus bagus. Tapi akhirnya setelah dua tahun, aku berhasil meyakinkan mereka buat homeschooling dan bisa fokus ke jalur ini aja,” kata Kyka.
Perjalanan berbeda dimiliki Tiffany yang sejak kecil sudah menekuni berbagai jenis tarian, mulai dari balet hingga hip-hop. Dengan nada antusias, Tiffany menceritakan bahwa ia pernah mengikuti sejumlah kompetisi dance, baik di dalam dan luar negeri, termasuk Kejuaraan Nasional serta kompetisi tari internasional, lho.
Menurut Tiffany, kesempatan bergabung dengan MARBLES ini bermula ketika ia mengikuti kegiatan dance bersama Bebe di sekolah. Saat itu, keduanya tampil dalam sebuah kompetisi antarsekolah hingga akhirnya menarik perhatian staf yang kemudian melakukan scouting. Meski begitu, Tiffany tidak langsung mengambil kesempatan tersebut. Ia sempat mempertimbangkan keputusannya, menjalani homeschooling, dan belajar di luar negeri sebelum akhirnya kembali ke Indonesia dan memutuskan untuk bergabung.
“Waktu SMP aku ikut dance sama Bev, kita dulu satu sekolah. Di sekolah, kita berdua barengan di acara lomba sekolah, terus ada staf yang datang dan scout kita berdua. Mungkin waktu itu memang Bev lebih duluan masuk. Aku masih mempertimbangkan. Aku sempat homeschooling, aku belajar di luar negeri, terus setelah balik ke Indonesia, baru masuk ke sini.”
Quilla juga sudah mengenal dunia seni sejak kecil. Ia bahkan pernah menjadi talent sekaligus dancer di Cabaret Show Yogyakarta dan sempat menempuh pendidikan di SMK jurusan seni tari. Hingga, kesempatan mengikuti training di Jakarta membuatnya dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit.
Beruntung, Quilla mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya. Ia bercerita bahkan para seniornya di Cabaret Show juga mendorongnya untuk mengambil kesempatan tersebut agar bisa mendapatkan pengalaman yang lebih luas.
Perjalanan Daniella untuk bergabung dengan MARBLES juga gak kalah menarik karena datang secara tidak terduga ketika ia sedang bersantai sambil scrolling Instagram. Dengan nada antusias, Daniella menceritakan bahwa saat itu, ia menemukan informasi terkait audisi dan akhirnya memutuskan untuk mencoba karena merasa memiliki kemampuan bernyanyi dan menari. Apalagi, ia juga mendapat dukungan penuh dari orangtuanya.
“Waktu itu aku lagi gabut gitu, kan. I can sing, I can dance. Why not?” cerita Daniella.
Pada akhirnya, perjalanan kelima member MARBLES menunjukkan bahwa mengejar mimpi tidak selalu harus dilakukan sendirian. Di balik keputusan besar yang mereka ambil, ada keluarga dan orang-orang terdekat yang turut memberikan dukungan.