Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gina S. Noer: Karakter Perempuan di Film Harus Merana Dulu Perlu Dikritisi

6 min read
Gina S. Noer: Karakter Perempuan di Film Harus Merana Dulu Perlu Dikritisi
Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)
  • Gina S. Noer menilai karakter perempuan yang harus merana sebelum mandiri perlu dikritisi, karena pengembangan karakter dapat ditempuh lewat beragam bentuk perubahan.

  • Menurut Gina, konflik perempuan di film masih kerap dibatasi isu domestik, meski karakternya modern; karya menjadi ruang menyuarakan kegelisahan perempuan di masyarakat.

  • Film woman-centric membutuhkan akses, ruang aman, dan dukungan sekutu. Isu tabu perlu disajikan dengan peringatan pemicu serta sudut pandang beragam.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Pembicaraan saya dengan Gina S. Noer, sutradara, penulis naskah, serta produser film Indonesia pada Selasa (27/10/2026) semakin menarik dan dalam. Sebelumnya, kami mengulik tentang tantangan yang dihadapi sineas perempuan di industri film Indonesia.

Alih-alih diskriminasi, sineas perempuan justru dihadapkan dengan ekspektasi yang terkotak-kotakan. Ketika seorang pemimpin perempuan di industri film hadir dengan karakter tegas yang identik dengan maskulinitas, kadang kala dianggap mengejutkan. Pagi itu, Gina juga berkata, terkadang pemimpin perempuan di industri film dianggap karakteristiknya lebih ribet dan emosional.

Seperti janji saya di artikel sebelumnya, kali ini kita akan mengulik lebih dalam tentang cara Gina S. Noer melahirkan karya-karyanya yang cenderung woman-centric atau menyajikan narasi dengan perempuan sebagai fokus utamanya. Selain itu, Gina juga membagikan pendapatnya terkait penggambaran karakter perempuan yang biasanya muncul di perfilman Indonesia.

Siapkan kudapan dan posisi ternyamanmu! Ini dia wawancara khusus IDN Times bersama dengan Gina S. Noer, sutradara, penulis naskah, dan produser film Indonesia di program #COD (Cerita Orang Dalam)!

  1. 1. Perempuan dibuat merana dulu karena memang harus ada pengembangan karakter

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dari dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    "Pertanyaan kamu bagus banget. Aku suka. Let me have time to think, ya," tutur Gina S. Noer ketika saya melontarkan pertanyaan tentang penggambaran karakter perempuan yang biasanya muncul di film Indonesia. Kamu sadar gak sih, kalau mayoritas film kerap menghadirkan karakter perempuan yang harus mengalami kesulitan terlebih dahulu, sebelum akhirnya mereka berdikari atau bebas?

    Gina mengajak kita untuk melihat pertanyaan tersebut melalui dua perspektif. Yang pertama, pada dasarnya karakter itu memang harus memiliki perkembangan atau perubahan di sepanjang film. Contohnya, seperti Spider-Man, anak remaja yang tiba-tiba mendapat kekuatan super, kemudian seiring berjalannya waktu mulai menerima dirinya dan bertanggung jawab.

    "Memang cerita itu menarik ketika dia punya character development, ada character arc-nya (transformasi kepribadian yang dialami karakter sepanjang cerita), ada kondisi awal dan kondisi akhir," jelas Gina.

    Perspektif kedua, sineas terkadang juga melihat dari pasar film-film mereka. Menurut Gina, ia memang seringkali menciptakan karakter perempuan berdasarkan kegelisahan yang didapatkan dari kehidupan nyata.

    "Penonton perempuan punya banyak kegelisahan yang di banyak tempat masih dianggap second class mungkin di society-nya," sambung penulis naskah, sekaligus sutradara film Dua Garis Biru (2019) ini.

  2. 2. Namun, cara pengembangan karakter beragam, gak harus dibikin kesulitan dulu

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Gina merasa penggambaran perempuan yang harus merana dulu di film perlu dikritisi. Pasalnya, tidak semua character arc harus dibuat seperti itu, lho! Bisa saja karakter perempuan itu digambarkan red flag, tapi menjelang akhir ia berubah menjadi sosok yang lebih baik.

    "Itu memang perlu dikritisi, karena bisa dilihat bahwa itu adalah voice yang ingin disampaikan oleh filmmaker-nya. Misalnya kayak aku sama Dini gitu, kita adalah orang yang gelisah melihat perempuan di sekitar kita," ungkap Gina yang membuat saya menganggukkan kepala tanda setuju.

    Banyak suara yang belum benar-benar bisa disuarakan oleh perempuan di sekitar Gina S. Noer. Maka dari itu, ia dan beberapa filmmaker perempuan, berusaha menyuarakan kegelisahan tersebut lewat karya-karya mereka.

    Ada satu hal lagi yang Gina kritisi dan membuat saya berpikir, "Eh, iya juga, ya!" Gina menyadari bahwa semodern-modernnya karakter perempuan tersebut, pasti angle ceritanya tetap domestik. Penggambarannya cenderung wanita karier yang dihadapkan dengan konflik harus menikah atau menghidupi ibunya.

    "Tapi satu sisi juga mungkin harus kita kritisi gitu. Kenapa sih kalau karakter perempuan semodern-modernnya dia, masalahnya itu tetap kembali yang aku sebutin di awal, kayak dilema tugas yang berhubungan dengan nilai feminimnya," sambungnya.

  3. 3. Film tentang perempuan gak harus dibuat oleh sineas perempuan untuk membangun kedekatan dengan penonton

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Selama ini, saya mengira film woman-centric memang akan terasa kedekatannya jika diproduksi oleh sineas perempuan. Namun, Gina memiliki pendapat yang berbeda! Menurutnya, seorang pencerita pasti akan melihat apa yang relate dengan titik kemanusiaan mereka.

    "Seorang pencerita itu tugasnya, buatku adalah dia datang melihat sebuah cerita, terus melihat apa yang relate dengan titik kemanusiaannya. Kemudian dia menceritakan kisah itu ke banyak orang," kata Gina melalui layar Zoom di hadapan saya.

    Setiap gender bisa menceritakan kisah gender lain di film mereka. Hal ini, justru melahirkan keberagaman perspektif dan membuat kita berempati dengan kegelisahan gender lain.

    "Nah, dengan perspektif itu gak cuma laki-laki atau perempuan aja yang bisa menceritakan kisah masing-masing jenis gender. Kalau gak, nanti juga ragam berceritanya sempit. Kalau perempuan cuma cerita tentang perempuan aja, laki-laki tentang laki-laki aja, gak ada keragaman perspektif melihat dan berempati dari titik yang lain," tambahnya.

  4. 4. Apa yang dibutuhkan untuk menyajikan film woman-centric?

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadinya.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Saat ini, semakin banyak film woman-centric yang dilahirkan oleh sineas perempuan. Hal ini terjadi karena akses dan ruang bagi sineas perempuan untuk berkarya semakin besar. Maka dari itu, Gina menyimpulkan ada tiga hal yang diperlukan agar film woman-centric dari POV (Point of View) sineas perempuan semakin beragam.

    "Sebenarnya yang kita butuhkan selain dari keragaman dan ruang itu, tentu juga akses terhadap filmmaker perempuannya. Itu nomor satu," ucapnya.

    Kedua, industri ini juga membutuhkan sosok-sosok yang mampu memberikan ruang bagi sineas perempuan untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Kehadiran sineas laki-laki sebagai sekutu juga menjadi poin penting, lho.

    "Filmmaker yang mau memberikan ruang kepada teman-teman filmmaker perempuan, memberikan ruang aman, kesempatan, akses, dan sebagainya. Dan juga filmmaker laki-laki yang mau menjadi ally, mau menjadi pendukung buat keberagaman cerita perempuan ini," sambung Gina.

  5. 5. Cara Gina S. Noer menyajikan elemen tabu di film woman-centric yang bisa diterima penonton

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi miliknya.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Jika saya bisa mendeskripsikan sosok Gina S. Noer, dia adalah sineas Indonesia dengan keandalan mengemas kegelisahan dan elemen tabu di masyarakat menjadi karya yang dicintai penonton. Gina memiliki dua cara khusus, salah satunya adalah memastikan penonton tahu, kalau film yang akan mereka saksikan mungkin berpotensi memicu trauma atau perasaan tidak nyaman.

    "Memberikan trigger warning sih. Kalau misalnya itu udah parah banget, paling gampang lah. Karena apa yang kita anggap atau sudah berusaha untuk less triggering buat banyak orang, itu bisa tetap triggering buat mereka. Jadi butuh kebijaksanaan penonton," jawab sutradara, penulis naskah, dan produser film Like & Share (2022) ini.

    Cara yang kedua adalah kita harus mempu melihat masalah tersebut dari beragam sudut pandang. Seorang sineas harus mencari titik kebijaksanaan, dari sudut pandang apa, dan sejauh mana elemen tabu itu diceritakan.

    "Kira harus punya ilmu yang banyak untuk melihat masalahnya. Jadi gak cuma satu masalah reliability aja. Aku relate sama karakternya dan aku ingin menceritakannya gitu. Tapi ketika isu-isu tabu ini semakin kita punya keberagaman dalam melihat masalahnya, itu membantu kita mencari titik bijaksananya," paparnya.

    Gina pun melanjutkan, "Tergantung memang tujuan kita membuat film itu sebenarnya untuk apa sih? Untuk siapa? Nah, dengan demikian kita jadi lebih matang, ketika menaruhnya dan siap dengan segala risikonya."

    Setelah berbincang dengan Gina S. Noer selama 30 menit, perspektif saya tentang karakter perempuan dan film yang woman-centric semakin terbuka. Setiap orang bisa menceritakan kisah tentang perempuan, tergantung bagaimana cara mereka melihat masalah dan kegelisahan di masyarakat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More