PK Entertainment Soal Konser Gak Sold Out: Itu Risiko

- PK Entertainment menegaskan tiket konser yang tidak sold out adalah risiko bisnis, terutama di tengah perlambatan ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat.
- Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar membuat biaya operasional meningkat, namun promotor berupaya menjaga harga tiket agar tetap terjangkau bagi penonton.
- Antusiasme besar di media sosial tidak selalu sebanding dengan kemampuan finansial pembeli, sehingga promotor harus lebih cermat membaca pasar hiburan Indonesia.
Jakarta, IDN Times - Indonesia kerap disebut sebagai surga bagi musisi internasional berkat besarnya basis penggemar di Tanah Air. Namun pada kenyataannya, tak semua konser berakhir dengan status sold out dalam hitungan menit. Padahal, antusiasme penggemarnya tampak ramai diperbincangkan di media sosial.
PK Entertainment yang sukses menghadirkan nama besar seperti Coldplay hingga Ed Sheeran pun blak-blakan mengungkap bahwa kursi kosong menjadi salah satu realita pahit di industri hiburan. Karena itu, mereka harus terus memutar strategi demi tetap memberikan pengalaman terbaik bagi artis maupun penonton. Berikut selengkapnya!
1. PK Entertainment mengungkapkan tiket gak habis terjual merupakan risiko bisnis

Menjalankan bisnis promotor konser bukan sekadar soal membawa musisi favorit ke tanah air. Peter Hanjani selaku CEO PK Entertainment pun menyadari bahwa tiket tidak sold out merupakan risiko dalam melakukan sebuah bisnis.
"I think kalau di konser atau mau jadi promotor, tidak sold out atau penjualan hanya seberapa itu menjadi risiko," ujar Peter dalam konferensi pers pada Jumat (22/5/2026).
Dengan perlambatan ekonomi yang bisa dilihat dan mungkin purchasing power menurun, Peter pun memutuskan agar, "Lebih berhati-hati untuk membawa atau mengevaluasi artis yang akan kita bawa ke Indonesia. Karena overall, we are a company, we are here to make money."
2. Melemahnya rupiah ikut berdampak ke gelaran konser

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar juga menjadi tantangan yang harus dihadapi promotor saat bernegosiasi dengan manajemen artis internasional. Kendati demikian, pihak penyelenggara berupaya mencari jalan tengah agar kenaikan biaya operasional tersebut gak langsung berimbas pada harga tiket yang memberatkan para penonton.
"Pastinya sih impact-nya ada, tapi ya balik lagi kita selalu melihatnya itu sebagai tantangan. Gimana sih kita kemudian melihat tantangan ini untuk kita navigasikan, sehingga kita tetap bisa dapat artisnya, tetap bisa perform, tetap bisa menyuguhkan konsernya ke konsumen dan tidak membebani konsumen dengan beban yang sebetulnya tidak perlu," ungkap Harry Sudarma selaku COO PK Entertainment.
3. COO Harry Sudarma ungkap realita pahit di Indonesia

Harry kemudian menuturkan fenomena menarik di Indonesia. Antusiasme masyarakat sering kali terlihat sangat masif, tapi gak selalu sebanding dengan kesiapan dana untuk membeli tiket. Promotor menyadari bahwa tingginya interaksi di media sosial gak bisa dijadikan satu-satunya jaminan bahwa tiket akan habis terjual dalam sekejap.
"Semua sudah mulai melihat bahwa market kita sangat-sangat besar in volume. But in wallet share (pangsa pengeluaran), sebetulnya actual wallet share (uang yang aslinya dikeluarkan) gak necessarily proporsional (tidak sebanding)," ungkap Harry.
Kendati dipenuhi tantangan tengah risiko tiket gak laku, PK Entertainment tetap berusaha mengundang deretan nama pop global untuk menyapa fans di Indonesia. Jadi, artis siapa nih yang menurut kamu paling layak untuk diboyong ke Jakarta selanjutnya?


















