Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Psikolog dan Komnas Turut Dilibatkan dalam Filmnya, Umay: Isu Sensitif
Umay Shahab setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Film horror-action Memburu Pemangsa karya Umay Shahab dijadwalkan tayang 24 September 2026, mengikuti empat jurnalis yang memburu predator anak-anak.
  • Karena mengangkat kekerasan seksual terhadap anak, tim melibatkan psikolog untuk memastikan penggambaran karakter predator tidak eksploitatif dan mendampingi Teuku Rifnu Wikana.
  • Sinemaku Pictures berkonsultasi dengan Komnas Perlindungan Anak, melibatkan orang tua aktor anak, serta menyaring skenario hingga pascaproduksi melalui persetujuan psikolog dan Komnas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sinemaku Pictures menghadirkan film horror-action Memburu Pemangsa garapan produser sekaligus sutradara Umay Shahab. Film yang dijadwalkan tayang mulai 24 September 2026 di seluruh bioskop Indonesia ini mengangkat isu sensitif mengenai kekerasan seksual terhadap anak.

Dibintangi Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem, Memburu Pemangsa mengikuti perjalanan keempat jurnalis saat memburu predator yang memangsa anak-anak. Di balik pembuatannya, Umay juga turut membawa psikolog hingga meminta persetujuan dari Komnas Perlindungan Anak.

1. Psikolog dihadirkan demi tidak melewati batas

Teuku Rifnu Wikana setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Mengangkat isu kekerasan terhadap anak membuat Umay Shahab menyadari bahwa Memburu Pemangsa harus diproduksi dengan sangat hati-hati. Terlebih, karakter Teuku Rifnu Wikana sebagai predator anak membawa materi yang cukup berat. Karena itu, tim film melibatkan psikolog untuk membantu memastikan penggambaran karakter tersebut tidak melewati batas.

"Ini kan isu yang sangat amat sensitif, bagaimana bisa menampilkannya juga tidak eksploitatif gitu. Jadi kita sempat temui Pak Rifnu juga dengan psikolog pada saat itu," jelas Umay.

Teuku Rifnu Wikana kemudian mengungkap pengalamannya ketika menjalani sesi bersama psikolog. Menurutnya, karakter tersebut memang memberikan tekanan psikologis yang cukup besar karena sangat bertolak belakang dengan dirinya, terutama sebagai seorang ayah.

"Jadi waktu ketemu sama psikolog itu ya, saya tuh benar-benar keganggu banget sih. Tapi yang jelas ya, yang jelas, ini kan peran yang berat banget buat saya yang punya anak juga, yang memang secara psikologi memang benar-benar keganggu banget. Syukurnya, psikolog ini memang dia coba merunut, 'Kira-kira tujuan kamu itu apa sebenarnya dari sini,' coba mengajak saya ngobrol," tambahnya.

2. Tak cuma psikolog, Umay juga berkonsultasi dengan Komnas Anak

Umay Shahab setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Konsultasi tidak berhenti pada karakter yang dimainkan Teuku Rifnu. Karena Memburu Pemangsa turut melibatkan aktor anak dan menggunakan sejumlah diksi sensitif, Umay juga mengajak Komnas Anak berdiskusi sebelum proses syuting berlangsung. Menurut Umay, diskusi tersebut dilakukan untuk memastikan isu yang diangkat dapat disampaikan dengan batasan yang tepat.

"Pastinya kan sebelum syuting yang tadi seperti disampaikan oleh Jordan (Omar), kami melakukan diskusi juga. Kami meminta Komnas (Anak) untuk menyampaikan tentang isunya dulu terhadap orang tua, terhadap anak-anak dari para aktor," tegas Umay.

Ia mengatakan tim Sinemaku tidak ingin ada materi yang terlewat dalam proses pengawasan. Orang tua juga dilibatkan untuk memastikan anak-anak memahami materi yang diberikan sesuai batasan yang telah ditentukan.

"Jadi kita enggak mau ada yang kelolosan sedikit pun, gitu. Karena seperti yang tadi sudah kita pelajari kan, bahwa konsensual anak-anak itu masih dimiliki oleh orang tuanya. Jadi orang tuanya yang menjaga itu semua. Jadi kita pastinya memberikan, memberitahukan kepada orang tuanya dulu, lalu memberitahukan kepada anak-anaknya juga dengan batasan-batasan tertentu pastinya, disampaikan oleh psikolog yang didelegasikan oleh Komnas," lanjutnya.

3. Sudah mendapat approval dari Komnas Anak dan psikolog

Umay Shahab setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Umay menegaskan keterlibatan psikolog dan Komnas Anak dilakukan sepanjang proses pengembangan film. Hal tersebut mencakup materi cerita hingga tahapan produksi dan pascaproduksi.

"Dialog dan lain-lainnya pasti seperti yang tadi sudah aku sampaikan itu sudah melalui approval dari Komnas juga, sudah melalui approval dari psikolog juga," ujar Umay secara gamblang.

Menurutnya, tim sengaja tidak mengambil keputusan sendiri ketika menemukan bagian cerita yang berpotensi menimbulkan persoalan dari sisi batasan penggambaran isu kekerasan terhadap anak.

"Jadi untuk semua hal-hal yang sifatnya agak abu-abu, kita enggak mau memutuskan sendiri. Jadi semuanya sudah di-screening dari tahap skenario sampai tahap postproduksi," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article