Teuku Rifnu Wikana setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Mengangkat isu kekerasan terhadap anak membuat Umay Shahab menyadari bahwa Memburu Pemangsa harus diproduksi dengan sangat hati-hati. Terlebih, karakter Teuku Rifnu Wikana sebagai predator anak membawa materi yang cukup berat. Karena itu, tim film melibatkan psikolog untuk membantu memastikan penggambaran karakter tersebut tidak melewati batas.
"Ini kan isu yang sangat amat sensitif, bagaimana bisa menampilkannya juga tidak eksploitatif gitu. Jadi kita sempat temui Pak Rifnu juga dengan psikolog pada saat itu," jelas Umay.
Teuku Rifnu Wikana kemudian mengungkap pengalamannya ketika menjalani sesi bersama psikolog. Menurutnya, karakter tersebut memang memberikan tekanan psikologis yang cukup besar karena sangat bertolak belakang dengan dirinya, terutama sebagai seorang ayah.
"Jadi waktu ketemu sama psikolog itu ya, saya tuh benar-benar keganggu banget sih. Tapi yang jelas ya, yang jelas, ini kan peran yang berat banget buat saya yang punya anak juga, yang memang secara psikologi memang benar-benar keganggu banget. Syukurnya, psikolog ini memang dia coba merunut, 'Kira-kira tujuan kamu itu apa sebenarnya dari sini,' coba mengajak saya ngobrol," tambahnya.