Review Empat Musim Pertiwi, Film Paling Ambisius Kamila Andini?

- Empat Musim Pertiwi mengikuti Pertiwi yang pulang setelah 20 tahun dipenjara, lalu menghadapi trauma masa lalu dan berupaya memutus rantai kekerasan di desanya.
- Putri Marino dinilai kuat memerankan antihero traumatis, sementara Christine Hakim mencuri perhatian sebagai Mak Ira; dinamika Pertiwi dan Bisma juga dipenuhi penyesalan serta ketegangan.
- Kamila Andini memadukan drama psikologis, horor, western, dan realisme magis lewat visual Bromo; film berdurasi 2 jam 17 menit ini berpacing lambat dan sarat metafora.
Take a Deeper Reads

Kamila Andini, sosok brilian di balik Yuni (2021) yang memenangkan TIFF '21 Platform Award, kembali dengan karya yang tak kalah ambisius. Lewat Empat Musim Pertiwi (2026), ia membawa narasi perempuan ke wilayah yang lebih gelap, surealis, dan penuh metafora dengan Putri Marino, Christine Hakim, serta Arya Saloka sebagai jajaran pemeran utamanya.
Empat Musim Pertiwi terasa seperti langkah besar bagi Kamila Andini untuk mengeksplorasi bentuk baru. Drama psikologis, misteri, western kontemporer, horor, hingga realisme magis berpadu dalam sebuah cerita tentang trauma, kekerasan seksual, dan keberanian untuk memutus lingkaran setan yang selama ini diwariskan. Berikut ulasan lengkapnya!
Sinopsis Empat Musim Pertiwi (2026)
Empat Musim Pertiwi mengikuti kisah Pertiwi (Putri Marino), perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun dipenjara untuk menata ulang hidupnya. Sayang, kepulangannya tidak disambut seperti yang ia harapkan. Listrik yang dulu dianggap sebagai simbol kemajuan justru tidak banyak mengubah keadaan desa. Bahkan, Pertiwi merasa tempat itu menjadi lebih gelap daripada sebelumnya.
Sahabatnya, Niken (Hana Malasan), kini menikah dengan mantan kekasihnya, Bisma (Arya Saloka), sementara kedua orang tuanya menentang kepulangannya. Sosok keibuan yang dahulu memberinya tempat berlindung juga telah disingkirkan dari lingkungan tersebut. Hanya Mak Ira (Christine Hakim) dan Bisma yang menyambutnya pulang.
Situasi semakin pelik ketika Pertiwi menemukan seorang gadis tuli dan bisu yang mengingatkan pada masa lalunya. Pertiwi kemudian berusaha memutus mata rantai kekerasan dan menghadapi orang-orang yang dahulu bertanggung jawab atas penderitaannya. Dengan bantuan orang-orang yang juga terpinggirkan, ia pun menghadapi "monster" yang ada di balik kehidupan desa tersebut.
Empat Musim Pertiwi20263.5/5Directed by Kamila AndiniProducer Ifa Isfansyah
Writer Kamila Andini
Age Rating D17
Genre Suspese, drama
Duration 137 Minutes
Release Date 8 Oktober
Theme Psychological drama, coming-of-age, revenge thriller, rape & sexual assault
Production House Forka Films
Where to Watch Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
Cast Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Pitrashata Malasan, Iswadi Pratama, Hargi Sundari, Nagra Pakusadewo, Totos Rasiti
Trailer Empat Musim Pertiwi (2026)
Cuplikan film Empat Musim Pertiwi (2026)
1. Putri Marino tampil menyayat hati, Christine Hakim jadi scene-stealer
Putri Marino tampil luar biasa sebagai Pertiwi, sosok antihero yang sulit ditebak, tapi tetap mengundang empati. Tidak perlu banyak dialog baginya untuk memperlihatkan trauma yang dipendam Pertiwi selama puluhan tahun. Tatapan matanya terasa seperti menyimpan kehidupan yang tidak pernah benar-benar selesai. Wajahnya tampak tenang, tetapi selalu ada kemarahan yang siap meledak kapan saja.
Menariknya, Pertiwi bukan protagonis yang sepenuhnya heroik. Ia adalah perempuan yang rusak oleh pengalaman traumatik di masa lalu dan harus berhadapan dengan konsekuensi dari luka tersebut. Di sinilah Putri mampu memberikan performa akting yang luar biasa kuat, karena karakter Pertiwi tidak hanya membutuhkan ekspresi kemarahan, tetapi juga kerentanan dan rasa bersalah sepanjang hidupnya.
Reuni Putri Marino dan Arya Saloka setelah Gadis Kretek (2023) juga memberikan dinamika menarik. Hubungan Pertiwi dan Bisma dipenuhi kerinduan, penyesalan, serta ketegangan yang tidak pernah benar-benar hilang meski waktu telah berlalu. Namun, justru Christine Hakim yang berhasil mencuri perhatian. Sebagai Mak Ira, ia memberikan sedikit kehangatan dan humor di tengah nuansa film yang berat dan menekan. Karakternya seperti ruang bernapas bagi penonton sebelum cerita kembali membawa kita ke wilayah yang gelap.
Salah satu momen yang paling mengundang tawa adalah ketika Mak Ira berteriak, "FUCK THEM ALL!!!" di tengah Gunung Bromo. Adegan itu terasa begitu lepas dan berani sehingga menjadi salah satu momen yang paling membekas di benak penonton.
2. Sajikan metafora yang berani dengan latar Bromo yang indah
Kamila Andini kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menggunakan visual untuk menyampaikan narasi cerita. Dalam Empat Musim Pertiwi, Bromo terasa seperti karakter tersendiri yang merepresentasikan kondisi psikologis Pertiwi dan masyarakat di sekitarnya. Kabut, hamparan pasir, rerumputan, hingga lereng pegunungan digunakan untuk menggambarkan perubahan emosional karakter.
Palet warna dingin dan kontras tinggi semakin memperkuat atmosfer misterius. Lanskap Bromo yang biasanya identik dengan keindahan wisata justru terasa asing dan mengancam. Ada sesuatu yang terasa membusuk di balik keindahan tersebut. Empat musim dalam film ini memang tidak harus dipahami secara harfiah, melainkan sebagai metafora mengenai fase kehidupan Pertiwi, mulai dari kegelapan, penderitaan, hingga munculnya harapan dan kemungkinan penyembuhan.
Visualnya juga membantu Empat Musim Pertiwi bergerak di antara berbagai genre. Ada nuansa western balas dendam, horor supernatural, realisme magis, hingga visual poetry. Beberapa adegan terasa seperti berada di antara mimpi dan kenyataan. Salah satu contohnya adalah ketika Pertiwi menyaksikan rekaman VHS dua gadis dari masa lalu. Adegan tersebut mengingatkan kita pada atmosfer Twin Peaks (1990), terutama karena film sengaja membiarkan penonton mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang sedang mereka lihat.
Film ini memang tidak selalu memberikan jawaban dengan cepat. Logika mimpi terasa hadir dalam banyak bagian cerita, termasuk kemunculan sosok monster yang menjadi manifestasi dari trauma yang diwariskan di desa Pertiwi. Gadis tuli dan bisu yang ditemui Pertiwi juga bukan sekadar karakter pendukung. Ia menjadi refleksi dari masa lalu Pertiwi sekaligus simbol bagaimana korban kekerasan seksual dapat terus hadir dalam bentuk yang berbeda.
Di sinilah metafora Empat Musim Pertiwi terasa begitu kental. Kekerasan terhadap perempuan bukan peristiwa yang selesai ketika pelakunya pergi. Ia meninggalkan trauma yang dapat terus hidup, berpindah, dan menghantui generasi berikutnya.
Meski begitu, film ini terlalu cepat menumpuk metafora. Beberapa karakter hanya terasa seperti representasi luka atau cermin bagi Pertiwi ketimbang individu yang benar-benar berkembang. Penahanan informasi tentang masa lalu juga kadang terasa dibuat-buat demi menjaga misteri. Ketika seluruh kebenaran akhirnya dibuka, beberapa adegannya terasa terlalu eksplisit sehingga berisiko bergeser dari kritik menjadi eksploitasi untuk "memuaskan" penonton.
3. Apakah Empat Musim Pertiwi recommended untuk ditonton?
Empat Musim Pertiwi bukan film yang bisa dinikmati dengan terburu-buru. Dengan durasi sekitar 2 jam 17 menit, Kamila Andini sengaja membangun cerita secara perlahan dan membiarkan trauma, konflik sosial, serta misterinya mengendap sebelum akhirnya mencapai klimaks. Bagimu yang mengharapkan thriller dengan tempo cepat dan resolusi yang lugas, ritme slow-burn ini mungkin terasa melelahkan.
Kelebihan film ini terletak pada keberaniannya untuk tidak mengikuti pakem cerita konvensional. Empat Musim Pertiwi terasa seperti karya seorang sutradara yang sudah percaya diri dengan bahasa sinemanya sendiri. Ia berani mencampurkan western, horor, drama psikologis, hingga realisme magis tanpa terlalu memedulikan apakah semuanya bisa dikategorikan dengan mudah.
Tentu, keberanian tersebut juga menjadi kelemahannya. Film terkadang terasa terlalu padat dengan metafora, penataan beberapa adegan terasa canggung, dan penggunaan efek suara tertentu terasa berlebihan. Cerita juga membutuhkan kesabaran ekstra karena ritmenya sangat lambat. Namun, jika kamu bersedia mengikutinya, Empat Musim Pertiwi menawarkan pengalaman sinematik yang jauh lebih kaya daripada sekadar cerita balas dendam.
Empat Musim Pertiwi memang tidak sempurna, tapi sukses menjadi karya Kamila Andini yang berani dan personal. Film ini berbicara tentang perempuan yang berusaha mengambil kembali kendali atas hidupnya setelah bertahun-tahun dirampas oleh kekerasan dan struktur patriarki yang menindas. Pertiwi bukan sekadar korban. Ia adalah representasi dari kemarahan yang selama ini tidak mendapatkan ruang untuk berbicara.
Kesimpulannya, Empat Musim Pertiwi adalah film yang harus dirasakan dan ditafsirkan masing-masing. Apakah direkomendasikan? Jawabannya, iya. Dengan syarat kamu siap bersabar mengikuti perjalanan sinematik Kamila Andini yang puitis dan gelap. Saksikan perjuangan Pertiwi untuk merebut kembali kedaulatan dirinya di bioskop terdekat mulai 8 Oktober 2026.


















![[QUIZ] Kalau Jadi Pemain Timnas, Siapa Member JKT48 yang Dampingi ke Lapangan?](https://image.idntimes.com/post/20261006/foto-cover_5f490a2e-a93e-4cb7-90d9-58c56d2eb834.jpg)




