Review Film Dilan ITB 1997, Romance Dewasa Anak ITB-Unpad, Bikin Baper!

- Film Dilan ITB 1997 menampilkan fase baru kehidupan Dilan sebagai mahasiswa FSRD ITB di tengah gejolak reformasi, dengan fokus pada pendewasaan dan pilihan hidupnya.
- Ariel sukses menghadirkan transformasi Dilan yang lebih reflektif dan matang tanpa kehilangan sisi nyeleneh khasnya, sementara Niken Anjani memberi keseimbangan lewat karakter Ancika yang tegas dan realistis.
- Latar Bandung akhir 90-an serta nuansa reformasi memperkuat atmosfer nostalgia film ini, menjadikannya drama slice of life yang hangat, santai, dan penuh refleksi tentang perjalanan menuju kedewasaan.
Dilan kembali, tapi bukan sebagai bocah SMA yang gemar menggombal di atas jok motor. Dalam Dilan ITB 1997 (2026), kita diajak bertemu versinya yang lebih matang. Kali ini, ia adalah seorang mahasiswa FSRD ITB yang berdiri di antara cinta, idealisme, dan situasi politik yang sedang bergejolak.
Sebagai lanjutan dari semesta Dilan, film garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini mencoba melangkah ke fase yang lebih serius. Bukan lagi sekadar tentang jatuh cinta, tapi juga tentang memilih arah hidup saat dunia sekitar sedang berisik oleh perubahan besar. Pertanyaannya, apakah transformasi ini berhasil? Berikut review film ini dari IDN Times!
Sinopsis Dilan ITB 1997 (2026)
Berlatar tahun 1997, Dilan kini adalah mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB yang menjalani hidup sebagai seniman muda sekaligus aktivis kampus sejak kembali dari Kuba. Ia menjalin hubungan dengan Ancika, sosok perempuan yang lebih tenang tapi tegas, sembari tetap membawa pesona khasnya yang puitis dan nyeleneh.
Namun, hidup tak pernah benar-benar linear. Kemunculan kembali "teman" kuliahnya, Hana, dan kekasih lamanya, Milea, membuka kembali ruang-ruang lama yang belum sepenuhnya tertutup. Di saat yang sama, Indonesia sedang berada di ambang reformasi, dengan gejolak politik dan ekonomi yang ikut menyeret Dilan ke dalam pusaran pergerakan mahasiswa.
Di antara demonstrasi, karya seni, dan percakapan tentang masa depan, Dilan harus memilih. Apakah ia bertahan pada masa lalu, menjalani masa kini, atau melompat ke masa depan yang belum pasti?
| Producer | Frederica |
| Writer | Pidi Baiq, Adhitya Mulya, Ninit Yunita |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Drama, romance |
| Duration | 110 Minutes |
| Release Date | 30 April 2026 |
| Theme | Slice of life, feel-good movies, cozy films, romance comedy, political drama |
| Production House | Falcon Pictures |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Ariel Noah, Niken Anjani, Raline Shah, Della Dartyan, Wafda Saifan, Rangga Natra, Dany Beler, Ira Wibowo, Qibil The Changcuters, Arya Saloka, Denny Chandra, Maya Hasan, Rina Hassim, Tarzan, Hasyakyla Utami, Reybong |
Trailer Dilan ITB 1997 (2026)
Cuplikan film Dilan ITB 1997 (2026)
1. Cerita slice of life yang bisa dinikmati segala usia
Pendekatan slice of life menjadi identitas paling kuat dalam film ini. Dilan ITB 1997 tidak memaksakan konflik besar atau twist dramatis. Hanya membiarkan cerita mengalir melalui rutinitas sehari-hari. Kita diajak mengikuti Dilan ke Kampus Ganesha, melihat interaksinya dengan teman, keluarga, hingga momen-momen kecil bersama Ancika. Semua terasa seperti fragmen kehidupan yang sengaja dibiarkan apa adanya.
Namun di balik kesederhanaannya, ada lapisan reflektif yang perlahan muncul. Rutinitas tersebut menjadi medium untuk menunjukkan proses pendewasaan Dilan, bahwa hidup tidak lagi soal spontanitas semata. Ada tanggung jawab, ada pilihan yang harus dipikirkan matang-matang, dan ada konsekuensi yang tak bisa dihindari. Film ini memang slow-paced, tapi berhasil mengajak kita berpikir tentang fase hidup yang mungkin pernah (atau sedang) dialami.
Meski begitu, pendekatan ini juga punya kelemahan. Bagi sebagian penonton, alur yang terlalu santai bisa terasa kurang "nendang" secara dramatis. Tidak semua momen terasa penting, dan beberapa transisi cerita masih terasa kurang mulus. Namun jika dinikmati sebagai potret kehidupan seorang mahasiswa biasa, kamu akan menemukan letak serunya.
2. Ariel sukses bawa transformasi Dilan dari remaja nyeleneh ke pria yang reflektif
Perubahan paling mencolok tentu datang dari sosok Dilan itu sendiri. Kehadiran Ariel sebagai Dilan sempat terasa janggal di awal, seolah karakter lama dipindahkan ke tubuh yang berbeda. Adaptasi ini butuh waktu, terutama bagi penonton yang sudah terlanjur lekat dengan versi sebelumnya.
Namun perlahan, interpretasi ini mulai menemukan ritmenya. Dilan versi Ariel terasa lebih kalem, filosofis, dan sadar akan realitas di sekitarnya. Ia tidak lagi sekadar melempar gombalan cheesy, tapi mulai memikirkan arah hidupnya. Ada kesan bahwa Dilan kini sedang berdialog dengan dirinya sendiri, tentang masa lalu, tentang pilihan, dan tentang siapa dirinya sebenarnya.
Menariknya, meski lebih dewasa, Dilan tidak kehilangan identitasnya sepenuhnya. Sisi nyeleneh dan romantisnya masih muncul, meski dalam kadar yang lebih subtil. Semua ini membuat transformasinya terkesan alami. Bukan perubahan drastis, melainkan evolusi yang pelan tapi pasti. Perlu diingat juga kalau Dilan baru pulang dari Kuba, yang banyak sedikitnya turut mengubah pemikirannya.
3. Hubungan Dilan dan Ancika yang lebih kalem dan realistis
Jika Dilan-Milea dulu penuh gejolak, maka Dilan-Ancika hadir sebagai hubungan yang lebih stabil. Dinamika mereka tidak lagi didominasi oleh drama besar, melainkan interaksi kecil yang lebih dewasa. Percakapan mereka tentang masa depan, cemburu kecil, hingga cara mereka saling mendukung terasa lebih membumi.
Niken Anjani berhasil membawa karakter Ancika dengan kuat. Ia tampil sebagai sosok yang tegas, kadang jutek, tapi tetap hangat. Karakternya menjadi penyeimbang bagi Dilan yang cenderung impulsif. Hubungan mereka terasa seperti dua orang yang sedang belajar berjalan bersama, bukan sekadar menjalani cinta monyet.
Meski begitu, film ini tidak sepenuhnya menggali dinamika hubungan mereka secara mendalam. Beberapa momen terasa berjalan terlalu cepat, sehingga perkembangan emosinya kurang terasa maksimal. Namun secara keseluruhan, chemistry Ariel dan Niken cukup kuat untuk membuat penonton tetap terhubung dengan keduanya.
4. Nostalgia Bandung dan konteks sejarah yang jadi latar emosional
Salah satu kekuatan film ini ada pada atmosfernya. Bandung akhir 90-an terasa hidup melalui visual, musik, dan ambience yang membangun dunia Dilan. Soundtrack yang dibawakan Ariel juga memberi sentuhan khas yang memperkuat nuansa lokal dan jiwa zaman saat itu.
Menariknya, konteks reformasi hadir bukan sebagai pusat cerita, melainkan sebagai latar yang membentuk karakter. Gejolak politik, aksi mahasiswa, dan kondisi sosial menjadi semacam "noise" yang terus mengiringi perjalanan Dilan. Latar waktu ini memberi dimensi tambahan tanpa menggeser fokus utama film yang berfokus pada kehidupan sehari-hari Dilan.
Namun bukan berarti hal tersebut cocok untuk semua orang. Bagi sebagian penonton, pendekatan ini mungkin terasa tanggung. Isu besar seperti reformasi hanya disentuh di permukaan, tanpa eksplorasi lanjutan. Tapi mungkin memang itu tujuannya. Dilan ITB 1997 bukanlah film sejarah, melainkan tentang individu yang hidup di dalam peristiwa bersejarah.
5. Apakah Dilan ITB 1997 direkomendasikan?
Direkomendasikan, tapi atur dulu ekspektasimu. Jika kamu mencari film drama dar-der-dor dengan konflik yang kompleks, film ini mungkin terasa terlalu ringan. Tapi jika kamu ingin menikmati cerita yang hangat, santai, dan reflektif, Dilan ITB 1997 bisa jadi pilihan yang pas.
Selama nyaris dua jam, film ini terkesan seperti perjalanan kecil yang tidak terburu-buru. Tidak ambisius, tapi cukup jujur untuk dekat dengan realita. Dilan ITB 1997 mungkin tidak sempurna, dengan beberapa bagian yang kurang mulus. Khususnya transisi menuju babak akhir yang terasa agak cepat. Mungkin karena mengejar durasi, dan kemungkinan "bersambung" ke film Dilan Amsterdam. Namun secara keseluruhan tetap menyenangkan untuk diikuti.
Pada akhirnya, Dilan ITB 1997 bukan tentang menjadi luar biasa, tapi tentang menjadi cukup. Cukup dewasa, cukup berani memilih, dan cukup jujur untuk menerima perubahan. Dan terkadang, itu lebih dari cukup untuk sebuah cerita. Kalau kamu ingin nostalgia, tersenyum kecil, dan mungkin sedikit merenungi pilihan hidup, film ini layak untuk kamu tonton di bioskop minggu ini.


















