Kalau ada satu hal yang terasa sangat niat dari Harusnya Horror, jawabannya adalah detail produksi dan setting lokasi. Sebagai film yang digarap oleh tim yang relatif baru dalam format layar lebar, penataan propertinya tidak terasa asal-asalan. Bahkan detail kecil seperti kalender di rumah makan milik orangtua Kevin ikut disesuaikan dengan kebutuhan cerita sehingga menimbulkan easter egg menarik di sepanjang film.
Penilaian ini tentu datang dari sudut pandang penonton yang tidak terlalu mengikuti AAA Clan. Bagi penggemar mereka, berbagai lokasi, karakter, kameo, hingga lelucon yang muncul sepanjang film mungkin justru bisa menjadi nostalgia tersendiri setelah Marapthon AAA Clan berakhir. Namun sekali lagi, untuk penonton di luar fandom tersebut, pengalaman menontonnya bisa terasa berbeda.
Referensi yang terlalu spesifik membuat beberapa bagian film terasa seperti lelucon internal yang tidak semuanya berhasil diterjemahkan ke penonton umum. Jadi, kalau ditanya apakah Harusnya Horror lebih cocok tayang di bioskop atau platform OTT, film ini mungkin akan terasa lebih aman di OTT, atau di YouTube Reza Arap yang memang sudah ramai dengan penontonnya. Bukan tanpa alasan, karena penonton bisa menyaksikannya dengan santai, sekaligus punya kesempatan mengejar konteks AAA Clan yang mungkin terlewat