Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Review Hokum (2026), Liburan ke Hotel Terpencil, Berujung Teror Hantu

Review Hokum (2026), Liburan ke Hotel Terpencil, Berujung Teror Hantu
Hokum (dok. NEON/Hokum)
Intinya Sih
  • Damian McCarthy menghadirkan Hokum (2026), horor psikologis berlatar pedesaan Irlandia yang memadukan rasa bersalah, trauma, dan teror gaib dalam atmosfer sunyi yang menekan.
  • Film ini menonjol lewat perpaduan folk horror dan misteri whodunnit, dengan pacing lambat namun intens, serta sound design dan visual muram yang memperkuat ketegangan.
  • Adam Scott tampil memukau sebagai Ohm Bauman, penulis rapuh yang dihantui masa lalu; sinematografi redup dan scoring folk Irlandia membuat nuansa depresifnya makin menghantui.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Setelah sukses menghadirkan film horor yang bikin bulu kuduk berdiri lewat Caveat (2020) dan Oddity (2024), sutradara Damian McCarthy kembali membawa mimpi buruk baru lewat Hokum (2026). Kali ini, ia meramu folk horror khas Irlandia dengan trauma psikologis yang pelan-pelan menghancurkan karakter utamanya dari dalam.

Diproduseri oleh sosok di balik film Barbarian (2022) dan Weapons (2025), Hokum bukan sekadar film hantu biasa. Film ini mengemas horor dengan satu pemahaman penting. Terkadang, rasa bersalah dan trauma jauh lebih mengerikan ketimbang sosok menyeramkan yang muncul dari kegelapan. Penasaran seperti apa film ini? Worth it kah untuk ditonton? Simak review filmnya di bawah!

Table of Content

Sinopsis Hokum (2026)

Sinopsis Hokum (2026)

Berlatar di pedesaan Irlandia yang sunyi dan terasa "mati", Hokum mengikuti kisah Ohm Bauman, seorang novelis terkenal yang datang ke penginapan terpencil untuk menaburkan abu kedua orang tuanya. Tempat itu dikenal memiliki legenda tentang penyihir yang menghantui kamar bulan madu (Honeymoon Suite). Awalnya, Ohm menganggap semua cerita itu cuma omong kosong alias "hokum".

Namun semuanya berubah ketika ia bertemu Jerry, warga lokal eksentrik yang percaya bahwa manusia sering kali menutup pikirannya sendiri terhadap sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Sejak saat itu, Ohm mulai mengalami penglihatan aneh, mimpi buruk yang terasa nyata, hingga misteri hilangnya seorang petugas hotel secara mendadak.

Semakin jauh ia menyelidiki rahasia hotel tersebut, semakin jelas bahwa teror yang datang bukan cuma soal makhluk gaib. Ada luka lama, rasa bersalah, dan trauma yang selama ini coba dikubur sendirian. Pertanyaannya, apakah hantu di tempat penginapan itu benar-benar nyata, atau semuanya hanya refleksi dari pikirannya sendiri?

Hokum
2026
4/5
Directed by Damian McCarthy
Producer

Roy Lee, Derek Dauchy, Julianne Forde

Writer

Damian McCarthy

Age Rating

R13

Genre

Horror, mystery

Duration

107 Minutes

Release Date

22 Mei

Theme

Supernatural horror, psychological horror, folk horror, gothic horror, witch horror

Production House

Neon, Black Bear Pictures

Where to Watch

Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia

Cast

Adam Scott, Florence Ordesh, Peter Coonan, David Wilmot, Michael Patric, Will O'Connell, Brendan Conroy, Austin Amelio

Trailer Hokum (2026)

Cuplikan film Hokum (2026)

1. Horor psikologis dengan jumpscare yang super efektif

Di era ketika banyak film horor terlalu bergantung pada suara keras dan editan cepat yang membuat penonton muak, Hokum terasa seperti pengingat bahwa jumpscare yang efektif sebenarnya lahir dari atmosfer. Sebagai sutradara, Damian McCarthy memahami itu dengan sangat baik. Film ini nyaris membuat penonton menahan napas sejak menit pertama.

Porsi "hantu" di Hokum sebenarnya tidak terlalu banyak. Namun justru karena kemunculannya yang hemat itu lah, setiap adegan horornya jadi terasa brutal dan lebih emosional. McCarthy tahu kapan harus menahan kamera beberapa detik lebih lama di lorong gelap, juga kapan membiarkan suara angin atau kayu berderit tanpa musik berlebihan. Hasilnya? Rasa takut itu terus mengendap pelan-pelan sebelum akhirnya meledak lewat jumpscare.

Hal lain yang membuat film ini semakin menyeramkan adalah bagaimana rasa takutnya terasa intim. Kita tak cuma takut karena ada sosok kelinci humanoid yang muncul di layar, tapi karena dipaksa masuk ke kepala Ohm yang perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Trauma dan paranoia menjadi monster sesungguhnya di sini.

2. Elemen whodunnit yang bikin ceritanya lebih kaya

Salah satu kekuatan terbesar Hokum adalah keberaniannya memadukan folk horror dengan elemen whodunnit ala film misteri klasik Agatha Christie. Penonton tak cuma dibuat takut, tapi juga terus menebak-nebak siapa sebenarnya yang bisa dipercaya dan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Formula Damian McCarthy cukup sederhana. Ia menanam petunjuk kecil sejak awal film, lalu membiarkannya berkembang perlahan lewat dialog, simbol, dan atmosfer yang membuat kita tidak nyaman. Namun eksekusinya luar biasa rapi. Sound design yang dingin, pacing yang santai tapi menusuk, sampai visual pedesaan Irlandia yang muram berhasil membuat kita merasa seperti sedang tersesat di tempat yang salah.

Meski beberapa twist terasa cukup predictable bagi penonton horor veteran, Hokum tetap berhasil menjaga rasa penasaran hingga akhir. Hokum bukan tipe film yang sekadar menunggu jumpscare berikutnya muncul. Film ini mengajak penonton menyusun puzzle sambil terus dihantui oleh rasa tidak aman. Kombinasi horor dan misterinya jadi terasa jauh lebih "nempel" dibanding film horor mainstream yang cuma sibuk bikin kaget lima menit sekali.

3. Akting Adam Scott yang luar biasa depresif dan manusiawi

Setelah mencuri perhatian lewat serial Severance (2022), Adam Scott kembali menunjukkan salah satu performa terbaik dalam kariernya lewat karakter Ohm Bauman. Ia memainkan sosok penulis horor yang bukan cuma sinis dan pemarah, tapi juga penuh luka batin yang perlahan memakan dirinya sendiri.

Yang menarik, McCarthy tidak mencoba membuat Ohm menjadi protagonis yang simpatik. Ia egois, menyebalkan, bahkan beberapa kali terasa seperti manusia yang memang pantas "dihukum". Namun justru itu lah yang membuat karakternya terasa nyata. Adam Scott memainkan semua emosi itu dengan subtil. Tatapan kosongnya, cara ia diam, hingga ekspresi takut yang tertahan membuat penonton bisa merasakan tekanan mental Ohm tanpa perlu banyak dialog.

Film ini juga memahami bahwa horor paling efektif datang dari karakter yang rapuh secara emosional. Saat Ohm mulai mempertanyakan realitas di sekitarnya, kita ikut terseret ke dalam paranoia yang sama. Ada rasa depresif yang pekat sepanjang film, seolah penginapan itu memang sedang melahap kewarasan manusia secara perlahan.

4. Sinematografi dan scoring folk Irlandia yang bikin merinding

Secara visual, Hokum adalah salah satu film horor tercantik tahun ini. Sinematografer Colm Hogan menggunakan ruang kosong, bayangan, dan pencahayaan redup dengan sangat efektif. Banyak adegan yang sebenarnya sederhana, tapi terasa menyeramkan karena kameranya diam terlalu lama di satu sudut gelap.

Damian McCarthy, sekali lagi paham cara membangun ketakutan tanpa harus agresif. Ada beberapa adegan yang mungkin tidak membuat penonton melompat dari kursi, tapi sukses bikin tubuh merinding pelan-pelan. Hokum mengandalkan rasa tidak nyaman yang konstan, dan itu jauh lebih efektif dibanding sekadar teror instan.

Belum lagi scoring garapan Joseph Bishara (Insidious, The Conjuring) yang benar-benar menghantui. Musik folk Irlandia yang muram terasa seperti nyanyian duka dari masa lalu yang belum selesai. Lagu "Oft In The Stilly Night" versi John McCormack menjadi salah satu elemen paling haunting di film ini. Setelah film selesai pun, nuansa suramnya masih terasa nempel di kepala.

5. Apakah Hokum recommended untuk ditonton?

Kalau kamu mencari horor yang ramai jumpscare murahan dan penuh teriakan karakter bodoh, mungkin Hokum bukan pilihan yang tepat. Namun jika kamu rindu film horor yang benar-benar membangun atmosfer, memainkan psikologi penonton, sekaligus mengangkat elemen misteri untuk dipecahkan, film ini wajib masuk watchlist.

Damian McCarthy sekali lagi membuktikan dirinya sebagai salah satu sutradara horor paling menarik dekade ini. Ia tak hanya punya pemahaman klasik tentang cerita hantu, tapi juga mampu membuat semuanya terasa segar dan modern. Memang, bagian akhir film sedikit kehilangan fokus karena terlalu banyak menjelaskan latar belakang cerita. Namun ketika Hokum berhasil menakut-nakuti penonton, efeknya benar-benar menghantui.

Dengan rating 7,3/10 di IMDb, 3,5/5 di Letterboxd, dan skor 89 persen di Rotten Tomatoes, Hokum terasa seperti folk horror yang dibuat dengan penuh cinta terhadap genre horor klasik. Buatmu pencinta horor atmosferik ala The Witch (2015), Hereditary (2018), atau Oddity, Hokum jelas sangat recommended untuk ditonton. Siapkan mental, karena film ini akan membuatmu takut pada kegelapan… sekaligus pada isi kepalamu sendiri.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Indra Zakaria
EditorIndra Zakaria

Related Articles

See More