Review The Mandalorian and Grogu, Aksi Baby Yoda yang Super Gemas

Tujuh tahun setelah Star Wars: The Rise of Skywalker (2019) menutup trilogi sekuel dengan rasa yang kurang enak, semesta Star Wars akhirnya kembali ke layar lebar lewat The Mandalorian and Grogu (2026). Film ini jelas bukan proyek kecil. Ini adalah pertaruhan besar Lucasfilm dan Disney untuk membuktikan bahwa kisah yang lahir dari serial streaming tetap terasa seperti sajian "sinema" di bioskop.
Disutradarai oleh Jon Favreau bersama penulis Dave Filoni, film ini memilih pendekatan yang aman: petualangan sederhana tentang Din Djarin/Mandalorian dan Grogu yang dibungkus aksi nonstop, nostalgia klasik Star Wars, serta tentu saja daya jual Baby Yoda yang nyaris mustahil gagal mencuri hati penonton. Hasilnya memang tidak revolusioner, tetapi cukup menyenangkan untuk mengingatkan kenapa galaksi jauh di sana pernah dan mungkin masih begitu dicintai. Berikut ulasan lengkapnya!
Sinopsis The Mandalorian and Grogu (2026)
The Mandalorian and Grogu melanjutkan kisah Din Djarin (Pedro Pascal) dan Grogu setelah musim ketiga serial The Mandalorian. Kini keduanya bekerja untuk Republik Baru di bawah komando Kolonel Ward (Sigourney Weaver), memburu sisa-sisa pasukan Kekaisaran yang masih berkeliaran di galaksi.
Misi terbaru mereka membawa Din dan Grogu ke konflik dunia kriminal bawah tanah milil Hutt. Mereka diminta menangkap Rotta, putra Jabba the Hutt, atas perintah si kembar Hutt (paman dan bibinya) yang ingin mengonsolidasikan kekuasaan setelah kekacauan di Tatooine.
| Producer | Ian Bryce, Jon Favreau, Kathleen Kennedy |
| Writer | Jon Favreau, Dave Filoni, Noah Kloor |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Adventure, sci-fi |
| Duration | 132 Minutes |
| Release Date | 20 Mei |
| Theme | Galactic adventure, one-man army, space opera |
| Production House | Lucasfilm, Walt Disney Pictures |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Pedro Pascal, Jeremy Allen White, Brendan Wayne, Lateef Crowder, Sigourney Weaver, Martin Scorsese |
Trailer The Mandalorian and Grogu (2026)
Cuplikan film The Mandalorian and Grogu (2026)
1. Visual, creature design, dan atmosfer klasik Star Wars yang kembali hidup
Hal terbaik dari The Mandalorian and Grogu adalah bagaimana film ini benar-benar terlihat seperti Star Wars. Bukan sekadar pertempuran lightsaber atau referensi nostalgia, tetapi lewat detail dunia yang kotor, ramai, dan penuh makhluk unik seperti trilogi original karya George Lucas.
Jon Favreau tampak jauh lebih percaya diri memainkan practical effect dibanding era awal serial Disney+. Alien-alien dengan riasan fisik, kostum penuh tekstur, hingga makhluk stop-motion buatan studio milik legenda VFX Phil Tippett membuat film ini punya identitas visual yang jauh lebih organik. Dunia yang dihadirkan terasa "dihuni," bukan cuma green screen kosong.
Namun, satu hal yang paling terasa adalah penggunaan teknologi LED Volume yang jauh lebih minim dibanding serialnya. Banyak adegan kini benar-benar dibangun lewat set praktikal dan lokasi fisik, sehingga skala galaksinya terasa lebih luas dan sinematik. Ada beberapa shot planet dan kota luar angkasa yang cantik dan mengingatkan pada rasa takjub saat pertama kali melihat Mos Eisley atau Cloud City.
Ditambah lagi, scoring garapan pemenang tiga kali Oscar, Ludwig Göransson, yang menjadi salah satu elemen terkuat film ini. Synth khas tema Mando masih terdengar megah dan emosional, terutama ketika dipadukan dengan adegan aksi berskala besar.
2. Struktur cerita terasa seperti episode serial yang dijahit jadi satu
Sayangnya, begitu urusan visual selesai memukau, film ini mulai kehilangan tenaganya di bagian cerita. Masalah terbesar The Mandalorian and Grogu adalah ia tidak pernah benar-benar terasa seperti film bioskop yang utuh. Rasanya seperti empat episode serial Disney+ yang disatukan menjadi satu petualangan panjang dengan potongan-potongan yang jorok.
Narasinya bergerak dalam beberapa "bab" berbeda dengan tone yang terus berubah. Kadang terasa seperti film western luar angkasa, lalu tiba-tiba berubah menjadi monster movie, kemudian menjadi aksi gladiator ala Return of the Jedi (1983). Transisi ini memang membuat film selalu bergerak, tetapi juga sulit untuk membangun emosinya.
Tempo filmnya juga agak aneh. Favreau terkesan seperti menginjak rem mendadak beberapa kali hanya untuk pindah ke misi berikutnya. Akibatnya, konflik terasa tidak pernah benar-benar punya bobot emosional. Taruhannya terasa kecil, padahal nasib New Republic sedang dipertaruhkan.
Kekurangan berikutnya adalah absennya tema besar khas Star Wars. Tidak ada drama keluarga yang kuat, konflik ideologi yang tajam, atau pertanyaan moral besar yang membuat saga ini berkesan. Film ini terlalu sibuk memastikan penonton terus terhibur dengan betapa badass-nya Mando dan imutnya Grogu sampai lupa membangun cerita yang lebih dalam.
3. Mando dan Grogu jadi daya tarik, tapi film terlalu bermain aman
Meski ceritanya tipis, chemistry Din Djarin dan Grogu tetap menjadi jantung utama film. Relasi ayah-anak masih bekerja sangat baik, bahkan ketika dialognya minim. Ada kehangatan sederhana yang membuat penonton tetap peduli pada perjalanan mereka. Grogu khususnya masih menjadi magnet penonton keluarga dan anak-anak. Namun di sisi lain, film terlalu bermain aman.
Semua konflik besar selalu kembali ke status quo. Bahkan karakter baru seperti Rotta the Hutt yang sebenarnya punya potensi unik tidak pernah diberi ruang berkembang lebih jauh. Ini berbeda dengan spin-off seperti Rogue One: A Star Wars Story (2016) atau Solo: A Star Wars Story (2018) yang setidaknya mencoba sesuatu yang lebih ambisius.
The Mandalorian and Grogu juga terlalu bergantung pada aksi sejak menit awal. Kejar-kejaran pesawat, duel monster, baku tembak, hingga pertarungan arena terus muncul sepanjang durasi. Secara kuantitas, jelas film ini tidak kekurangan spectacle. Namun ironisnya, aksi di dalamnya sering terasa kurang memorable.
Din Djarin adalah petarung jarak dekat yang brutal dan kreatif, tetapi banyak adegan pertarungannya di sini diambil dengan framing yang kurang tepat. Kamera Favreau kadang kesulitan menangkap intensitas fisik dari stunt performer. Ada beberapa momen aksi yang benar-benar seru, terutama adegan permainan dejarik hidup yang chaotic. Namun di babak ketiga, film mulai kehabisan energi. Klimaksnya terlalu panjang dan dipenuhi trik naratif yang kurang meyakinkan.
4. Apakah The Mandalorian and Grogu recommended untuk ditonton?
Kalau kamu penggemar kasual Star Wars, terutama serial The Mandalorian, jawabannya tentu iya. Film ini tetap menyenangkan sebagai petualangan ringan bersama Mando dan Grogu. Visualnya memanjakan mata, dunianya terasa hidup, dan chemistry duo protagonisnya masih sangat kuat. Namun kalau berharap film ini menjadi kebangkitan besar Star Wars di layar lebar, mungkin ekspektasimu perlu sedikit diturunkan.
The Mandalorian and Grogu terlalu aman untuk dianggap spesial. Ia lebih mirip comfort movie ketimbang blockbuster ambisius yang mendorong saga ini ke arah baru. Meski begitu, di tengah banyak blockbuster modern yang sibuk menjadi gelap dan terlalu serius, film ini justru memilih menjadi petualangan hangat tentang ayah dan anak angkatnya. Kadang, itu saja sudah cukup.
Bagi penggemar lama, film ini mungkin terasa seperti pengingat bahwa Star Wars saat ini memang bukan lagi tentang revolusi besar. Ia lebih mirip serial petualangan mingguan yang kebetulan dipindahkan ke layar bioskop. Dan jujur saja, selama Grogu masih muncul dengan tingkah lucunya, banyak penonton yang akan tetap datang untuk membeli tiket.



















![[QUIZ] Berdasar Zodiak, Kamu Kurban Apa Tahun Ini?](https://image.idntimes.com/post/20230628/title-f7ce0f4ade2420f4aebea6a4aa386be7.jpg)