Review Film Rumah Tanpa Cahaya, Drama Keluarga yang Hangat

- Film Rumah Tanpa Cahaya menghadirkan kisah kehilangan dan peran ibu dalam keluarga
- Narasi ringan namun menghantam emosi penonton, sinematografi sederhana tapi fokus pada permainan aktor
- Meskipun terdapat kekurangan, film ini tetap direkomendasikan untuk ditonton bersama keluarga
SinemArt bersama Citra Sinema kembali menghadirkan film keluarga yang mencoba menyentil nurani penonton lewat kisah kehilangan. Rumah Tanpa Cahaya (2025) bukan sekadar drama tentang duka, tapi refleksi tentang betapa krusialnya sosok ibu dalam rumah tangga, peran yang sering dianggap "biasa" sampai akhirnya benar-benar pergi.
Disutradarai oleh Ody C. Harahap dan diproduseri Deddy Mizwar, film ini memilih jalur yang sederhana, dekat dengan keseharian keluarga Indonesia, dan itu justru jadi kekuatan utamanya. Seperti apa hasilnya? Mari simak ulasannya di bawah!
Sinopsis Rumah Tanpa Cahaya (2026)
Pada awalnya, keluarga Pak Qomar (Donny Damara) digambarkan hangat dan utuh bersama sang istri, Nurul (Ira Wibowo), serta dua putra mereka, Samsul (Ridwan Ghany) dan Azizi (Lavicky Nicholas). Nurul adalah figur yang menjadi cahaya sekaligus penyangga emosi seluruh anggota keluarga. Mereka menggantungkan hidup dari usaha warung empal gentong yang sudah lama berjalan.
Namun segalanya runtuh ketika Nurul meninggal dunia secara mendadak selepas salat Subuh. Rumah yang dulu penuh tawa berubah sunyi. Pak Qomar terjerembap dalam kesepian, sementara Samsul dan Azizi terlibat konflik berkepanjangan. Lebih buruk lagi, usaha keluarga terancam gulung tikar karena tak satu pun dari mereka benar-benar menguasai resep rahasia sang ibu.
Dalam kondisi terdesak, berbagai cara pun ditempuh, bahkan sampai pilihan-pilihan ekstrem. Pertanyaannya adalah, bisakah mereka bangkit tanpa "cahaya" yang selama ini menaungi hidup mereka?
| Producer | Zairin Zain, Deddy Mizwar |
| Writer | Syaikhu Luthfi, Deddy Mizwar, Zairin Zain, Odi Harahap, Amiruddin Olland, Rafi Muhammad Zuhdi |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Drama, family |
| Duration | 102 Minutes |
| Release Date | 12 Februari |
| Theme | Family-centric Drama |
| Production House | Citra Sinema, Sinemart |
| Where to Watch | Bioskop |
| Cast | Ira Wibowo, Donny Damara, Lavicky Nicholas, Ridwan A. Ghany, Dea Annisa, Galabby Thahira, Ence Bagus |
Trailer Rumah Tanpa Cahaya (2026)
Cuplikan film Rumah Tanpa Cahaya (2026)
1. Narasi ringan, tapi menghantam emosi
Secara struktur, Rumah Tanpa Cahaya berjalan dengan narasi yang sangat mudah diikuti. Konfliknya tidak rumit, dialognya cukup membumi, dan ritmenya sengaja dibuat pelan. Namun dari kesederhanaan itulah emosi film bekerja. Pada penayangan perdananya di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (9/2/2026), tak sedikit penonton yang terlihat menyeka air mata.
Sosok Nurul yang diperankan Ira Wibowo menjadi poros utama cerita. Meski kehadirannya di layar relatif singkat, bayang-bayangnya selalu terasa di setiap adegan. Film ini dengan efektif memperlihatkan bagaimana satu figur ibu mampu menjaga keseimbangan rumah, dan bagaimana kekosongan peran itu langsung memicu kekacauan ketika ia tiada.
Penggunaan lagu "Doa untuk Ibu" dari Ungu di beberapa momen kunci memang terasa manipulatif secara emosional. Namun jujur saja, cara ini berhasil. Banyak penonton terseret nostalgia, mengaitkan cerita di layar dengan pengalaman mereka sendiri bersama orang tua tercinta.
2. Sinematografi sederhana, fokus pada permainan aktor
Dari sisi visual, film ini tidak menawarkan sesuatu yang spektakuler. Sinematografinya cenderung biasa, dengan komposisi gambar yang fungsional dan minim gaya. Namun pendekatan ini justru membuat perhatian penonton tertuju pada performa para pemain.
Donny Damara tampil solid sebagai Pak Qomar, memperlihatkan sosok ayah yang benar-benar kosong setelah kehilangan pasangan hidup. Permainannya terasa menahan, tidak meledak-ledak, tapi justru itu yang membuat kesepiannya terasa nyata. Ira Wibowo pun berhasil menghadirkan figur ibu yang hangat tanpa terjebak melodrama berlebihan.
Kejutan datang dari Dea Annisa, yang memberi lapisan emosional tambahan lewat karakternya, sementara kemunculan Ence Bagus menghadirkan selipan komedi kecil yang membantu meredakan ketegangan. Ini bukan film dengan visual megah, tapi tetap terasa "hidup" karena kekuatan aktingnya.
3. Seberapa recommended Rumah Tanpa Cahaya untuk ditonton?
Rumah Tanpa Cahaya tidak melulu tenggelam dalam duka. Ada humor ringan, bahkan beberapa candaan yang menyinggung hal-hal viral masa kini. Salah satunya adalah kehadiran karakter Aura, yang sayangnya terasa agak membelokkan fokus cerita ke jalur yang berbeda. Pesan yang ingin disampaikan tentang jalan "instan" dan konsekuensinya sebenarnya menarik, tapi eksekusinya terasa gamang.
Durasi 102 menit juga terasa sedikit panjang karena cerita kadang kehilangan fokus. Meski begitu, kekuatan emosi para pemain utama membuat film ini tetap relevan untuk ditonton, terutama bersama keluarga. Rumah Tanpa Cahaya bukanlah karya yang revolusioner secara sinema, naskahnya bahkan kadang terasa seperti FTV, tetapi dieksekusi dengan hati.
Pada akhirnya, Rumah Tanpa Cahaya hadir sebagai film yang jujur, sunyi, dan emosional. Ia mengingatkan kita bahwa duka tidak selalu hadir lewat tangis keras, tapi sering muncul dalam keheningan, jarak, dan kekacauan kecil di antara anggota keluarga. Kalau kamu sedang mencari tontonan yang bisa jadi bahan refleksi tentang keluarga dan peran orang tua, Rumah Tanpa Cahaya layak masuk daftar.


















