Pernah nonton film olahraga tapi rasanya seperti diseret masuk ke pusaran ego, kecemasan, dan ambisi yang brutal? Itulah sensasi saat nonton Marty Supreme (2026). Jujur, ini bukanlah tontonan nyaman melainkan roller coaster psikologis yang memaksa kita ikut terengah-engah bersama protagonisnya.
Setelah lama dikenal lewat duet "Safdie Brothers", Josh Safdie akhirnya melangkah sendiri lewat film ini. Dan alih-alih bermain aman, ia justru menyuguhkan karya yang terasa seperti kelanjutan spiritual dari Good Time (2017) dan Uncut Gems (2019). Film ini adalah gambaran potret New York yang hiruk, penuh tipu daya, dan dihuni manusia-manusia yang hidupnya digerakkan oleh obsesi. Ditulis bersama kolaborator lamanya, Ronald Bronstein, film ini terinspirasi dari kisah nyata legenda tenis meja Amerika, Marty Reisman.
Dengan torehan pujian kritikus dan sembilan nominasi Oscar, Marty Supreme langsung masuk radar sebagai salah satu film paling "berisik" secara artistik tahun ini. Lalu, seberapa istimewa sebenarnya film ini? Berikut ulasannya!
