Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Review Marty Supreme, Kisah Wong Cilik yang Bermimpi Besar
Marty Supreme (dok. A24/Marty Supreme)
  • “Marty Supreme” karya solo Josh Safdie menggambarkan ambisi dan obsesi gelap lewat kisah Marty Mauser, salesman sepatu era 1950-an yang mengejar mimpi besar di dunia tenis meja.
  • Film ini menampilkan gaya sinema intens dan chaotic khas Safdie, dengan narasi cepat, konflik bertubi-tubi, serta visual dan musik yang menciptakan ketegangan konstan sepanjang cerita.
  • Penampilan Timothée Chalamet dipuji sebagai performa paling berani dalam kariernya, memerankan anti-hero kompleks yang manipulatif namun tetap memancing empati penonton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah nonton film olahraga tapi rasanya seperti diseret masuk ke pusaran ego, kecemasan, dan ambisi yang brutal? Itulah sensasi saat nonton Marty Supreme (2026). Jujur, ini bukanlah tontonan nyaman melainkan roller coaster psikologis yang memaksa kita ikut terengah-engah bersama protagonisnya.

Setelah lama dikenal lewat duet "Safdie Brothers", Josh Safdie akhirnya melangkah sendiri lewat film ini. Dan alih-alih bermain aman, ia justru menyuguhkan karya yang terasa seperti kelanjutan spiritual dari Good Time (2017) dan Uncut Gems (2019). Film ini adalah gambaran potret New York yang hiruk, penuh tipu daya, dan dihuni manusia-manusia yang hidupnya digerakkan oleh obsesi. Ditulis bersama kolaborator lamanya, Ronald Bronstein, film ini terinspirasi dari kisah nyata legenda tenis meja Amerika, Marty Reisman.

Dengan torehan pujian kritikus dan sembilan nominasi Oscar, Marty Supreme langsung masuk radar sebagai salah satu film paling "berisik" secara artistik tahun ini. Lalu, seberapa istimewa sebenarnya film ini? Berikut ulasannya!

Sinopsis Marty Supreme (2026)

Berlatar New York era 1950-an, Marty Mauser (Timothée Chalamet) adalah salesman sepatu yang licin, jago bicara, dan punya satu bakat rahasia: ping pong. Demi mengejar mimpi tampil di British Open London, ia nekat mencuri uang bos sekaligus pamannya karena tak sanggup menunggunya.

Petualangannya di Eropa justru makin kacau. Marty menyusup ke lingkaran elite, memanfaatkan relasi dengan miliarder eksentrik, bahkan menjalin hubungan terlarang dengan istrinya yang berprofesi sebagai aktris. Kekalahan di British Open tak membuatnya jera. Ia pulang ke New York membawa ego yang lebih besar, masalah yang lebih banyak, dan satu keyakinan berbahaya: tujuan membenarkan segalanya.

Marty Supreme
2026
5/5
Directed by Josh Safdie
ProducerJosh Safdie, Ronald Bronstein, Eli Bush, Anthony Katagas, Timothée Chalamet
WriterRonald Bronstein, Josh Safdie
Age RatingD17
GenreSports, comedy, drama
Duration150 Minutes
Release Date25 Februari
ThemeFictionalized biopic sports
Production HouseA24
Where to WatchBioskop
CastTimothée Chalamet, Gwyneth Paltrow, Odessa A'zion, Kevin O'Leary, Tyler Okonma, Abel Ferrara, Fran Drescher, Koto Kawaguchi

Trailer Marty Supreme (2026)

1. Bukan kisah perjuangan klasik, tapi potret anti-hero yang brutal

Kalau kamu berharap Marty Supreme adalah kisah underdog inspiratif ala film olahraga pada umumnya, selamat karena kamu akan "ditampar" sejak menit awal. Ini bukan cerita proletariat atau kelas bawah yang mengagungkan kerja keras kolektif. Film ini adalah studi karakter tentang ambisi individualistis yang liar, tentang seseorang yang percaya penuh pada kalimatnya sendiri: "Aku punya tujuan. Kau tidak."

Josh Safdie dan Bronstein membangun Marty sebagai anti-hero sejati. Ia cerdas, karismatik, tapi juga manipulatif, impulsif, dan nyaris tanpa kompas moral. Kekacauan bukan sekadar datang menghampirinya, Marty adalah pusat gravitasi chaos itu sendiri. Ia menipu, merayu, mencuri, dan bernegosiasi dengan cepat bak pukulan forehand-nya. Anehnya, dunia di sekitar Marty seolah ikut menyesuaikan ritme kegilaannya.

Film ini juga membaca American Dream dari sisi paling gelapnya. Marty bukan hanya atlet pingpong jenius. Ia adalah metafora pengusaha Amerika yang agresif dan tak puas menaklukkan satu sudut dunia. Ia ingin semuanya. Bahkan ketika harus bermain pingpong dengan anjing laut demi promosi murahan, ia tetap melakukannya. Harga diri boleh runtuh, asal tujuan tercapai.

Di lapisan lain, film ini menyentuh identitas Yahudi pasca-Perang Dunia II. Dialog kasar, stereotip, sampai penghinaan terselubung dari lawan-lawannya di luar negeri memperlihatkan bahwa kemenangan Marty bukan cuma soal olahraga, tapi juga eksistensi. Ini menjadikan Marty Supreme bukan sekadar film biopik, melainkan refleksi pahit tentang bagaimana toxic obsession membentuk reputasi Amerika di mata dunia.

2. Gambaran kekacauan dan ketidakpastian saat ini

Meski berlatar tahun 50-an, Marty Supreme terasa sangat kontemporer. Safdie memakai bahasa sinema yang resah. Plot bergerak tanpa jeda, konflik datang bertubi-tubi, dan karakter utama seolah tak diberi ruang bernapas. Ini bukan kebetulan. Film ini membaca kehidupan modern sebagai arena bertahan hidup, di mana benar atau salah hanyalah sudut pandang.

Pendekatannya mengingatkan kita pada Uncut Gems, di mana protagonisnya merasa seperti "hiu" yang yakin kalau ia akan mati jika berhenti berenang. Marty hidup dari taruhan emosional. Setiap keputusan terasa seperti lempar koin di tengah badai. Sebagai penonton, kita dipaksa ikut tenggelam dalam arus itu.

Namun, intensitas ini juga jadi pedang bermata dua. Di paruh tengah, film menjejalkan terlalu banyak subplot dan karakter sampingan. Munculnya Wally (Tyler, The Creator) sebagai sopir taksi sekaligus partner in crime Marty memang mencuri perhatian. Tapi ada juga momen ketika narasi terasa melebar, bahkan sempat lama meninggalkan ping pong sepenuhnya (jadi ini film ping pong atau bukan?).

Bagi sebagian penonton, ini akan terasa seperti gangguan fokus. Bagi yang lain, justru inilah potret hidup Marty: berantakan, tidak linear, dan penuh distraksi. Safdie seolah berkata, kekacauan bukan gangguan cerita. Kekacauan adalah ceritanya.

3. Penampilan tour de force dari Timothée Chalamet

Sulit membayangkan Marty Supreme tanpa Timothée Chalamet. Ini mungkin performa paling agresif dan nekat sepanjang kariernya. Marty Mauser di tangannya bukan sosok yang mudah disukai. Marty adalah penipu ulung, penuh ego, dan sering kali menyebalkan. Namun, Chalamet memainkannya dengan intensitas magnetik yang membuat kita tak bisa berpaling. Mirip Al Pacino di tahun 70-an.

Sepanjang film, Chalamet mengorbankan pesona bintang mudanya demi karakter yang kasar, cepat bicara, dan nyaris mengancam. Dari cara berjalan, tatapan mata, hingga ledakan emosinya, semuanya terasa hidup. Kita mungkin membenci Marty, tapi tetap terikat pada karakternya.

Yang membuat performanya istimewa adalah lapisan rapuh di balik kesombongan. Di sela semua tipu daya, Chalamet menyelipkan bayangan "wong cilik" yang ingin diakui. Itu sebabnya, setelah begitu banyak kekacauan, ia masih mampu merebut empati penonton hingga akhir.

Pemeran pendukung juga memberi warna. Hubungan Marty dengan Rachel (Odessa A'zion) terasa lebih kompleks dari sekadar pasangan muda biasa. Sementara karakter Kay Stone (Gwyneth Paltrow) menghadirkan potret perempuan yang haus cinta dan pengakuan. Akting kedua pemeran pendukung itu sukses menambah tekstur emosional pada dunia Marty yang dingin.

4. Sinematografi dan scoring yang "chaos"

Secara visual, Marty Supreme terasa seperti film 70-an yang tersesat di dekade 50-an, lalu disiram musik 80-an. Pilihan ini seolah disengaja. Safdie ingin penonton merasa tidak berada di tempat yang seharusnya, persis seperti Marty.

Sinematografer legendaris Darius Khondji (Se7eb, Amour) memberi pergerakan kamera yang gelisah, seolah ikut mengejar sang protagonis. Editing cepat Bronstein memperkuat sensasi itu. Sementara musik latar dari Oneohtrix Point Never (Daniel Lopatin), ditambah lagu-lagu dari Peter Gabriel dan Tears for Fears, sukses memberi karakter tersendiri.

Desain suara film ini luar biasa agresif. Bahkan adegan tenang pun dipenuhi bunyi-bunyian kecil yang mengganggu. Hasilnya adalah ketegangan subliminal yang konstan. Kita tidak hanya menonton Marty. Kita hidup di dalam kepalanya.

5. Apakah Marty Supreme recommended untuk ditonton?

Singkatnya: ya. Marty Supreme bisa kita sebut sebagai "Uncut Gems versi ping pong", tapi itu akan mengecilkan kejeniusan Safdie. Ini adalah potret pria yang merasa ditakdirkan untuk hebat, dan keyakinan itu perlahan menghancurkan segala hal di sekitarnya. Sangat Amerika. Sangat manusia.

Film ini bukan analisis moral yang rapi. Ia adalah pengalaman. Sebuah perjalanan liar yang melelahkan, memikat, dan kadang terasa overwhelmed. Kekacauannya menjadi kekuatan sekaligus kelemahannya. Tapi, justru di situlah letak identitasnya.

Setiap elemen film ini saling mengunci. Penyutradaraan Josh Safdie yang nekat, visual Khondji yang menegangkan, musik Lopatin yang mencekam, dan performa Chalamet yang Oscar-worthy. Bukan tak mungkin kalau Marty Supreme akan menjadi momen yang terus dikenang sang aktor, bahkan ketika ia melangkah ke proyek-proyek yang lebih besar di masa depan.

Jika kamu mencari film nyaman untuk bersantai bersama pasangan atau keluarga, mungkin ini bukan jawabannya. Tapi kalau kamu ingin merasakan sinema sebagai pengalaman visceral yang penuh adrenalin dan kegelisahan eksistensial, Marty Supreme wajib masuk daftar tontonanmu. Marty Supreme tayang di Indonesia mulai 25 Februari 2026.

Editorial Team