Review Petaka Gunung Welirang, Terinspirasi Kisah Nyata Maya Azka

- Petaka Gunung Welirang (2026) mengisahkan lima sahabat yang mendaki Gunung Welirang dan terjebak dalam teror supranatural saat Malam 1 Suro, diadaptasi dari pengalaman nyata Maya Azka.
- Film ini lebih menonjolkan drama persahabatan dan romansa dibanding horor, dengan naskah solid namun eksekusi cerita masih terasa template seperti film pendakian mistis lainnya.
- Visual alam Gunung Welirang tampil indah dan realistis, tetapi atmosfer horornya kurang kuat sehingga ketegangan tidak konsisten meski kisahnya berpotensi menghadirkan folklore menyeramkan.
Industri film horor Indonesia kembali menyajikan kisah pendakian mencekam lewat Petaka Gunung Welirang (2026). Diproduksi Starvision dan disutradarai Indra Gunawan, film ini diadaptasi dari pengalaman nyata Maya Azka saat mendaki Gunung Welirang, Jawa Timur, yang selama ini dikenal menyimpan berbagai cerita mistis di kalangan pendaki.
Mengangkat latar Alas Lali Jiwo yang melegenda, film ini mencoba memadukan kisah persahabatan, misteri, hingga teror supranatural. Namun, apakah hasil akhirnya mampu memberikan pengalaman horor yang benar-benar mencekam? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!
Sinopsis Petaka Gunung Welirang (2026)
Film ini mengikuti kisah lima sahabat, yaitu Satria (Antonio Blanco Jr), Naya (Alika Jantinia), Arga (Giulio Parengkuan), Noval (Razan Zu), dan Tita (Jinan Safa), yang memutuskan mendaki Gunung Welirang untuk merayakan kelulusan mereka.
Perjalanan yang awalnya dipenuhi tawa berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka mendaki tepat menjelang Malam 1 Suro. Di tengah perjalanan, kelompok tersebut mulai mengalami berbagai kejadian di luar nalar, mulai dari suara gamelan misterius, penampakan makhluk gaib, hingga tersesat di dimensi yang seolah tak memiliki jalan keluar.
Semua teror itu mengarah pada sosok Sang Ratu, penguasa istana gaib Gunung Welirang beserta para penarinya. Kini, kelima sahabat tersebut harus bertahan hidup sambil mencari jalan keluar dari Alas Lali Jiwo sebelum mereka menjadi bagian dari kerajaan gaib tersebut.
| Producer | Chand Parwez Servia, Riza, Mithu Nisar |
| Writer | Upi, Maya Azka |
| Age Rating | R13 |
| Genre | Horror, adventure, romance |
| Duration | 105 Minutes |
| Release Date | 2 Juli |
| Theme | Survival horror, backwoods horror, supernatural horror, mountain adventure |
| Production House | Starvision |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Antonio Blanco Jr., Alika Jantinia, Giulio Parengkuan, Razan Zu, Jinan Safa, Ramon Y. Tungka, Agus Kuncoro, Shatora Narajan, Jameelah Saleem, Hana Saraswati |
Trailer Petaka Gunung Welirang (2026)
Cuplikan film Petaka Gunung Welirang (2026)
1. Drama persahabatan dan romansa justru lebih dominan daripada horor
Salah satu hal yang paling terasa dari Petaka Gunung Welirang adalah fokusnya yang lebih besar pada dinamika persahabatan alih-alih horor. Hubungan lima tokoh utama dibangun cukup natural, lengkap dengan konflik kecil, canda, hingga bumbu romansa yang membuat interaksi mereka terasa hidup. Sayangnya, hal tersebut justru membuat unsur horornya terasa tertinggal.
Teror yang seharusnya menjadi daya tarik utama hanya muncul sesekali dan tidak pernah berkembang menjadi ancaman yang benar-benar mencekam. Bahkan, jika elemen supranatural dihilangkan, film ini nyaris terasa seperti drama pendakian ala 5 CM (2012) yang dibumbui sedikit kisah mistis.
Naskah karya Upi memang patut diapresiasi karena tidak lagi bergantung pada twist yang dipaksakan seperti beberapa film horor pendakian sebelumnya. Namun, eksekusinya masih terasa template dengan pola cerita yang mengingatkan pada berbagai film sejenis seperti KKN di Desa Penari (2022), Dusun Mayit (2025), Petaka Gunung Gede (2025), hingga Sekawan Limo (2024).
2. Visual indah, tetapi atmosfer horornya kurang terasa
Berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia yang identik dengan pencahayaan gelap, Petaka Gunung Welirang justru tampil lebih terang. Visual grading yang cerah berhasil memperlihatkan keindahan alam Gunung Welirang dengan cukup maksimal, hal yang menjadi salah satu nilai jual utama film ini.
Pilihan tersebut memang membuat perjalanan para pendaki terasa realistis, tetapi di sisi lain mengurangi rasa mencekam yang seharusnya muncul dari lokasi seangker Alas Lali Jiwo. Atmosfer mistis memang dibangun melalui suara gamelan, kemunculan penari gaib, hingga legenda Sang Ratu, tetapi penyajiannya kurang mampu menciptakan ketegangan yang konsisten.
Beberapa adegan horor bahkan terasa datang begitu saja tanpa pembangunan tensi yang kuat. Akibatnya, sejumlah momen yang seharusnya menjadi klimaks justru berlalu tanpa meninggalkan kesan mendalam. Padahal, latar kisah nyata dan mitologi Gunung Welirang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menghadirkan horor folklore yang jauh lebih menyeramkan.
3. Apakah Petaka Gunung Welirang recommended untuk ditonton?
Kalau kamu mencari film horor pendakian dengan jumpscare intens dan teror tanpa henti, Petaka Gunung Welirang mungkin kurang memuaskan. Porsi horornya tergolong minim, sementara ritme cerita cenderung lambat sehingga ketegangannya tidak terjaga sampai akhir.
Namun, film ini tetap memiliki beberapa kelebihan. Chemistry para pemain solid, hubungan antarkarakternya cukup meyakinkan, dan kisah yang diangkat dari pengalaman nyata Maya Azka memberikan nilai tambah bagi penonton yang menyukai cerita mistis lokal. Visual pegunungan yang indah juga menjadi daya tarik tersendiri.
Secara keseluruhan, Petaka Gunung Welirang adalah film yang lebih cocok dikemas sebagai drama persahabatan berlatar pendakian alih-alih sebagai film horor. Bagi pencinta horor folklore Indonesia, film ini masih layak dicoba. Namun, jangan berharap pengalaman seintens film-film horor pendakian terbaik dalam beberapa tahun terakhir.





















