Review The Furious, Film Aksi Terbrutal Dekade Ini, Penerus The Raid?

- The Furious (2026) mempertemukan Joe Taslim dan Yayan Ruhian dalam film aksi Asia penuh adrenalin, mengisahkan perjuangan ayah bisu mencari anaknya yang diculik sindikat perdagangan manusia.
- Film ini menonjol lewat koreografi pertarungan cepat dan brutal, memadukan berbagai disiplin bela diri seperti judo, kung fu, MMA, hingga pencak silat tanpa jeda berarti sepanjang durasi.
- Meskipun memiliki kekurangan pada dubbing dan dialog, The Furious tetap direkomendasikan karena aksi intensnya yang membuat penonton membandingkannya dengan The Raid sebagai tolok ukur film laga modern.
Setelah lebih dari satu dekade sejak The Raid (2011) dan The Raid 2: Berandal (2014) mengguncang perfilman aksi dunia, akhirnya muncul film yang cukup berani untuk berdiri di meja yang sama. The Furious (2026) mempertemukan kembali Joe Taslim dan Yayan Ruhian, pemeran Jaka dan Mad Dog, dalam sebuah laga brutal yang nyaris tak memberi kesempatan penonton untuk bernapas.
Disutradarai oleh Kenji Tanigaki dan dibintangi deretan bintang aksi Asia lainnya seperti Xie Miao (Mo Tse), Brian Le, JeeJa Yanin, hingga Joey Iwanaga, The Furious bukan sekadar film aksi biasa. Film ini adalah perayaan sinema aksi Asia yang penuh adrenalin, keras, dan sangat memuaskan bagi penggemar hand-to-hand combat. Bagimu yang penasaran, ini ulasannya!
Sinopsis The Furious (2026)
The Furious mengikuti kisah Wang Wei (Xie Miao), seorang ayah bisu yang hidupnya hancur setelah putrinya, Rainy, diculik oleh sindikat perdagangan manusia di Asia Tenggara. Alih-alih menunggu bantuan yang tak kunjung datang, Wang memutuskan untuk mencari anaknya sendiri. Perjalanannya membawanya masuk ke jaringan kriminal internasional yang jauh lebih besar dan berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Dalam misinya, Wang bertemu Navin (Joe Taslim), seorang jurnalis yang juga tengah mencari istrinya, Matia (JeeJa Yanin), yang hilang saat menyelidiki kasus perdagangan manusia yang sama. Keduanya pun bekerja sama untuk menembus dunia kejahatan yang penuh kekerasan demi menyelamatkan orang-orang yang mereka cintai.
Misi tersebut berubah menjadi perjalanan penuh darah, pengkhianatan, dan pertarungan brutal yang mempertaruhkan nyawa mereka di setiap langkah. Mampukah Wang menyelamatkan putrinya, dan Navin menemui istrinya lagi?
| Producer | Frank Hui, Bill Kong, Shan Tam |
| Writer | Frank Hui, Zhilong Lei, Tin Shu Mak, Kwan Sin Shum |
| Age Rating | D17 |
| Genre | Action, thriller, crime |
| Duration | 113 Minutes |
| Release Date | 17 Juni |
| Theme | Kung fu, martial arts, abduction thriller |
| Production House | Lionsgate |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia |
| Cast | Xie Miao, Joe Taslim, Yang Enyou, Jeeja Yanin, Brian Le, Joey Iwanaga, Yayan Ruhian |
Trailer The Furious (2026)
Cuplikan film The Furious (2026)
1. Cerita simpel, tetapi emosinya relate dengan penonton
Salah satu kekuatan terbesar The Furious justru terletak pada skalanya yang relatif kecil. Film ini tidak berbicara tentang ancaman kiamat, senjata pemusnah massal, atau nasib dunia. Fokusnya hanya satu, yakni seorang ayah yang ingin menemukan anaknya dan seorang suami yang ingin menyelamatkan istrinya.
Meski sederhana, taruhannya terasa nyata karena isu yang diangkat sangat dekat dengan realita di sekitar kita. Perdagangan manusia, eksploitasi tenaga kerja, hingga penculikan berkedok lowongan kerja masih menjadi persoalan serius di berbagai negara Asia, khususnya Asia Tenggara.
Pendekatan ini mengingatkan kita pada The Raid, yang juga berhasil membangun ketegangan besar dari konflik yang sebenarnya sangat personal. Akibatnya, perjuangan Wang Wei dan Navin terasa mudah dipahami dan membuat penonton benar-benar peduli pada nasib mereka.
Di balik semua aksi brutalnya, The Furious tetap menyisakan kritik sosial mengenai bagaimana korban-korban dari sistem yang korup sering kali harus berjuang sendirian demi mendapatkan keadilan.
2. Aksi super cepat sepanjang film, bikin susah napas
Namun mari jujur saja. Sebagian besar penonton datang ke bioskop bukan untuk menonton plot penculikan anak, melainkan untuk menyaksikan orang-orang saling menghajar satu sama lain. Dan di sinilah letak keunggulan The Furious.
Film ini menghadirkan koreografi pertarungan yang luar biasa cepat. Bukan cepat karena trik editing dengan puluhan potongan gambar dalam beberapa detik seperti banyak film aksi Hollywood modern. Kecepatan di sini benar-benar berasal dari kemampuan para aktornya.
Joe Taslim tampil mematikan dengan berbagai teknik judo dan submission khasnya. Xie Miao membawa gaya kung fu tradisional yang eksplosif. Karakter lain menggunakan MMA, karate, hingga taekwondo. Sementara itu, Yayan Ruhian kembali membuktikan mengapa pencak silat masih menjadi salah satu seni bela diri paling mematikan di layar lebar.
Setiap karakter memiliki identitas bertarung yang berbeda. Hasilnya adalah tabrakan berbagai disiplin bela diri yang menghasilkan adegan aksi nyaris tanpa jeda. Tak sekali dua kali koreografinya berjalan begitu cepat hingga sulit diikuti mata. Belum selesai mencerna satu bantingan, karakter lain sudah melancarkan kombinasi serangan berikutnya. Kurang lebih, itulah yang terjadi di 30 menit terakhir film.
Brutalitasnya pun tidak main-main. Orang ditusuk, dipukul hingga babak belur, dimutilasi, ditembak, bahkan mengalami nasib yang jauh lebih mengerikan. Bagi penggemar film aksi berdarah-darah, The Furious adalah surga yang luar biasa memuaskan.
3. Apakah The Furious recommended untuk ditonton?
Sangat direkomendasikan, terutama jika kamu penggemar film aksi yang brutal. Memang ada beberapa kekurangan yang cukup terasa. Kualitas dubbing dan efek suara di beberapa adegan terdengar kurang natural. Dialognya pun cenderung minim dan kadang terasa kaku. Namun, kelemahan tersebut nyaris tenggelam di bawah kedahsyatan aksi yang ditampilkan sepanjang film.
The Furious berhasil melakukan sesuatu yang selama ini terasa mustahil, yaitu menghadirkan film laga modern yang mampu membuat penonton kembali membandingkannya dengan The Raid. Apakah lebih baik? Itu masih bisa diperdebatkan. Namun, dari sisi spektakel aksi murni, film ini benar-benar bermain di level yang sangat tinggi. High-octane action!
Jika kamu menyukai film aksi brutal, koreografi pertarungan kelas dunia, dan ingin melihat rematch Joe Taslim serta Yayan Ruhian dalam satu layar, maka The Furious adalah tontonan yang tidak boleh dilewatkan. Film ini membuktikan bahwa sinema aksi Asia masih menjadi rumah bagi pertarungan terbaik di bioskop saat ini.
Kesimpulannya, The Furious adalah ledakan adrenalin tanpa rem, sebuah all-star action movie yang menghadirkan pertarungan brutal selama nyaris dua jam. Tiketnya sudah tersedia di Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis Indonesia mulai 17 Juni 2026. Jangan sampai terlewat, ya!


















