no na saat tampil di festival Head in the Clouds 2026 Los Angeles (instagram.com/nonawav)
Lagu adalah elemen yang penting dalam perjalanan karier musisi seperti no na. Tak bisa dimungkiri, no na butuh beberapa percobaan sampai akhirnya viral seperti sekarang. Lagu debut mereka, “shoot”, tidak buruk, tetapi tak bisa menciptakan sensasi yang membuat mereka dikenal luas. Begitu pula dengan “work”.
Keajaiban baru terjadi ketika single ketiga mereka berjudul “rollerblade” dirilis pada April 2026. Tak seperti dua lagu sebelumnya, no na memasukkan bahasa Indonesia dalam lagu tersebut, mencampurnya secara luwes dengan bahasa Inggris.
Bahkan pada penampilan langsung mereka di festival Heads in the Cloud 2026 di Los Angeles, Amerika Serikat, no na menambahkan kalimat bahasa Jawa berbunyi, “Jenenge sopo?” pada akhir lagu "rollerblade II". Formula serupa mereka pakai untuk single berikutnya yang berjudul “honk!”. no na memasukkan beberapa kata dan frasa bahasa Indonesia seperti “angkot”, “kakak adek”, dan “centil” dalam lagu tersebut dan sesuai dugaan, status viral pun mereka raih.
Praktik memadukan beberapa bahasa sekaligus dalam lirik lagu dikenal dengan istilah code-mixing. Merujuk tulisan Picone berjudul ‘Lyrical Code-Switching, Multimodal Intertextuality, and Identity in Popular Music’ dalam jurnal Language, praktik ini pertama kali dipopulerkan oleh sejumlah musisi Amerika Latin. Mereka mencampur bahasa Spanyol ke dalam lagu bahasa Inggris dan sebaliknya. Hasilnya gak mengecewakan.
Kekhawatiran bahwa penggunaan bahasa asing selain bahasa Inggris bisa bikin pendengar menjauh dan pasar mereka jadi sempit terbantahkan. Shakira adalah salah satu musisi yang berhasil menjalankan praktik ini selama kariernya. Ini bahkan membuatnya menjadi langganan FIFA untuk mengisi soundtrack turnamen olahraga. Disusul oleh banyak musisi Hispanik lain, seperti Enrique Iglesias, Luis Fonsi, Becky G, J Balvin, dan Bad Bunny.
Musisi-musisi Korsel pun mengikutinya dan terbukti popularitas mereka tidak terpengaruh meski banyak pendengar mereka yang mungkin tidak berbahasa Korea. Saint Levant adalah contoh lain dari musisi yang melakukan praktik code-mixing dengan mencampurkan bahasa Inggris, Prancis, dan Arab dalam lirik-lirik gubahannya. Masih merujuk tulisan Picone, praktik ini berhasil bikin musisi lebih mudah dikenal karena punya ciri khas yang mereka ekstrak dari akar budaya masing-masing. Ciri khas tersebut pula yang mampu memfasilitasi upaya pemasaran lagu. Tampaknya, formula ini pula yang sedang dipakai no na.