Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Soundtrack Film Era 1980-an yang Underrated, Layak Didengar!

4 min read
5 Soundtrack Film Era 1980-an yang Underrated, Layak Didengar!
Eddie and the Cruisers (Dok. MGM/Eddie and the Cruisers)
  • Lima soundtrack film 1980-an yang kurang mendapat perhatian menawarkan ragam musik, dari rock klasik dan pop rock hingga jazz autentik serta orkestra romantis.
  • Eddie and the Cruisers menonjol lewat “On the Dark Side”; Streets of Fire menghadirkan “Nowhere Fast” dan “Never Be You” dalam nuansa rock berenergi.
  • The Cotton Club, Bird, dan Always mengandalkan rekonstruksi jazz era Charlie Parker serta komposisi John Williams untuk memperkuat atmosfer cerita.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Era 1980-an menjadi salah satu periode menarik dalam sejarah musik dan perfilman. Pada masa ini, banyak film menghadirkan soundtrack yang bukan sekadar pelengkap cerita, tetapi juga membantu membangun suasana dan memperkuat emosi penonton. Beberapa di antaranya bahkan memiliki lagu-lagu yang masih enak didengarkan hingga sekarang.

Menariknya, tidak semua soundtrack berkualitas dari era tersebut mendapatkan perhatian yang sepadan. Ada album yang menyimpan lagu rock penuh energi, ada pula yang menawarkan komposisi jazz autentik hingga musik orkestra menyentuh hati. Jika selama ini soundtrack film 1980-an yang dikenal hanya berasal dari judul-judul populer, lima album berikut layak masuk daftar putar pencinta musik dan film klasik.

  1. 1. Eddie and the Cruisers (1983)

    Eddie and the Cruisers merupakan film drama musikal tentang Eddie Wilson, mantan bintang rock yang kembali menjadi bahan pembicaraan setelah keberadaannya dan perjalanan kariernya mulai ditelusuri. Ceritanya berganti antara masa kini dan kilas balik yang memperlihatkan perjalanan Eddie bersama bandnya, The Cruisers, serta konflik yang membuat mereka berpisah.

    Daya tarik utamanya terletak pada soundtrack yang terasa seperti dokumentasi perjalanan sebuah band rock sungguhan. Gaya musik The Cruisers memiliki nuansa rock klasik yang mengingatkan pada The Doors dan Bruce Springsteen bersama E Street Band, meskipun band dalam film ini merupakan kelompok fiktif. Lagu “On the Dark Side” menjadi salah satu trek paling dikenal dan sempat masuk tangga lagu Billboard setelah filmnya dirilis.

  2. 2. The Cotton Club (1984)

    Disutradarai Francis Ford Coppola, The Cotton Club membawa penonton ke dunia klub jazz Harlem pada era 1930-an. Film ini menggambarkan kehidupan para musisi dan orang-orang yang berada di sekitar tempat hiburan tersebut, dengan latar kehidupan malam penuh kemewahan sekaligus ketegangan sosial. Salah satu daya tariknya adalah upaya menghadirkan kembali atmosfer sebuah periode penting dalam sejarah musik Amerika.

    Soundtrack The Cotton Club memadukan komposisi orisinal karya John Barry dengan sejumlah lagu jazz klasik yang dibawakan melalui aransemen orkestra. Kehadiran musik Duke Ellington turut memperkuat nuansa zamannya, sementara Gregory Hines menambah sentuhan autentik lewat kemampuan menarinya. Hasilnya adalah album yang menghadirkan pengalaman seolah-olah sedang berada di dalam klub jazz pada masa tersebut.

  3. 3. Streets of Fire (1984)

    Walter Hill menggambarkan Streets of Fire sebagai sebuah kisah rock and roll penuh gaya. Ceritanya mengikuti upaya seorang mantan tentara menyelamatkan penyanyi rock yang diculik oleh kelompok motor bernama The Bombers. Dengan karakter yang mencolok, adegan kejar-kejaran, dan penampilan Willem Dafoe sebagai antagonis, film ini memiliki identitas visual yang kuat dan terasa sangat khas era 1980-an.

    Soundtrack-nya juga tidak kalah menarik karena menggabungkan pop rock, hard rock, dan aransemen rock megah. Salah satu lagu paling menonjol adalah “Nowhere Fast” karya Jim Steinman, yang mengiringi adegan pembuka dengan energi tinggi dan langsung membangun suasana film. Selain itu, album ini memuat “Never Be You” yang dibawakan Maria McKee, lagu yang ditulis oleh Tom Petty dan pernah direkamnya bersama Heartbreakers.

  4. 4. Bird (1988)

    Clint Eastwood menunjukkan sisi lain kemampuannya sebagai sutradara melalui Bird, film biografi tentang Charlie Parker, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah jazz. Forest Whitaker memerankan musisi legendaris tersebut dalam kisah yang menelusuri perjalanan kariernya, termasuk keberhasilan dan persoalan pribadi yang dihadapinya.

    Soundtrack Bird menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan kehidupan dan karya Charlie Parker secara autentik. Karena kualitas rekaman lama Parker tidak selalu memadai untuk kebutuhan film, Eastwood berupaya memperoleh materi musik istri Parker dan melibatkan musisi jazz lain untuk mendukung penyajiannya. Hasilnya membantu penonton memahami karakter Parker sekaligus merasakan suasana jazz pada zamannya.

  5. 5. Always (1989)

    Always mungkin tidak sepopuler film-film Steven Spielberg lainnya, tetapi kisah romantis bernuansa fantasi ini memiliki daya tarik tersendiri. Film tersebut mengikuti Pete, seorang pilot pemadam kebakaran yang meninggal ketika menjalankan tugas dan kemudian kembali dalam bentuk roh untuk membantu orang-orang yang ditinggalkannya.

    Salah satu kekuatan film ini adalah musik orkestra karya John Williams yang memberikan suasana romantis dan penuh keajaiban. Komposisinya menghadirkan melodi yang mengalir lembut. Kolaborasi Spielberg dan Williams sebelumnya menghasilkan Indiana Jones and the Last Crusade, yang sangat sukses pada 1989, sehingga musik Always mungkin tidak memperoleh perhatian sebesar karya mereka yang lebih terkenal.

    Kelima soundtrack film era 1980-an ini menawarkan pengalaman mendengarkan yang beragam. Jika ingin menemukan album soundtrack lawas yang tidak terlalu sering dibicarakan tetapi punya daya tarik kuat, mana yang paling ingin kamu dengarkan terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More