Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sutradara Bunga di Tepi Jurang soal Karakter Andini, Ingin Terasa Real
Konferensi pers "Bunga di Tepi Jurang" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/7/2026) (dok. Istimewa)

Jakarta, IDN Times – MAXStream TV dan iQIYI menghadirkan serial terbaru Bunga di Tepi Jurang, karya sutradara Angling Sagaran yang mengangkat kisah perjuangan seorang perempuan menghadapi trauma, eksploitasi, dan upaya menemukan kembali jati dirinya. Lewat karakter Andini yang diperankan Claresta Taufan, serial ini berusaha menampilkan perjalanan emosional seorang perempuan secara mendalam.

Karena berpusat pada pengalaman perempuan, sutradara Angling Sagaran pun ditanya mengenai pendekatannya sebagai sutradara laki-laki dalam menggarap cerita tersebut. Ia menegaskan, sejak awal proses kreatifnya selalu berangkat dari riset, observasi, dan diskusi bersama para pemain agar karakter Andini terasa autentik, bukan sekadar hasil sudut pandang laki-laki atau male gaze.

1. Angling Sagaran memulai dengan observasi karakter

Angling Sagaran saat konferensi pers "Bunga di Tepi Jurang" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/7/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Dalam konferensi pers Bunga di Tepi Jurang di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/7/2026), Angling menjelaskan, ia terlebih dahulu mempelajari naskah dan melakukan observasi sebelum memulai proses produksi.

Menurutnya, fondasi perspektif perempuan sebenarnya sudah kuat sejak tahap penulisan skenario. Sebagai sutradara, ia hanya bertugas menyempurnakan penyampaiannya di layar.

"Pertama mungkin memang saya mengkaji dulu, saya observasi dulu, dan saya juga mau pelajari dulu ceritanya," ujarnya.

Ia menambahkan, naskah serial ini sejak awal telah dibangun dengan sudut pandang perempuan yang jelas.

"Sebetulnya perspektif perempuan sudah ada di sini. Saya hanya tinggal touch up aja, karena penulisan skenario ini udah bagus," lanjut Angling.

2. Ingin Andini terasa seperti sosok yang benar-benar ada

Angling Sagaran saat konferensi pers "Bunga di Tepi Jurang" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/7/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Bagi Angling, tantangan terbesar bukan hanya menyampaikan cerita, melainkan membuat karakter Andini terasa hidup dan dekat dengan penonton. Karena itu, seluruh pemain menjalani proses reading yang cukup panjang agar memahami latar belakang dan motivasi setiap karakter sebelum syuting dimulai.

"Jadi sesungguhnya ketika saya dapat cerita ini, saya juga mempelajari, saya juga melakukan observasi, akhirnya saya coba ingin mewujudkan bahwa Andini ini benar-benar dipercaya sama penonton yang benar-benar hidup. Menjadi sebuah tokoh yang memang ada atau real di kehidupan nyata," tegasnya.

Ia menilai diskusi yang intens selama proses reading menjadi salah satu kunci agar para pemain tidak hanya menghafal dialog, tetapi juga memahami perjalanan emosional karakter yang mereka perankan.

"Memang proses kami reading, bukan cuma saya dengan Andini, tapi dengan semuanya juga melewati proses reading yang cukup lumayan agak panjang, agak lama, supaya kita bisa berdiskusi tentang karakter. Jadi enggak cuma tinggal datang ke lokasi terus shooting, tapi memang melewati diskusi yang cukup dalam juga terhadap pembangunan atau pembentukan karakter ini," tuturnya.

3. Banyak dapat masukan dari Claresta Taufan

Claresta Taufan saat konferensi pers "Bunga di Tepi Jurang" di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Kamis (23/7/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Angling juga mengakui dirinya memperoleh banyak masukan dari Claresta Taufan selama proses pengembangan karakter Andini. Menurutnya, sebagai perempuan, Claresta mampu memberikan sudut pandang yang mungkin tidak ia sadari sebagai seorang laki-laki. Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun karakter utama agar tetap autentik sepanjang cerita.

"Jadi karena yang diperankan oleh Claresta itu juga kan seorang perempuan, dan ini juga saya mendapatkan banyak perspektif yang saya enggak sadari sebagai seorang laki-laki. Claresta udah perempuan kan, jadi saya tinggal membangun itu," ungkapnya.

Ia pun mengapresiasi seluruh pemain yang dinilai sangat terbuka selama proses kreatif berlangsung.

"Intinya semua pemain di sini sangat kooperatif sekali, dan mereka semua ingin memberikan yang terbaik untuk series ini," pungkas Angling.

Bunga di Tepi Jurang mengisahkan perjuangan Andini, gadis desa yang dipaksa menjadi istri keempat seorang juragan sebelum akhirnya terjerumus ke dunia malam saat mengejar impiannya di Jakarta. Selain Claresta Taufan, serial ini juga dibintangi Stefan William, Aliando Syarief, Derby Romero, Anjasmara, Olla Ramlan, Rachel Vennya, Erika Carlina, Hana Saraswati, hingga aktor asal Thailand, Mos Panuwat Sopradit. Bunga di Tepi Jurang merilis episode pertamanya pada 31 Juli 2026, dengan episode baru setiap minggunya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article