ADÉLA, Musisi Slovakia Pertama yang Tembus Billboard 100

- ADÉLA, atau Adela Jergova dari Bratislava, tetap mengejar karier musik di Los Angeles setelah tersisih dari The Debut: Dream Academy, lalu merilis single dan EP sendiri.
- Single “Ain’t in LA” yang dirilis 23 Juli 2026 viral di platform streaming, menembus Billboard 100, dan menjadikan ADÉLA musisi Slovakia pertama yang mencapai pencapaian tersebut.
- Karya ADÉLA mengangkat pengalaman pribadinya, memadukan nuansa EDM 2010-an dan pop 2000-an, serta diperkuat identitas visual Y2K-cyberpunk dan latar baletnya.
ADÉLA adalah salah satu sensasi baru di ranah musik pop Barat. Sejak merilis single “Ain’t in LA”, kariernya tak terbendung lagi. Album PRIMA yang dirilis pada 4 September 2026 disambut baik oleh pendengar global. Ia bahkan sudah tampil di beberapa festival musik besar di dunia, seperti Lollapalooza dan Reading & Leeds Festival.
Untuk seorang musisi dari Slovakia, ini adalah prestasi yang tidak biasa. Siapa sebenarnya ADÉLA? Apa faktor sukses musisi pendatang baru ini? Mari ulas sepak terjangnya.
1. Penolakan berbuah berkah

ADÉLA dan Lara KATSEYE (instagram.com/adelajergova) ADÉLA, bernama asli Adela Jergova, adalah seorang gadis asal Bratislava, Slovakia, yang dikenal publik setelah mengikuti ajang pencarian bakat bertajuk The Debut: Dream Academy. Ajang itu diselenggarakan sebagai proyek kerja sama antara label rekaman asal Korsel, HYBE, dan Geffen Records dari Amerika Serikat. Ajang itu kemudian melahirkan girl group KATSEYE. Sayang, Adela tersisih selama proses audisi.
Namun, bukannya pulang dan berhenti mengejar mimpinya menjadi bintang pop. ADELA bertahan di lokasi audisi, Los Angeles, dan mencoba peruntungan dengan mengambil kelas musik di Santa Monica College dan akhirnya merilis lagu-lagu gubahannya sendiri dalam bentuk single dan EP.
Perlahan tapi pasti, lagu ADÉLA mulai mendapat atensi publik. Pertama, “Homewrecked” mencuri perhatian ketika diputar dalam salah satu episode The Debut: Dream Academy. Kedua, lagu “SexOnTheBeat” dipilih sebagai salah satu soundtrack untuk serial HBO berjudul I Love LA.
2. Buktikan bahwa American Dream masih relevan

ADÉLA di video musik "Ain't in LA" (instagram.com/adelajergova) Namun, “Ain’t in LA” memang jadi gebrakan terbesar ADÉLA. Dirilis perdana pada 23 Juli 2026, lagu itu viral di berbagai platform streaming. Itu juga jadi lagu pertama ADÉLA yang menembus Billboard 100, sekaligus jadi lagu musisi Slovakia pertama yang bertengger di sana.
“Ain’t in LA” memang unik dari berbagai sisi. Dalam lagu itu, ADELA seolah ingin memberi sorotan kepada orang-orang berbakat di berbagai penjuru dunia yang selama ini tersisih atau terlupakan hanya karena mereka tak berada di pusat industri hiburan dunia seperti Los Angeles.
Tentu, lagu ini tentang dirinya, tetapi beresonansi dengan banyak musisi lain yang bernasib sama dengan dirinya. Lahir dan besar di negara yang dianggap "antah-berantah" dan tak punya skena musik mumpuni seperti Amerika Serikat, Inggris, atau Korsel, misalnya.
Proses seni ADÉLA sendiri tidak instan. Ia memulai kariernya sebagai seniman lewat balet. ADELA bahkan pindah dari kampung halamannya pada usia yang amat belia untuk menekuni seni tari itu. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke Los Angeles pada usia 18-19 tahun. Harus bersaing dengan jutaan seniman yang mengadu nasib di LA, kans ADELA untuk sukses saat itu sulit dipastikan.
Apalagi, sebagai perempuan asal negara Eropa Tengah, stigma lain menghantuinya. Dilansir i-D, ADÉLA sempat dicemooh karena keputusannya itu. Beberapa bahkan berseloroh bahwa ADÉLA hanya akan jadi talent OnlyFans, sebuah platform hiburan dewasa. Kini, jadi salah satu sensasi pop global, ADÉLA seolah membuktikan bahwa "American Dream" masih relevan.
3. Visual branding kuat dan talenta musik di atas rata-rata

ADÉLA (instagram.com/adelajergova) Untuk bisa mencuri perhatian, ADÉLA butuh beberapa faktor X alias pembeda. Pertama, ia mampu menulis lagu dan memproduksi demo sendiri. Lagu-lagunya pun autentik; album PRIMA dan EP The Provocateur berisi pengalaman pribadinya seperti cerita masa kecilnya di Eropa hingga berbagai pengalamannya selama berjuang di industri hiburan Amerika Serikat. Ia juga pandai menangkap tren musik yang berkembang. Aransemen musik ADÉLA mengingatkan banyak orang pada tren EDM 2010-an sekaligus musik pop energetik 2000-an. Dua-duanya nostalgik dan terbukti sedang digandrungi Gen Z serta diapresiasi oleh milenial.
Secara visual pun, ADÉLA cukup konsisten dengan gaya nyentrik dan chaotic-nya. Rambut pink sudah jadi identitas yang melekat padanya, ditambah pilihan outfit-nya yang terinspirasi gaya Y2K dan cyberpunk. Ia lagi-lagi pakai formula musisi era 2000–2010-an, tetapi dengan sentuhan khasnya sendiri. Salah satu elemen yang kerap dipakai ADELA untuk membedakannya dengan musisi lain adalah teknik tari balet yang ia kuasai. Ini membuatnya seperti perpaduan banyak hal kontradiktif sekaligus, tetapi, menakjubkannya, terkonsep dan konsisten.
Bagaimana menurutmu? Melihat talentanya, akankah karier ADÉLA langgeng atau ia hanya akan jadi sensasi sesaat?





















