Sutradara dan Produser Garuda di Dadaku Fokus pada Kreativitas Animator Lokal

- BASE Entertainment dan KAWI Animation meluncurkan film animasi Garuda di Dadaku dengan konferensi pers di Senayan, Jakarta, menegaskan komitmen terhadap karya animator lokal.
- Produser Shanty Harmayn mengajak Ronny Gani, mantan animator LucasFilm, untuk menjadi sutradara demi memperkuat ekosistem animator Indonesia dalam proyek ini.
- Sutradara Ronny Gani memastikan film Garuda di Dadaku tidak menggunakan teknologi AI dan sepenuhnya mengandalkan kreativitas serta keterampilan 300 animator lokal.
Jakarta, IDN Times - BASE Entertainment bersama KAWI Animation akan segera meluncurkan film animasi baru yang diangkat dari IP ternama, Garuda di Dadaku. Tim produksi pun menggelar konferensi pers pada Selasa (7/4/2026) di kawasan Senayan, Jakarta Selatan untuk menampilkan trailer film ini.
Di tengah antusias yang besar, kabar soal penggunaan AI di industri film makin sering jadi perbincangan, termasuk untuk proyek animasi Indonesia. Gak sedikit penonton yang penasaran, apakah film Garuda di Dadaku juga memanfaatkan teknologi tersebut dalam proses produksinya.
Menjawab rasa penasaran itu, pihak produksi akhirnya buka suara. Jadi, apakah Garuda di Dadaku menggunakan AI?
1. Produser Shanty Harmayn tegaskan fokus mengedepankan animator

Produser Shanty Harmayn menegaskan bahwa sejak awal tim sudah berkomitmen untuk membangun ekosistem animator lokal. Walau tidak secara gamblang membantah, ia menyebutkan bahwa Garuda di Dadaku tidak bergantung pada teknologi AI.
"Pada waktu kita berkomitmen untuk membuat film animasi, ya harus terus. Jadi pemikirannya adalah membangun ekosistem, which is animators. Jadi tidak terpikir ke arah teknologi yang lain, karena let's build Indonesian animators. That's why saya menculik beliau (Ronny Gani)," ujar Shanty selaku produser sambil terkekeh.
2. Produser Shanty Harmayn sampai mengajak Ronny Gani pulang ke Indonesia

Salah satu langkah konkret dalam mengedepankan animator adalah dengan menggaet Ronny Gani sebagai sutradara. Ronny diketahui pernah bekerja di Lucas Film yang berada di Singapura sebagai animator.
"Mas Ronny ini dulu kerja di LucasFilm. Jadi saya culik istilahnya. Saya bilang, 'Pulang deh Ron.' Hahaha. Semoga dia gak nyesel, ya," ungkap Shanty sambil bercanda.
Proyek yang pernah dikerjakan Ronny pun gak main-main. Selama enam tahun bekerja di sana, Ronny pernah mengerjakan film Transformers: Age Of Extinction (2014), Noah (2014), hingga The Avengers (2012).
3. Ronny Gani selaku sutradara tegas tidak menggunakan AI

Sebagai sutradara, Ronny Gani juga menegaskan bahwa film ini mengedepankan craftsmanship manusia dan bukan teknologi AI. Ia pun menggunakan style yang ada di film Garuda di Dadaku sebagai bentuk kelebihan utama film ini dibandingkan animasi yang sudah diproduksi di Hollywood.
"Menurut kami, human creator adalah sebuah output yang sangat bisa optimal dengan kondisi dari ekosistem yang ada. Tanpa terlalu berat ke teknologi tapi kita lebih menitik beratkan ke human craft-nya," ujar Ronny Gani.
Saat kembali ditanya soal penggunaan AI, Ronny menjawab, "Ya, kita tidak (menggunakan AI). Kita hanya mengedepankan human craft-nya dengan team-team yang ada di berbagai kota di Indonesia."
Penasaran bagaimana hasil karya 300 animator yang memproduksi Garuda di Dadaku? Film ini akan tayang di bioskop pada 11 Juni 2026 mendatang.

















