Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sutradara Ungkap Tim Pelangi di Mars Sampe Belajar Mandiri dari YouTube
press conference film Pelangi di Mars, Sabtu (14/3/2026) di XXI Epicentrum (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Upie Guava mengungkap 99% tim Pelangi di Mars belajar teknologi XR secara otodidak lewat YouTube karena belum ada pendidikan formal yang mengajarkannya di Indonesia.
  • Film ini membawa misi menghidupkan kembali semangat sci-fi era 90-an yang menumbuhkan generasi pemimpi dan rasa ingin tahu terhadap sains serta eksplorasi antariksa.
  • Jika sukses, Upie bertekad mendedikasikan kariernya untuk membangun semesta Pelangi di Mars dan menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap karya sains lokal.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pelangi di Mars menjadi salah satu film Lebaran 2026 yang cukup diantisipasi. Mengusung genre science fiction, project ambisius sutradara Upie Guava yang telah disiapkan selama lima tahun ini mengusung konsep tak biasa yang menggabungkan live action dengan animasi 3D serta teknologi Extended Reality (XR).

Karena digarap menggunakan teknologi baru yang belum pernah diajarkan secara formal di institusi manapun, Upie pun mengungkap bahwa hampir seluruh tim produksi harus mempelajari teknologi tersebut secara mandiri dari berbagai sumber, termasuk YouTube.

1. 99% tim produksi Pelangi di Mars belajar teknologi baru dari YouTube

press conference film Pelangi di Mars, Sabtu (14/3/2026) di XXI Epicentrum (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Di hadapan gemerlap kamera awak media yang fokus menyoroti pembicaraannya, Upie Guava menjelaskan bahwa proses pembuatan film Pelangi di Mars tidak mudah. Selain memang membutuhkan waktu yang sangat panjang, film ini juga menuntut tim produksi untuk membangun infrastruktur dan mempelajari teknologi baru dari awal karena memang teknologi yang digunakan untuk film ini memang belum pernah diajarkan secara formal di institusi manapun.

Ia menyebut, sekitar 99% tim produksi sampai harus belajar secara mandiri melalui YouTube dan berkomunikasi dengan para pelaku industri serupa di luar negeri demi memperoleh pengetahuan tambahan.

“Teknologi ini gak ada sekolahnya. Artinya, 99% tim yang tergabung sama Pelangi di Mars ini belajar dari Youtube. Bener-bener tidak ada edukasinya. Kita berkomunikasi dengan pelaku industri serupa di luar negeri untuk dapet knowledge dan lain-lain,” ungkap Upie Guava.

Namun di sisi lain, Upie juga merasa bersyukur karena hal tersebut membuat tim produksi Pelangi di Mars menjadi salah satu pionir yang mengadopsi teknologi ini di Indonesia.

“Bisa dibilang, kita mungkin salah satu early adopters dari teknologi ini dan itu baru kami syukuri. Karena selama ini saya melihat permasalahan di film industri adalah kadang-kadang untuk adaptasi satu teknologi itu kan terlalu lambat. Kayak di luar negeri udah 10 tahun, kita baru mencoba, lalu kemudian kita gak akan pernah jadi poros gitu. Akan selalu jadi followers,” lanjutnya.

2. Ingin kembalikan genre sci-fi era 90-an yang melahirkan generasi pemimpi

press conference film Pelangi di Mars, Sabtu (14/3/2026) di XXI Epicentrum (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Di balik film Pelangi di Mars, Upie Guava juga membawa misi mulia, yaitu ingin mengembalikan semangat sci-fi era 90-an yang membentuk generasi pemimpi. Sebagai generasi yang tumbuh di era tersebut, Upie menekankan bahwa masa kecil generasi tersebut dibentuk oleh komik-komik serta film-film ikonik seperti Star Wars, Jurassic Park, hingga Tintin, yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk menjelajahi dunia.

Ia melanjutkan, “Pengin jadi arkeolog supaya kayak Indiana Jones, menemukan batu ajaib. Pengin jadi wartawan biar kayak Tintin bisa keliling dunia, memecahkan masalah-masalah. Pengin jadi detektif, jadi astronot, jadi saintis, membuat penemuan-penemuan mesin waktu.”

Upie meyakini, kekayaan literasi antariksa dan fantasi di masa lalu telah membentuk generasi pemimpi, dan lewat Pelangi di Mars, ia pun berupaya untuk menyalakan kembali semangat eksplorasi dan imajinasi tersebut.

“Kita pernah punya Bapak B.J. Habibie yang punya paten, bikin pesawat terbang. Kita punya Bapak J. Salatun yang disebut Bapak Ufologi Indonesia. Pendiri LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Kita tuh pernah punya literasi antariksa yang sangat kaya di zaman itu. Sehingga lahirlah generasi pemimpi,” lanjut Upie dengan nada bersemangat.

3. Jika Pelangi di Mars sukses, Upie Guava bertekad mendedikasikan hidupnya untuk kembangkan semesta project ini

press conference film Pelangi di Mars, Sabtu (14/3/2026) di XXI Epicentrum (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Dalam acara press conference yang dimulai sekitar pukul 14.30 WIB ini, Upie dengan matanya yang tampak berkaca-kaca mengungkap, jika Pelangi di Mars mendapatkan respons positif, maka ia berkomitmen untuk mendedikasikan hidupnya mengembangkan semesta film ini.

“Saya bilang sama Dendi (Produser) kalau ini insya Allah sukses. Saya mungkin akan mendedikasikan next career saya buat universe Pelangi di Mars,” tuturnya dan langsung disambut tepuk tangan meriah dari awak media yang hadir saat itu.

Sang sutradara mengaku ingin mendampingi generasi muda agar bangga dengan karya sains dan teknologi lokal, seperti halnya anak-anak Jepang yang tumbuh bersama Gundam.

“Saya mau mendampingi anak-anak supaya bangga jadi astronot. Mendampingi anak-anak supaya pas besar saya tumbuh bersama Robot Batik, seperti orang Jepang bisa bangga tumbuh bersama Gundam.”

Catat tanggalnya, film Pelangi di Mars tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026. Dibintangi oleh Messi Gusti, Lutesha, hingga Rio Dewanto, film ini mengikuti petualangan Pelangi, anak manusia pertama yang lahir dan besar di Planet Mars.

Editorial Team