press conference film Pelangi di Mars, Sabtu (14/3/2026) di XXI Epicentrum (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Di balik film Pelangi di Mars, Upie Guava juga membawa misi mulia, yaitu ingin mengembalikan semangat sci-fi era 90-an yang membentuk generasi pemimpi. Sebagai generasi yang tumbuh di era tersebut, Upie menekankan bahwa masa kecil generasi tersebut dibentuk oleh komik-komik serta film-film ikonik seperti Star Wars, Jurassic Park, hingga Tintin, yang menumbuhkan rasa ingin tahu dan keinginan untuk menjelajahi dunia.
Ia melanjutkan, “Pengin jadi arkeolog supaya kayak Indiana Jones, menemukan batu ajaib. Pengin jadi wartawan biar kayak Tintin bisa keliling dunia, memecahkan masalah-masalah. Pengin jadi detektif, jadi astronot, jadi saintis, membuat penemuan-penemuan mesin waktu.”
Upie meyakini, kekayaan literasi antariksa dan fantasi di masa lalu telah membentuk generasi pemimpi, dan lewat Pelangi di Mars, ia pun berupaya untuk menyalakan kembali semangat eksplorasi dan imajinasi tersebut.
“Kita pernah punya Bapak B.J. Habibie yang punya paten, bikin pesawat terbang. Kita punya Bapak J. Salatun yang disebut Bapak Ufologi Indonesia. Pendiri LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Kita tuh pernah punya literasi antariksa yang sangat kaya di zaman itu. Sehingga lahirlah generasi pemimpi,” lanjut Upie dengan nada bersemangat.