Anak-anak ini ada yang tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bijak, dan ada pula yang sebaliknya bertindak licik dan culas. Para korban pola asuh toksik di kerajaan sulit lepas dari jeratan orangtua mereka karena birokrasi istana yang rumit. Simak berikut ini tiga korban dari toxic parenting di The East Palace.
3 Korban Pola Asuh Toksik di Drakor The East Palace

- Putra Mahkota terdorong ambisi takhta setelah mengetahui kejahatan ayahnya, membunuh dua saudaranya, lalu tewas dibunuh sang raja yang menganggapnya calon tiran.
- Sang Raja menjadi penguasa berdarah dingin setelah ibunya menyingkirkan para pewaris lain demi takhta; ia kemudian membunuh pihak yang menghalangi, termasuk keluarga dan rakyat.
- Saeng Gang dikucilkan karena kemampuan mendengar arwah, kehilangan ibunya, serta menghadapi ancaman ayahnya; ia hidup jauh dari istana tanpa kasih sayang keluarga.
Drakor The East Palace selain menyajikan kisah kutukan arwah pendendam terhadap keturunan kerajaan, juga mengisahkan tentang intrik politik keluarga kerajaan yang memakan banyak korban. Salah satunya adalah konflik pola asuh toksik oleh para orangtua yang menghasilkan anak-anak korban salah pengasuhan.
1. Putra Mahkota (Kwak Dong Yeon)

Putra Mahkota merupakan anak raja yang licik. Ia berambisi untuk menguasai kerajaan dengan menduduki takhta secara instan, sehingga dengan tega ia membunuh dua saudara kandungnya sendiri. Di sisi lain, ia punya kekuatan supranatural bisa mendengar arwah dan mengetahui percakapan dari dunia lain.
Karena kekuatan itu, ia bisa mengetahui kejahatan masa lalu ayahnya, sang raja. Bahwa ternyata di masa lalu, 30 tahun lalu anak-anak mendiang raja satu per satu wafat karena dibunuh oleh raja saat ini. Ia membunuh mereka menggunakan racun mematikan. Karena dosa sang ayah, putra mahkota ingin mengikuti jejaknya agar bisa mudah naik takhta. Namun sayangnya, ia dibunuh oleh ayahnya dengan alasan untuk menyelamatkan masa depan dari raja tirani.
2. Sang Raja (Cho Seung Woo)

Raja adalah korban dari ambisi ibu kandungnya untuk menguasai takhta kerajaan. Dulu sang ibu kandungnya adalah perempuan dari rakyat biasa yang diangkat jadi selir. Karena sering diremehkan, ia berniat mengangkat anaknya untuk jadi raja dengan membunuh semua anak raja yang lain.
Dengan meninggalnya para pangeran, raja saat ini bisa naik takhta dengan mudah dan mulus tanpa hambatan apa pun karena ia satu-satunya anak raja yang masih hidup. Waktu berlalu, raja pun ikut permainan dan intrik ibunya hingga tumbuh menjadi pemimpin yang berdarah dingin. Ia membunuh siapa pun yang menghalangi jalannya, bahkan termasuk rakyatnya dan darah dagingnya sendiri.
3. Saeng Gang (Roh Yoon Seo)

Saeng Gang adalah putri raja yang harus menelan pahit kehidupan karena dikucilkan dan diasingkan oleh keluarganya sendiri. Ibunya diasingkan dan dibunuh di pengasingan, sementara ia hidup sendiri diasuh neneknya. Sebelum diasingkan, Saeng Gang sering ditolak kehadirannya karena ia memiliki kekuatan supranatural bisa mendengar arwah alam lain.
Oleh sang raja, ia sering dibungkam dan dimarahi jika mengatakan ia bisa mendengar suara dari alam lain karena akan menjadi ancaman berat bagi takhta raja. Ancaman akan dibunuh pun juga diterima Saeng Gang dari ayahnya. Anak perempuan yang harus dilindungi dan disayangi ternyata harus hidup di luar istana tanpa kemewahan dan kasih sayang istana.
Tiga karakter di atas merupakan korban dari pola asuh toksik orangtua mereka. Sayangnya, jika disakiti dan melihat hal yang gak pantas, mereka gak bisa protes dan menjauh karena dibatasi oleh peraturan ketat istana. Sang raja yang kini menduduki takhta kerajaan tampak begitu tangguh di luar, namun sebenarnya ia sangat rapuh.
Begitu pula Saeng Gang dan kakaknya, putra mahkota. Keduanya adalah hasil didikan ayah mereka yang juga korban nenek mereka. Menjadi korban pola asuh toksik akibat dari perebutan kekuasaan dan ambisi, membuat ketiganya begitu kesepian karena gak ada orangtua yang bisa diandalkan dan jadi sandaran.




















