5 Alasan Lee Woo Gyeom Memilih Park Han Jun di Bloody Flower

- Lee Woo Gyeom memilih Park Han Jun karena terhubung dengan anak yang sakit langka, menciptakan ikatan emosional dan kepentingan kuat.
- Obat sebagai jaminan kesembuhan menjadi kendali untuk memastikan Park Han Jun tetap berada di sisinya.
- Reputasi Park Han Jun dalam menangani kasus besar, kesulitan finansial, dan keterikatan emosional menjadi alasan utama pemilihan pengacara tersebut.
Dalam drama Korea Bloody Flower, pemilihan pengacara bukan sekadar urusan hukum, melainkan bagian dari strategi hidup dan mati. Lee Woo Gyeom (Ryeo Un) tidak asal menunjuk pembela, karena baginya ruang sidang adalah medan perang terakhir untuk mempertahankan keyakinan dan rencananya.
Keputusan Lee Woo Gyeom menggunakan jasa Park Han Jun (Sung Dong Il) dibangun dari pertimbangan yang dingin, personal, dan penuh perhitungan. Ada lima alasan kuat yang menjelaskan mengapa Park Han Jun menjadi sosok yang paling tepat untuk membelanya, sekaligus membuka arah konflik besar dalam cerita.
1. Terhubung dengan anak Park Han Jun yang menderita penyakit Batten

Lee Woo Gyeom mengetahui bahwa putri Park Han Jun menderita penyakit Batten, penyakit langka yang sulit disembuhkan. Informasi ini bukan sekadar latar emosional, melainkan titik masuk utama ke dalam kehidupan pribadi sang pengacara. Sejak awal, Woo Gyeom melihat hubungan ini sebagai simpul yang tak bisa diputus.
Bagi Woo Gyeom, keterhubungan ini menciptakan ikatan kepentingan yang sangat kuat. Ia tahu penderitaan seorang ayah bisa melampaui batas profesional. Dalam logika Woo Gyeom, empati dan keputusasaan adalah fondasi loyalitas.
2. Menjadikan obat sebagai jaminan

Lee Woo Gyeom tidak menawarkan janji kosong, melainkan sesuatu yang sangat konkret, obat. Ia menjadikan kemungkinan kesembuhan sebagai jaminan yang menggantung di atas setiap keputusan Park Han Jun. Tawaran ini bersifat halus, tetapi menekan.
Obat tersebut bukan hanya alat tawar, melainkan kendali. Selama harapan itu ada, Park Han Jun akan tetap berada di sisinya. Woo Gyeom memahami bahwa harapan kecil pun cukup untuk mengikat seseorang sepenuh jiwa.
3. Reputasi Park Han Jun dalam menangani kasus besar

Meski kini hidupnya meredup, Park Han Jun memiliki reputasi masa lalu yang tidak bisa diabaikan. Ia dikenal sukses menangani kasus-kasus besar dan kerap menjadi yang pertama meraih kemenangan dalam perkara sulit. Rekam jejak ini memberi bobot pada setiap langkah hukumnya.
Lee Woo Gyeom tidak mencari pengacara sembarangan. Ia membutuhkan seseorang yang memahami tekanan kasus besar dan tidak mudah runtuh di bawah sorotan publik. Pengalaman Park Han Jun menjadi jaminan bahwa pertarungan hukum ini tidak akan berjalan satu arah.
4. Park Han Jun sedang berada dalam kesulitan finansial

Kesulitan finansial Park Han Jun bukan kelemahan bagi Lee Woo Gyeom, melainkan peluang. Ia melihat kondisi itu sebagai celah yang membuat sang pengacara tidak punya banyak pilihan. Dalam dunia Woo Gyeom, kebutuhan adalah pengikat paling jujur.
Bayaran besar yang ditawarkan bukan sekadar imbalan profesional. Uang itu menjadi alat bertahan hidup bagi Park Han Jun, terutama untuk perawatan anaknya di rumah sakit. Dengan demikian, hubungan mereka menjadi semakin saling bergantung.
5. Membutuhkan pengacara yang benar-benar mau membela

Lee Woo Gyeom tidak membutuhkan pengacara top yang dingin dan berjarak. Ia justru mencari seseorang yang membutuhkannya dan bersedia membela dengan sepenuh jiwa raga. Bagi Woo Gyeom, pembelaan sejati lahir dari keterikatan emosional, bukan reputasi semata.
Park Han Jun memenuhi kriteria itu dengan sempurna. Ia tidak membela demi nama besar, melainkan demi harapan hidup anaknya. Di titik inilah Woo Gyeom yakin bahwa pengacaranya tidak akan mundur di tengah jalan.
Kelima alasan ini menunjukkan bahwa pilihan Lee Woo Gyeom bukanlah kebetulan, melainkan strategi yang dirancang dengan presisi emosional dan psikologis. Melalui hubungan yang penuh kepentingan dan ketergantungan ini, Bloody Flower menegaskan bahwa konflik utamanya bukan hanya tentang menang atau kalah di pengadilan, tetapi tentang bagaimana pilihan-pilihan gelap saling mengikat nasib para tokohnya hingga batas yang paling ekstrem.



















