Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Alasan Yi Yeon Ingin Menghukum Mati Woo Gyeom di Bloody Flower

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)
Intinya sih...
  • Lee Woo Gyeom adalah pembunuh berantai yang dianggap Cha Yi Yeon sebagai ancaman yang harus dihentikan secara permanen.
  • Cha Yi Yeon membawa harga diri profesi yang tinggi sebagai jaksa penuntut dan menolak narasi pembelaan terhadap Woo Gyeom.
  • Konflik personal dengan Park Han Jun, keinginan menjadi yang pertama mengalahkan lawannya, dan ambisi meraih prestasi menjadi alasan Cha Yi Yeon bersikeras mengejar hukuman mati bagi Lee Woo Gyeom.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam drakor Bloody Flower, sosok jaksa Cha Yi Yeon tidak hadir sebagai karakter yang ragu atau setengah hati. Sejak awal, ia berdiri tegak dengan satu tujuan jelas, menjatuhkan hukuman mati kepada Lee Woo Gyeom (Ryeo Un) tanpa kompromi dan tanpa ruang negosiasi.

Tekad itu tidak lahir dari satu alasan tunggal, melainkan dari rangkaian dorongan personal, profesional, dan ideologis yang saling bertumpuk. Ada lima alasan utama yang menjelaskan mengapa Cha Yi Yeon (Geum Sae Rok) bersikeras mengejar hukuman mati bagi Lee Woo Gyeom, sekaligus memperlihatkan sisi ambisius dan keras dari karakter jaksa ini.

1. Lee Woo Gyeom adalah pembunuh berantai

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Bagi Cha Yi Yeon, status Lee Woo Gyeom sebagai pembunuh berantai sudah cukup menjadi dasar hukuman mati. Ia melihat kejahatan tersebut sebagai pelanggaran paling ekstrem terhadap hukum dan kemanusiaan. Tidak ada ruang abu-abu dalam definisi ini.

Jumlah korban dan pola pembunuhan membuat Cha Yi Yeon menilai Woo Gyeom sebagai ancaman yang harus dihentikan secara permanen. Ia percaya bahwa hukuman mati adalah bentuk keadilan tertinggi bagi korban. Dalam sudut pandangnya, belas kasihan hanya akan melemahkan hukum.

2. Harga diri sebagai jaksa penuntut

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Sebagai jaksa, Cha Yi Yeon membawa harga diri profesi yang tinggi. Ia percaya bahwa tugas penuntut bukan sekadar memenangkan perkara, tetapi menjaga wibawa hukum di mata publik. Kalah dalam kasus besar seperti ini berarti kegagalan simbolik.

Harga diri itu membuatnya tidak mau terlihat ragu atau goyah. Ia menolak narasi pembelaan yang membingkai Woo Gyeom sebagai penyelamat. Baginya, membiarkan pembunuh lolos dari hukuman maksimal adalah noda dalam kariernya.

3. Lawannya adalah Park Han Jun, mantan jaksa dan gurunya

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (instagram.com/viumalaysia)

Konflik ini menjadi semakin personal karena Cha Yi Yeon berhadapan langsung dengan Park Han Jun (Sung Dong Il). Ia bukan hanya pengacara pembela, tetapi juga mantan jaksa yang pernah menjadi gurunya di pusat pelatihan Kementerian Hukum. Hubungan masa lalu itu menciptakan tekanan emosional yang tak terucap.

Menghadapi Park Han Jun berarti menghadapi bayang-bayang masa didiknya sendiri. Ia sadar setiap langkahnya akan dibandingkan dengan sang guru. Kasus ini pun berubah menjadi ujian legitimasi dirinya sebagai jaksa yang sudah melampaui pengaruh masa lalu.

4. Keinginan menjadi yang pertama mengalahkan Park Han Jun

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Park Han Jun dikenal sebagai figur yang sulit dikalahkan dalam kasus besar. Reputasinya sebagai mantan jaksa dan pengacara berpengalaman, menjadikannya lawan yang disegani. Bagi Cha Yi Yeon, mengalahkannya adalah target prestisius.

Keinginan ini bukan sekadar soal ego, tetapi pembuktian posisi. Ia ingin menunjukkan bahwa generasi baru tidak hidup di bawah bayang-bayang senior. Menjatuhkan hukuman mati dalam kasus ini berarti kemenangan simbolik yang tak terbantahkan.

5. Ambisi meraih prestasi dan pengakuan

still cut drama Korea Bloody Flower
still cut drama Korea Bloody Flower (youtube.com/@DisneyPlusKR)

Di balik sikap tegasnya, Cha Yi Yeon menyimpan ambisi besar. Ia ingin diingat sebagai jaksa yang menangani kasus monumental dan mencetak preseden hukum penting. Kasus Lee Woo Gyeom adalah panggung yang sempurna untuk itu.

Prestasi ini bukan hanya soal kenaikan karier, tetapi legitimasi sosial dan institusional. Hukuman mati akan menjadi cap keberhasilan yang sulit ditandingi. Dari sinilah terlihat bahwa ambisi dan keadilan berjalan beriringan, meski tidak selalu searah.

Kelima alasan tersebut menjadikan Cha Yi Yeon sebagai sosok jaksa yang dingin, ambisius, dan nyaris tak tergoyahkan dalam Bloody Flower, sekaligus memperlihatkan bahwa setiap tuntutan hukuman mati lahir dari lapisan motivasi yang kompleks. Melalui konflik antara Cha Yi Yeon dan Lee Woo Gyeom serta kehadiran Park Han Jun, Bloody Flower menegaskan bahwa pertarungan utamanya bukan hanya soal vonis akhir, tetapi tentang siapa yang berhak menentukan arti keadilan di dunia yang penuh kompromi ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Hella Pristiwa
EditorHella Pristiwa
Follow Us

Latest in Korea

See More

6 Drakor Hukum yang Mengangkat Advokasi Perempuan dan Kelompok Rentan

07 Feb 2026, 12:39 WIBKorea