Apakah Politik Kantor Patut Dihindari ala Drakor Beyond the Bar?

Drakor Beyond the Bar (2025) berhasil menyuguhkan dinamika kehidupan pekerja firma hukum terkemuka di Korea Selatan. Drakor ini gak hanya menggambarkan perjuangan masa muda dalam mencapai kariernya. Namun, drakor ini juga berhasil merealisasikan dinamika politik kantor yang kerap dihindari para pekerja.
Sebagai pekerja, banyak orang menilai jika politik kantor merupakan salah satu cara kotor yang digunakan untuk meraup banyak keuntungan bagi dirinya sendiri. Sayangnya, gak banyak orang sadar jika semua hal di dunia ini dijalankan melalui dinamika politik di berbagai bidang dan kalangan. Jika di drakor ini realisasinya dapat digambarkan oleh sosok Ko Tae Seop (Park Jung Pyo) yang menggunakan relasinya untuk keuntungan pribadi.
Sayangnya, banyak pertanyaan yang bermunculan mengenai politik kantor, seperti yang digambarkan di drakor Beyond the Bar ini. lalu, apakah politik kantor ini memang wajib untuk dihindari seumur hidup?
Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.
1. Politik kantor gak bisa dihindari oleh semua karyawan

Politik yang berjalan di firma hukum Yullim ini berawal dari relasi kedekatan yang dimiliki oleh Ko Seung Cheol (Kim Eui Sung) dan anaknya, Ko Tae Seop. Jika diamati sejak awal episode, Ko Seung Cheol seakan gak menyadari jika kemampuan anaknya sebagai pengacara perlu banyak koreksi. Ko Seung Cheol seakan mengabaikan standar kualitas pengacara yang diterima di firma hukum Yullim untuk mempekerjakan anaknya tersebut.
Kebijakan ini pada akhirnya terus berlanjut hingga mereka kewalahan dan menganggap jika ini merupakan praktik yang lumrah untuk dilakukan. Imbasnya, talenta berkualitas Yullim harus bekerja ekstra keras namun kehilangan banyak apresiasi terutama finansial. Pada akhirnya, mereka memutuskan pindah ke firma hukum lainnya yang mau membayar jasa nya dengan pantas.
Efeknya, Yullim mendapatkan kerugian yang sangat besar dan membangun budaya lingkungan kerja yang gak sehat. Situasi ini jelas mempengaruhi banyak kalangan hanya berawal dari satu kebijakan saja.
2. Kebijakan juga bisa berubah melalui politik kantor

Banyak orang menganggap jika politik kantor merupakan praktik kotor yang dijalankan banyak pihak. Sayangnya, mereka gak memperhatikan jika kebijakan ini bisa dirubah lebih baik melalui politik. Sebagai seorang karyawan, seperti Yoon Seok Hoon (Lee Jin Uk), dia bisa berpihak pada sosok berpengaruh, Kwon Na Yeon (Kim Yeo Jin), yang bisa merubah kebijakan buruk ini.
Baik Kwon Na Yeon dan Yoon Seok Hoon percaya jika kebijakan baru yang mereka rumuskan ini bisa membuat Yullim kembali bersinar dan diakui banyak pihak. Namun, memang butuh keberpihakan atau tokoh kunci yang punya kekuasaan besar untuk jadi wajah di kebijakan baru tersebut. Jika pola jalannya seperti ini, banyak karyawan harus pintar memilih sekutu yang sama-sama merumuskan perubahan untuk kebaikan semua kalangan.
3. Bisa menguntungkan dan berdampak baik jika beraliansi dengan tepat

Bagi Kwon Na Yeon dan Yoon Seok Hoon, tujuan mereka adalah untuk membangun lingkungan kerja yang bisa menghargai banyak pihak. Sebagai karyawan lama, mereka jelas gak ingin kantor tempat kerjanya ini harus berhadapan dengan situasi sulit yang bisa merobohkan pondasi. Banyak orang memang menganggap jika pendapat keduanya cukup naïf untuk dilakukan.
Sayangnya, firma hukum Yullim bukan kantor yang bisa diwariskan pada sosok pewaris yang masih butuh bimbingan dan perkembangan secara kemampuan. Bisa dibilang jika kesalahan ini bermula dari pendiri sekaligus pemilik firma hukum ini, Ko Seung Cheol. Makanya, Yoon Seok Hoon seakan menunjukkan jika aliansi pada pihak tertentu bisa menguntungkan dan memberi dampak baik pada keberlangsungan masa depan Yullim.
Kesimpulannya adalah politik kantor gak bisa dihindari secara total. Namun, para pekerja wajib mengerti dan memahami aliansi yang dibangunnya pada pihak yang tepat. Menurutmu, apakah kamu mampu menerapkan ini?