3 Keangkuhan Heo Mun Oh di Notes from the Last Row

- Heo Mun Oh mengalami writer’s block panjang akibat keangkuhannya yang tak mampu menerima kritik dari Kim Su Hun, membuatnya terus menyalahkan orang lain atas kegagalannya menulis.
- Sikap arogan Heo Mun Oh terlihat saat ia merendahkan karya mahasiswanya dan merasa paling paham soal sastra, hingga dijuluki dosen killer yang miskin karya.
- Keangkuhan masa lalu Heo Mun Oh berbalik menghancurkannya ketika Lee Kang, anak yatim yang pernah diremehkan kisahnya, muncul kembali untuk membalas dendam melalui tulisan.
Drama Korea Notes from the Last Row gak bosen-bosennya bikin penonton geregetan. Salah satu topik yang paling ramai diperdebatkan adalah nasib tragis Profesor Heo Mun Oh. Mengalami writer's block menahun, benarkah itu murni karena salah Kim Su Hun yang memberikan kritik tajam pada novel keduanya?
Kalau kita telaah lebih dalam, mandeknya karier kepenulisan Profesor Heo bukanlah karena orang lain, melainkan keangkuhannya sendiri. Penasaran bagaimana keangkuhan sang profesor justru menjadi bumerang yang menghancurkan hidupnya? Yuk, simak ulasan berikut ini!
1. Gak bisa menerima kritik

Sepanjang drama, penonton disuguhkan POV Heo Mun Oh tentang betapa menderitanya ia setelah dikritik oleh temannya sendiri, Kim Su Hun. Kritik itu begitu membekas hingga ia gak sanggup menuliskan kalimat pertama setiap kali ingin menulis, seolah inspirasi lenyap total dari radarnya.
Akibat terlalu mengagungkan bakatnya, mental Heo Mun Oh langsung hancur berantakan hanya karena satu kritikan. Padahal, kritik adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah karya agar tulisan tersebut bisa benar-benar hidup. Ia pun terus menempatkan diri sebagai korban dan menyalahkan orang lain atas kemandekkannya dalam menul
2. Bersikap seolah hanya ia manusia di muka bumi yang paham apa itu sastra

Heo Mun Oh memproyeksikan traumanya akan kritik dengan terus mengkritik tulisan para mahasiswanya, seolah-olah hanya ia manusia di muka bumi yang paling paham soal sastra. Keangkuhannya mencapai puncak ketika ia dengan tega menuliskan kata "sampah" di lembar tugas mahasiswanya.
Akibat tabiatnya yang gak manusiawi ini, Heo Mun Oh dikenal sebagai dosen killer di kalangan mahasiswa. Namun, di balik rasa takut mereka, banyak mahasiswa yang diam-diam berbalik menyindirnya sebagai profesor yang miskin karya. Sindiran menohok ini muncul karena sepanjang kariernya, Heo Mun Oh memang hanya mampu menelurkan satu novel sebelum akhirnya mengalami writer's block total.
3. Meremehkan kisah hidup Lee Kang kecil

Karma Heo Mun Oh nyatanya datang dari butterfly effect keangkuhannya yang tertimbun sejak 12 tahun lalu. Kala itu, ia dengan teganya menghina kisah hidup seorang anak di panti asuhan yang sedang mengalami kesedihan mendalam karena baru saja kehilangan orang tuanya. Heo Mun Oh menyebut kisah pilu anak tersebut biasa saja dan gak layak dijadikan inspirasi tulisan.
Ia gak pernah menyangka kalau ucapannya yang merendahkan itu ternyata memupuk dendam di hati anak tersebut. Dua belas tahun kemudian, anak bernama Lee Kang itu menjelma menjadi mahasiswa misterius nan manipulatif yang menyusup ke kelas sastra Heo Mun Oh. Lewat esai karangannya, Lee Kang berhasil menuntaskan dendam masa kecilnya dan menghancurkan hidup Heo Mun Oh hingga sang profesor akhirnya bisa merasakan sendiri apa arti kehilangan segalanya.
Kehancuran Heo Mun Oh di Notes from the Last Row bukan sekadar takdir yang kejam, tapi merupakan buah dari keangkuhannya yang telah ditenun selama bertahun-tahun. Menolak berkaca dari kritik dan malah merendahkan orang lain justru mendatangkan karma yang gak main-main melalui sosok Lee Kang.











![[QUIZ] Kami Tahu Siapa Member NCT Dream yang Paling Kamu Sukai dari Pertanyaan Ini](https://image.idntimes.com/post/20260406/screenshot_20260406-183232_x_20f74f5c-2751-4946-9512-f75ddf017046.jpg)








