100 Days of Deception bukan sekadar drama tentang mata-mata yang menyusup ke Pemerintah Jenderal Korea. Sejak awal, cerita ini sudah menempatkan kebohongan sebagai bagian dari kehidupan para karakternya. Identitas palsu, hubungan yang direkayasa, hingga pengakuan yang sengaja dibuat-buat menjadi cara mereka bertahan di tengah situasi yang penuh kecurigaan. Bahkan, nama yang digunakan seseorang saja dapat menjadi petunjuk bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Menariknya, tidak semua kebohongan dalam drama ini dibuat dengan tujuan yang sama. Ada yang digunakan untuk menjalankan misi kemerdekaan, ada yang menjadi pelindung dari ancaman, sementara beberapa lainnya justru berkaitan dengan hubungan antarkarakter. Semakin banyak kebohongan yang muncul, semakin sulit pula bagi para tokoh untuk membedakan mana hubungan yang hanya bagian dari penyamaran dan mana perasaan yang benar-benar tumbuh. Berikut sejumlah kebohongan penting yang membuat alur 100 Days of Deception semakin rumit.
