5 Kekecewaan Ibu Suri Yoon pada Suami dan Putranya di Perfect Crown

Ibu Suri Yoon kecewa karena suami dan putranya tidak memiliki ambisi besar terhadap takhta, berbeda dengan dirinya yang berjuang keras demi posisi ratu.
Kedekatan Raja Seonjong dan I Yoon dengan Pangeran I An membuat Ibu Suri Yoon merasa tersisih, apalagi saat mereka lebih mempercayai sang pangeran dibanding dirinya.
Ibu Suri Yoon semakin tertekan ketika Raja I Yoon merestui pernikahan Pangeran I An tanpa persetujuannya, menambah daftar kekecewaannya terhadap keluarga kerajaan.
Hubungan Ibu Suri Yoon (Gong Seung Yeon) dengan keluarga kecilnya tidak harmonis dalam drama Perfect Crown. Suaminya, Raja Seonjong (Sung Joon), sudah tewas saat kebakaran di istana. Takhta raja lalu menurun ke putranya, I Yoon (Kim Eun Ho) yang masih belia.
Ternyata bukan cuma takhta raja yang diwariskan Raja Seonjong pada I Yoon. Ayah dan anak ini tidak berbeda jauh sampai membuat kekecewaan Ibu Suri Yoon tidak berkesudahan. Berikut ini lima kekecewaan yang dirasakan Ibu Suri Yoon kepada suami dan putranya.
1. Tidak memiliki ambisi yang setara

Ibu Suri Yoon adalah seseorang yang penuh ambisi. Ia bahkan merelakan segala hal untuk mendapatkan takhta ratu. Karena itulah, Ibu Suri Yoon tidak suka jika ada orang yang berusaha merebut takhta suami dan putranya.
Sayangnya, suami dan putranya tidak punya ambisi yang setara dengannya. I Hwan hanya menjadi raja karena tak dapat menghindari aturan pewarisan takhta pada anak sulung raja. I Yoon yang lahir sebagai anak tunggal pun kini menduduki takhta karena alasan yang sama dengan ayahnya.
2. Terlalu mengandalkan Pangeran I An

Orang yang paling diwaspadai Ibu Suri Yoon sejak lama adalah Pangeran I An (Byeon Woo Seok). Segala kualitas raja ada dalam dirinya. Namun, Pangeran I An lahir sebagai putra kedua raja yang ditakdirkan tidak memiliki apa pun.
Semua orang menyadari kemampuan Pangeran I An. Gak heran kalau I Hwan dan I Yoon mengandalkannya. Mereka lebih suka bersamanya dibandingkan anggota keluarga kerajaan lain. Akan tetapi, kedekatan suami dan putranya dengan Pangeran I An, terasa sangat menyesakkan bagi Ibu Suri Yoon.
3. Ingin memberikan takhta kepada Pangeran I An

Sebelum menjadi raja, I Hwan adalah orang yang suka bersenang-senang. Ia sendiri tahu kalau dirinya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi raja. Karena itulah hidupnya menjadi lebih kacau setelah menduduki posisi itu.
Lama-kelamaan I Hwan tidak sanggup untuk terus memikul beban dari takhta raja. Ia juga tidak mau putranya punya kehidupan yang sama sepertinya saat ini, jadi ia ingin menyerahkan takhta ke adiknya, Pangeran I An. Sebagai orang yang sudah berusaha keras untuk jadi ratu di negeri ini, Ibu Suri Yoon kecewa dan tidak terima dengan keputusan itu.
4. I Yoon mewarisi sisi lemah Raja Seonjong

Sepeninggal I Hwan, Ibu Suri Yoon jadi semakin keras terhadap I Yoon. Sebab, ia tahu kalau putranya tidak berbeda jauh dari suaminya. Sudah berulang kali ia dikecewakan oleh I Yoon karena tak bisa berdiri sendiri di depan publik.
Karena putranya juga lemah, Ibu Suri Yoon tidak bisa berdiam diri. Ia harus terus memantau Pangeran I An hingga menaruh mata-mata di kediamannya. Ibu Suri Yoon seperti bekerja sendirian dalam mengamankan takhta yang tak diinginkan putranya sendiri.
5. Merestui pernikahan Pangeran I An dan Seong Hui Ju tanpa persetujuannya

Ibu Suri Yoon tetap saja kecolongan meskipun sudah waspada terhadap Pangeran I An. Saat Jamuan Dalam Istana, ia melamar Seong Hui Ju (IU) di hadapan banyak orang. Dengan begitu, Ibu Suri Yoon tidak bisa berkutik.
Ia jadi semakin terdesak karena I Yoon tidak mau mengikuti arahannya. Sang raja justru langsung memberikan restu pernikahan mereka. Meski tidak setuju, Ibu Suri Yoon tidak mau membatalkan perintah dari putranya karena itu akan menurunkan wibawanya sebagai raja.
Raja Seonjong dan I Yoon sama-sama tidak haus terhadap takhta seperti Ibu Suri Yoon dalam drama Perfect Crown. Karena itulah keputusan mereka sering membuatnya kecewa. Saat keduanya ingin menjauh dari takhta raja, Ibu Suri Yoon malah menahan mereka untuk menjaga kebanggaannya karena bisa menjadi bagian dari sejarah.


















