Oh Ha Na (Lee Yul Eum) dalam drakor Dream to You disoroti sebagai seorang aktris terkenal yang popularitasnya tak pernah redup. Ia memulai kariernya di industri entertainment sejak masih kecil sebagai aktris cilik yang banyak membintangi iklan. Ketenarannya selalu berada di paling atas juga karena pengaruh nama ibunya, yaitu Ahn Su Hee (Park Ji Young) yang merupakan veteran di industri itu.
3 Penyebab Ha Na Anggap Dirinya Hidup di Dunia Palsu di Dream to You

- Oh Ha Na merasa hidup dalam kepalsuan karena ibunya membangun citra hubungan ibu-anak sempurna di publik, padahal mengontrol kariernya secara sepihak dan hubungan mereka penuh konflik.
- Di sekolah dan variety show, teman-teman Ha Na bersikap hangat hanya saat kamera merekam. Di baliknya, ia dicibir, digunjingkan, dan merasa tak memiliki teman tulus.
- Popularitas, pujian penggemar, dan senyum Ha Na di layar menjadi topeng profesional. Saat sorotan padam, ia menghadapi kesepian, kehampaan, serta tekanan dari kontrol ketat sang ibu.
Wajah Oh Ha Na terpampang di setiap sudut kota, membuktikan kepopulerannya dan semakin menjadi buah bibir hangat di kalangan publik. Banyak yang merasa iri dengan kehidupannya yang sempurna dan nampak selalu berkilau serta bersinar. Tapi, Oh Ha Na justru tak merasa demikian. Ia malah menganggap bahwa dirinya selama ini hidup di dunia palsu yang penuh dengan tipu-tipu. Mengapa Oh Ha Na berpikir demikian? Penjelasan di bawah ini akan menjawab pertanyaan itu.
1. Citra ibu dan anak yang dibangun Ahn Su Hee hanyalah sandiwara demi mencuri perhatian publik

Ahn Su Hee, ibunya, adalah aktris besar yang hingga kini masih kerap dapatkan sorotan dari publik. Sebagai ibu sekaligus manager Ha Na, Su Hee berusaha membuat karier putrinya itu bisa bertahan selamanya di industri hiburan. Untuk itu, sejak awal Su Hee sengaja menciptakan citra ibu dan anak yang sempurna agar publik berdecak kagum. Jika berada di depan kamera, Su Hee kerap mengarang cerita agar publik percaya jika dirinya adalah ibu terbaik yang selalu mendukung Ha Na. Su Hee juga mengada-ada dengan mengatakan ia dan Ha Na selalu menyayangi dan mendukung satu sama lain.
Padahal, yang sebenarnya terjadi di balik kamera justru sebaliknya. Su Hee banyak mengambil keputusan karier Ha Na secara sepihak dengan memanfaatkan jabatannya sebagai CEO agensi Topline Entertaiment. Ha Na tak diberi ruang untuk bebas berpendapat soal proyek akting apa yang ingin ia ambil. Hubungan Ha Na dan Su Hee juga lebih banyak tidak akurnya. Ha Na menganggap ia hidup di dunia palsu karena kesenjangan antara realitas dengan sandiwara publik yang ia tampakan bersama ibunya di media-media. Selama ini, di hadapan media, Ha Na harus berpura-pura menjadi putri ideal nan sempurna yang menjadi contoh banyak orang. Padahal dari dalam ia amat tersiksa karena dituntut untuk menampilkan kesempurnaan yang palsu.
2. Teman-temannya hanya bersikap baik jika disorot kamera dan Ha Na sering jadi bahan cibiran di balik kamera

Bukan hanya hubungan kekeluargaannya dengan sang ibu, Ha Na juga menganggap dirinya hidup di dunia yang palsu dalam lingkup pertemanannya. Karena tenar sejak kecil, Ha Na kerap punya acara variety show-nya sendiri yang menampilkan 24 jam kesehariannya. Sejumlah kamera ditaruh dari berbagai sudut di rumah dan sekolahnya. Untuk menciptakan tontonan yang menjual, teman-teman sekelasnya juga dikondisikan seolah semuanya punya hubungan yang baik dengannya.
Saat kamera menyorot, teman sekelasnya akan memberinya senyum paling manis dan perlakuan hangat. Namun, saat syuting selesai, keadaan yang asli akan keluar. Temannya akan protes kepadanya karena terus mengundang banyak krew ke sekolah dan mengganggu aktivitas pembelajaran. Banyak juga yang mencibir dan membicarakan kehidupan pribadi Ha Na. Apalagi saat kabar perceraian kedua orang tuanya dirilis oleh media, ia jadi bahan gunjingan satu kelasnya. Ini semakin membuat Ha Na merasa ia hanya hidup di dunia yang palsu. Segala senyum manis dan perlakuan hangat hanya bisa ia dapatkan saat kamera aktif. Sebenarnya, ia hanya punya kehidupan kosong dan tak punya teman yang benar-benar peduli padanya
3. Popularitas dan senyum indahnya di layar kaca hanyalah topeng untuk menyembunyikan kehampaan dirinya

Seluruh pujian, cinta dari penggemar, hingga citra sempurna yang terpampang di berbagai baliho kota tidak pernah mewakili perasaan Ha Na yang sebenarnya. Di depan layar dan di atas karpet merah, ia dituntut untuk selalu tampil mempesona, tersenyum lebar, dan berpura-pura bahagia seolah memiliki kehidupan yang diimpikan semua orang.
Namun, begitu lampu kamera padam dan sorotan media berlalu, Ha Na kembali ke realitasnya yang sepi, hampa, dan penuh tekanan. Kepopuleran yang ia miliki tidak lahir dari keinginan tulusnya, melainkan hasil bentukan dan kontrol ketat dari sang ibu. Senyuman manis yang dipamerkan di depan umum hanyalah topeng profesionalitas demi menjaga eksistensi kariernya. Kontras yang tajam antara gemerlap dunia hiburan dan hampa rasa di hatinya makin meyakinkan Ha Na bahwa seluruh kehidupan publik yang ia jalani hanyalah kepalsuan yang terstruktur.
Kehidupan Oh Ha Na dalam Dream to You membuktikan bahwa kemewahan dan popularitas tidak selalu menjamin kebahagiaan yang sejati. Di balik citra sempurna yang dipuji banyak orang, ia harus menanggung kesepian serta kepalsuan dari lingkungan di sekitarnya. Kisahnya menjadi pengingat mendalam bahwa dunia hiburan sering kali menuntut kepalsuan demi memuaskan ekspektasi publik. Pada akhirnya, Ha Na hanyalah seorang jiwa yang merindukan kehidupan yang jujur dan penerimaan yang tulus apa adanya.



















![[QUIZ] Seberapa Serasihkah Kamu dengan Sehun EXO?](https://image.idntimes.com/post/20260801/upload_849534c7dc75086a93c9282798904864_e293070a-a6b2-49a8-9488-41452b446147.jpg)
![[QUIZ] Kamu Lebih Cocok sama Woozi Atau DK Seventeen Nih?](https://image.idntimes.com/post/20260801/upload_1fc27c06a92f94a981d6e88e67b70a55_2ba49d84-8de0-400d-8f68-b981a3edb2d9.jpg)
