4 Realitas Kehidupan ala Drakor We Are All Trying Here, Gak Adil?

- Drakor We Are All Trying Here menyoroti kehidupan para pekerja sineas yang berjuang menghadapi tekanan sosial, rasa iri, dan ketidakadilan dalam dunia kerja kreatif.
- Kisahnya menggambarkan bahwa kekayaan dan pencapaian tidak selalu menjamin kebahagiaan, karena setiap karakter memiliki masalah dan rasa rendah diri masing-masing.
- Melalui konflik antar tokoh, drama ini menunjukkan bahwa keadilan hidup bersifat relatif dan keberhasilan seseorang tidak selalu disambut dengan kegembiraan oleh orang di sekitarnya.
Drakor We Are All Trying Here (2026) menggambarkan kehidupan sekelompok pekerja sineas yang berusaha menjalani hidupnya dengan sangat baik. Namun, sosok Hwang Dong Man (Koo Kyo Hwan) membuat teman-temannya merasa terganggu karena terus mengkritik pekerjaan mereka. Bagi teman-temannya, sosok Hwang Dong Man ini gak lebih dari ungkapan dengki karena belum mendapatkan kesempatan untuk debut, seperti lainnya.
Sayangnya, salah satu temannya, Park Gyeong Se (Oh Jung Se), menganggap sosok Hwang Dong Man lebih rendah daripada lainnya hanya karena belum berhasil merilis karya. Seiring berjalannya waktu, Hwang Dong Man dan sekelompok temannya ini menunjukkan realitas kehidupan yang kerap dialami di dunia nyata. Lalu, apa saja realitas kehidupan yang digambarkan di drakor We Are All Trying Here?
Peringatan, artikel ini mengandung spoiler.
1. Kelas sosial gak bisa diukur melalui harta dan pencapaian

Banyak orang beranggapan jika kekayaan membuat kehidupan yang mereka lalui akan lebih mudah. Mereka juga menjadi lebih unggul dibanding orang lain. Kenyataannya, kehidupan gak semudah itu untuk dijalani hanya dengan uang yang sangat banyak.
Menurut Jang Mi Ran (Han Sun Hwa), kehidupannya sama seperti yang dijalaninya di masa lalu. Hanya dengan banyak uang, masalah yang mereka hadapi juga semakin beragam. Untuk bertahan, mereka juga punya tantangannya tersendiri. Makanya, ketika ada yang merendahkannya, mereka hanya dianggap sebagai sekumpulan orang rendah diri yang perlu menunjukkan kekuasaannya di atas orang lain.
2. Setiap orang punya masalah yang membuatnya rendah diri

Sebelum menyadarinya, Byeon Eun A (Go Youn Jung) hanya menganalisis orang lain di pikirannya sendiri. Setiap Choi Dong Hyeon mencecarnya, Byeon Eun A merasa jika atasannya tersebut hanya iri dengan kemampuan analisisnya yang selalu dicari para sutradara. Makanya, Choi Dong Hyeon selalu menunjukkan kekuasaanya dengan merendahkan Byeon Eun A di depan rekan kerjanya yang lain.
Kondisi ini juga sama dialami oleh Hwang Dong Man yang selama ini direndahkan oleh teman-temannya. Menurut Byeon Eun A, teman-teman Hwang Dong Man hanya takut jika Dong Man mendapatkan kesempatan untuk debut. Mereka bahkan sadar dengan kemampuan Hwang Dong Man yang lebih unggul daripada mereka. Makanya, orang-orang tersebut hanya ingin menekankan keunggulan dirinya dibanding orang lain.
3. Gak ada keadilan mutlak dalam hidup

Sejak kecil, Byeon Eun A ditinggalkan ibunya dan harus bertahan hidup sendirian dalam beberapa waktu. Kondisi ini meninggalkan trauma berat pada hidup Byeon Eun A sekalipun dirinya telah hidup dengan nenek angkatnya. Pada akhirnya, Byeon Eun A menyadari jika hidup ibunya bisa lebih baik dengan menjadi aktris terkenal.
Bahkan, setelah ibunya mendapatkan atensi besar, Byeon Eun A masih direpotkan karena takut identitasnya terbongkar. Ibunya menekan Byeon Eun A untuk menjauh dan mendapatkan uang layak darinya tanpa mengungkapkan identitasnya. Sayangnya, Byeon Eun A gak ingin kehidupannya yang telah damai ini diacak-acak lagi oleh ibunya yang telah meninggalkannya selama 20 tahun belakangan.
4. Gak semua keberhasilan disambut kegembiraan

Dulu, kehidupan Hwang Dong Man dianggap sebagai benalu karena gak pernah berhasil debut. Dia terus mengkritik karya teman-temannya karena merasa ingin terlihat. Sayangnya, ketika kesempatan debut di depan mata, ada beberapa temannya yang gak menyambut dengan baik, seperti Park Gyeong Se.
Park Gyeong Se, Lee Ki Ri (Bae Myung Jin), dan Woo Seung Tae (Jo Min Kook) bahkan menunjukkan rasa irinya secara terang-terangan. Mereka bersikap seperti sosok Hwang Dong Man di masa lalu. Setuju dengan gambaran ini?



















