Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

3 Sikap Hwang Dong Man yang Bikin Temannya Lelah di We Are All Trying Here

3 Sikap Hwang Dong Man yang Bikin Temannya Lelah di We Are All Trying Here
still cut drama Korea We Are All Trying Here (instagram.com/jtbcdrama)
Intinya Sih
  • Hwang Dong Man digambarkan sebagai sutradara yang gagal selama 20 tahun, tetap berjuang meski belum pernah berhasil memproduksi karya.
  • Sikapnya yang sering meremehkan karya teman dan mengulang cerita lama membuat hubungan sosialnya semakin renggang.
  • Perilaku impulsif dan kurang peka di acara bersama menambah kesan negatif, menjauhkan dirinya dari lingkungan pertemanan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Drama Korea We Are All Trying Here hadir dengan genre slice of life yang mengangkat realita pahit tentang kegagalan dan perjuangan yang tak selalu berbuah manis. Karakter Hwang Dong Man (Koo Kyo Hwan) menjadi potret seseorang yang bertahan selama 20 tahun sebagai sutradara, meski tak satu pun karyanya berhasil diproduksi, sementara teman-temannya telah lebih dulu mencapai kesuksesan.

Di tengah tekanan tersebut, Hwang Dong Man tetap berusaha mempertahankan mimpinya. Namun, cara ia menghadapi kegagalan justru perlahan melukai orang-orang di sekitarnya. Alih-alih mendapat simpati, sikapnya sering kali memicu rasa lelah bahkan kesal dari teman-temannya sendiri.

Bukan tanpa alasan, beberapa kebiasaan Hwang Dong Man yang berulang membuat hubungannya dengan orang lain semakin renggang. Berikut tiga sikapnya yang paling sering menuai ketidaksukaan di We Are All Trying Here.

1. Sering meremehkan dan mengkritik karya teman sendiri

still cut drama Korea We Are All Trying Here
still cut drama Korea We Are All Trying Here (instagram.com/jtbcdrama)

Selama 20 tahun berjuang tanpa hasil, Hwang Dong Man justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang ketika melihat keberhasilan orang lain. Alih-alih memberikan apresiasi, ia kerap melontarkan komentar tajam terhadap film teman-temannya, bahkan menyebutnya membosankan atau tidak layak ditonton. Ucapannya sering kali terasa tidak pada tempatnya, apalagi disampaikan secara terang-terangan.

Sikap ini bisa dipahami sebagai bentuk kekecewaan atau rasa iri yang terpendam. Namun, cara Hwang Dong Man meluapkannya justru melukai orang lain. Ia seperti gagal memisahkan antara kritik profesional dan emosi pribadi, sehingga setiap komentarnya terdengar menjatuhkan, bukan membangun.

Awalnya, teman-temannya masih mencoba memahami posisinya sebagai seseorang yang belum berhasil. Tetapi seiring waktu, sikap tersebut menjadi beban tersendiri. Apa yang seharusnya menjadi momen bahagia justru berubah canggung karena kehadiran Hwang Dong Man yang terus merusak suasana.

2. Mengulang cerita yang sama tanpa peka terhadap situasi

still cut drama Korea We Are All Trying Here
still cut drama Korea We Are All Trying Here (instagram.com/jtbcdrama)

Kegagalan yang terus berulang membuat kehidupan Hwang Dong Man terasa stagnan. Ia tidak memiliki banyak pengalaman baru untuk dibagikan, sehingga sering kali mengulang cerita lama yang menurutnya menarik. Sayangnya, ia tidak menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya sudah berkali-kali mendengar cerita yang sama.

Dalam setiap pertemuan, Hwang Dong Man cenderung mendominasi percakapan tanpa memberi ruang bagi orang lain. Ia terus berbicara, seolah berusaha menutupi rasa tidak percaya diri saat harus berhadapan dengan teman-temannya yang lebih sukses. Namun, tanpa disadari, hal ini justru membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Teguran dari Park Gyeong Se menjadi titik yang memperlihatkan betapa melelahkannya kebiasaan tersebut. Bukan karena ceritanya tidak penting, tetapi karena Hwang Dong Man tidak peka terhadap situasi dan perasaan orang lain. Komunikasi yang seharusnya dua arah berubah menjadi monolog yang membosankan.

3. Bersikap tidak sopan dan impulsif saat berada di acara bersama

still cut drama Korea We Are All Trying Here
still cut drama Korea We Are All Trying Here (instagram.com/jtbcdrama)

Dalam berbagai acara pertemuan, Hwang Dong Man sering menunjukkan sikap yang dianggap tidak menghargai suasana. Ia datang tanpa benar-benar berpartisipasi dalam kebahagiaan orang lain, bahkan cenderung fokus pada dirinya sendiri. Salah satu yang paling mencolok adalah kebiasaannya makan berlebihan tanpa memperhatikan orang di sekitarnya.

Tindakan tersebut bukan sekadar soal etika, tetapi juga mencerminkan bagaimana ia melampiaskan emosinya. Makanan menjadi pelarian dari rasa gagal, kecewa, dan tekanan yang ia rasakan selama ini. Namun, cara tersebut justru menimbulkan kesan negatif di mata orang lain.

Seiring waktu, kehadiran Hwang Dong Man dalam acara justru dianggap sebagai sumber kekacauan. Alih-alih mempererat hubungan, ia malah menciptakan jarak. Sikap impulsif dan kurangnya kesadaran sosial membuat orang-orang di sekitarnya mulai menjaga jarak darinya.

Karakter Hwang Dong Man memperlihatkan bahwa kegagalan tidak hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga bisa memengaruhi cara seseorang memperlakukan orang lain. Tanpa disadari, luka yang tidak diselesaikan bisa berubah menjadi sikap yang melukai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ananda Zaura
EditorAnanda Zaura
Follow Us