Kerja tim idealnya membuat beban pekerjaan terbagi sekaligus mempertemukan kemampuan berbeda untuk mencapai tujuan bersama. Namun, situasinya dapat berubah ketika sebagian anggota justru mengurangi usaha karena merasa kontribusinya gak terlalu terlihat di antara hasil kerja kelompok. Fenomena yang dikenal sebagai social loafing ini dapat muncul secara perlahan sampai akhirnya memengaruhi produktivitas dan dinamika sebuah tim.
Masalahnya, social loafing gak selalu terlihat sebagai kemalasan terang-terangan karena seseorang masih dapat hadir dalam rapat, mengikuti diskusi, dan tercatat sebagai bagian dari proyek. Ketimpangan baru terasa ketika tugas semakin berat, tetapi kontribusi nyata justru berulang kali bertumpu pada beberapa anggota tertentu. Supaya kerja kelompok tetap sehat dan pembagian tanggung jawab gak berubah menjadi sumber frustrasi, yuk pahami berbagai faktor yang dapat memicu social loafing di kantor.
