Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kebiasaan di Kantor yang Sering Dianggap Normal, tapi Bikin Capek
Ilustrasi makan dan bekerja (pexels.com/Yan Krukau)
  • Kebiasaan makan sambil bekerja, selalu cepat membalas pesan, dan langsung bekerja saat datang lebih awal dapat mengurangi jeda, memecah fokus, serta membuat ritme kerja melelahkan.
  • Membawa pekerjaan ke luar jam kantor secara terus-menerus mengaburkan batas waktu pribadi; pengaturan prioritas dan komunikasi kapasitas kerja diperlukan agar waktu istirahat tetap terjaga.
  • Lembur bukan satu-satunya bukti dedikasi. Kinerja juga dinilai dari kualitas, tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan prioritas tanpa mengabaikan pemulihan energi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap tempat kerja memiliki kebiasaan yang terbentuk dari rutinitas sehari-hari. Beberapa di antaranya terasa begitu umum sampai dianggap sebagai bagian yang wajar dari kehidupan kantor. Mulai dari datang lebih awal, terus membalas pesan setelah jam kerja, hingga tetap bekerja saat waktu makan.

Padahal, kebiasaan yang sering dilakukan banyak orang belum tentu selalu baik untuk produktivitas, kesehatan, atau keseimbangan hidup. Jika dilakukan terus-menerus tanpa disadari, beberapa kebiasaan tersebut justru bisa membuat tubuh dan pikiran lebih cepat lelah.

Karena itu, gak ada salahnya mengevaluasi rutinitas kerja yang selama ini kamu jalani. Perhatikan apakah kebiasaan tersebut memang membantu pekerjaan atau hanya dilakukan karena sudah menjadi budaya di lingkungan kantor. Berikut lima kebiasaan di kantor yang sering dianggap normal.

1. Makan siang sambil tetap bekerja

Ilustrasi makan dan bekerja (pexels.com/www.kaboompics.com)

Membawa makanan ke meja kerja dan tetap membuka laptop saat makan mungkin terasa praktis ketika pekerjaan sedang banyak. Namun, kebiasaan ini membuat waktu istirahat menjadi kurang maksimal karena perhatian masih tertuju pada tugas, email, atau pesan yang belum selesai.

Tubuh tetap membutuhkan jeda dari pekerjaan, termasuk ketika sedang makan. Menggunakan waktu tersebut untuk menjauh sebentar dari layar dapat membantu pikiran beristirahat setelah digunakan untuk berkonsentrasi. Kamu juga bisa memanfaatkan momen ini untuk berbincang dengan rekan kerja atau sekadar menikmati makanan tanpa memikirkan tugas.

Cobalah memanfaatkan jam makan sebagai waktu untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan jika kondisi memungkinkan. Setelah kembali ke meja dengan pikiran yang lebih segar, kamu bisa melanjutkan tugas dengan fokus yang lebih baik dan ritme kerja yang terasa lebih seimbang.

2. Selalu membalas pesan pekerjaan dengan cepat

Ilustrasi membalsan pesan rekan kerja (pexels.com/www.kaboompics.com)

Pesan dari rekan kerja atau atasan terkadang langsung kamu balas meski sedang mengerjakan tugas lain. Kebiasaan ini bisa membuatmu merasa harus selalu tersedia selama jam kerja. Padahal, perhatian yang terus berpindah dari satu pekerjaan ke pesan lain dapat membuat tugas utama lebih sulit diselesaikan dengan fokus.

Respons cepat memang diperlukan untuk hal yang benar-benar mendesak. Namun, gak semua pesan membutuhkan jawaban dalam hitungan menit. Jika sedang mengerjakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi, kamu bisa menyelesaikan bagian penting terlebih dahulu sebelum memeriksa pesan yang masuk.

Menentukan prioritas dapat membantu kamu tetap responsif tanpa membuat perhatian terus terpecah. Kamu juga bisa memberi tahu rekan kerja jika sedang menyelesaikan tugas tertentu dan akan merespons setelahnya. Cara ini membantu menjaga komunikasi sekaligus membuat ritme kerja terasa lebih teratur.

3. Datang lebih awal lalu langsung bekerja

Ilustrasi datang langsung bekerja (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Datang sebelum jam kerja dimulai sering dianggap sebagai tanda produktivitas. Padahal, waktu sebelum bekerja juga bisa digunakan untuk mempersiapkan diri agar lebih siap menjalani hari. Kamu gak harus langsung sibuk mengerjakan tugas begitu sampai di kantor.

Jika kamu sudah berada di kantor lebih awal, gunakan beberapa menit untuk menyusun prioritas, menyiapkan kebutuhan kerja, atau mengecek agenda yang perlu dilakukan. Waktu tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk minum, sarapan, atau sekadar menenangkan diri sebelum suasana kerja mulai ramai.

Persiapan yang baik dapat membantu hari kerja terasa lebih terarah. Dengan mengetahui hal-hal yang perlu diselesaikan sejak awal, kamu bisa mengatur energi dan waktu dengan lebih baik tanpa merasa harus terburu-buru memulai pekerjaan.

4. Membawa pekerjaan sampai ke luar jam kantor

Ilustrasi bekerja sampai dirumah (pexels.com/Matilda Wormwood)

Ketika pekerjaan belum selesai, kamu mungkin terbiasa melanjutkannya di rumah. Jika dilakukan sesekali karena kebutuhan tertentu, hal tersebut mungkin sulit dihindari. Namun, kalau kebiasaan ini terlalu sering dilakukan, waktu istirahat bisa ikut terpakai untuk menyelesaikan pekerjaan.

Pekerjaan yang selalu terbawa sampai malam atau akhir pekan juga dapat membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur. Kamu mungkin merasa tetap harus memeriksa pesan, membuka laptop, atau memikirkan tugas meski jam kerja sudah selesai. Coba perhatikan apakah pola tersebut hanya terjadi pada situasi tertentu atau sudah menjadi rutinitas sehari-hari.

Mengatur prioritas dan menyampaikan kapasitas kerja secara jelas dapat membantu menjaga batas yang lebih sehat. Jika beban pekerjaan memang terlalu banyak, komunikasikan kondisi tersebut agar prioritas dan tenggat dapat disesuaikan. Memberikan ruang untuk beristirahat juga penting agar kamu tetap memiliki energi untuk bekerja dengan baik.

5. Menganggap lembur sebagai bukti dedikasi

Ilustrasi lembur bekerja (pexels.com/Vitaly Gariev)

Lembur terkadang diperlukan ketika ada pekerjaan yang memang harus segera diselesaikan. Namun, terlalu sering menghabiskan waktu di kantor gak selalu menjadi ukuran dedikasi seseorang. Kualitas pekerjaan, tanggung jawab, komunikasi, dan kemampuan menyelesaikan tugas sesuai prioritas juga memiliki peran penting dalam menilai kinerja.

Jika lembur terus terjadi karena beban kerja yang gak realistis, situasinya perlu dievaluasi. Terlalu sering bekerja sampai larut dapat membuat waktu istirahat berkurang dan energi untuk menjalani hari berikutnya ikut menurun. Bekerja secara efektif tetap membutuhkan waktu untuk memulihkan tubuh dan pikiran.

Beberapa kebiasaan di kantor memang terasa normal karena sudah dilakukan banyak orang. Namun, kamu tetap perlu melihat apakah kebiasaan tersebut membantu atau justru membuat rutinitas kerja semakin melelahkan. Gak semua hal yang dianggap biasa harus kamu ikuti. Kamu bisa mulai membangun cara kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan, kapasitas, dan batasanmu.

Pada akhirnya, lingkungan kerja yang sehat juga terbentuk dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Menjaga waktu istirahat, mengatur respons terhadap pekerjaan, dan memahami batas kemampuan dapat membantu kamu bekerja dengan lebih nyaman dan berkelanjutan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article