Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan di Kantor yang Merugikan, Stop Normalisasi!

5 Kebiasaan di Kantor yang Merugikan, Stop Normalisasi!
ilustrasi lingkungan kerja (pexels.com/AI25.Studio Studio)
Intinya Sih
  • Menghakimi kehidupan pribadi, melampiaskan emosi kepada rekan, dan menjodoh-jodohkan kolega dapat melukai perasaan, memicu gosip, serta mengganggu kenyamanan dan profesionalisme kerja.
  • Meminta karyawan tetap membalas chat, email, atau mengirim file saat cuti mengabaikan batas pribadi dan berisiko membentuk budaya kerja yang mengekang.
  • Karyawan perlu waspada saat diminta menandatangani surat resign atas keputusan perusahaan, memahami konsekuensi dokumen, serta mencari informasi atau pendampingan demi melindungi haknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di setiap tempat kerja pasti ada kebiasaan yang sudah dianggap lumrah. Padahal, tidak semua kebiasaan tersebut layak dimaklumi karena bisa merugikan, mengganggu kenyamanan, bahkan memengaruhi hubungan antarkaryawan.

Sering kali, perilaku seperti ini terus terjadi karena dianggap hanya candaan atau hal sepele. Padahal, jika terus dibiarkan, kebiasaan tersebut bisa membentuk budaya kerja yang kurang sehat. Berikut lima kebiasaan di kantor yang sudah saatnya berhenti dinormalisasi.

1. Menghakimi rekan kerja dari kehidupan pribadinya

Berbicara dengan rekan kerja
ilustrasi berbicara dengan rekan kerja (pexels.com/RDNE Stock project)

Saat membahas pekerjaan, masih ada orang yang justru membawa kehidupan pribadi rekan kerjanya ke dalam pembicaraan. Misalnya, mengatakan, "Kamu belum menikah, jadi pasti lebih santai," atau "Makanya jangan jadi ibu bekerja kalau akhirnya sering izin." Ada juga yang mengaitkan penampilan, usia, atau kondisi keluarga dengan kemampuan seseorang dalam bekerja, padahal keduanya belum tentu berhubungan.

Tidak ada yang nyaman ketika kehidupan pribadinya dijadikan bahan penilaian di tempat kerja. Hal tersebut bukan hanya bisa melukai perasaan, tetapi juga membuat seseorang enggan menyampaikan pendapat atau berinteraksi dengan rekan kerjanya. Padahal, kantor seharusnya menjadi tempat untuk bekerja, bukan menghakimi kehidupan orang lain.

2. Menjadikan rekan kerja pelampiasan emosi

Melampiaskan emosi ke rekan kerja
ilustrasi melampiaskan emosi ke rekan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Setiap orang pasti pernah mengalami masalah pribadi yang memengaruhi suasana hati. Namun, bukan berarti kekesalan itu boleh dilampiaskan kepada rekan kerja yang tidak terlibat. Bersikap ketus, memasang wajah masam, atau memberikan respons yang tidak menyenangkan hanya akan membuat suasana kerja menjadi kurang nyaman.

Profesionalisme juga terlihat dari kemampuan seseorang mengelola emosi di tempat kerja. Jika memang sedang tidak dalam kondisi terbaik, cobalah mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Dengan begitu, masalah pribadi tidak memengaruhi kerja sama dalam tim.

3. Menjodoh-jodohkan rekan kerja yang sudah memiliki pasangan

Candaan di lingkungan kerja
ilustrasi candaan di lingkungan kerja (pexels.com/Yan Krukau)

Candaan memang bisa mencairkan suasana kerja, tetapi tidak semua candaan pantas dilakukan. Menjodoh-jodohkan rekan kerja yang sudah memiliki pasangan atau sudah menikah bisa membuat orang yang bersangkutan merasa tidak nyaman. Apalagi jika candaan tersebut terus diulang meski sudah menunjukkan keberatan.

Kebiasaan ini juga berpotensi memunculkan gosip dan kesalahpahaman. Kantor adalah tempat untuk bekerja, bukan tempat mencampuri urusan asmara orang lain. Menghormati batasan pribadi merupakan salah satu bentuk sikap profesional di lingkungan kerja.

4. Meminta rekan kerja tetap online saat cuti

Bekerja di rumah
ilustrasi bekerja di rumah (pexels.com/Anna Tarazevich)

Cuti seharusnya menjadi waktu untuk benar-benar beristirahat dari pekerjaan. Kenyataannya, masih banyak karyawan yang tetap diminta membalas chat, mengecek email, atau mengirim file meski sedang cuti. Hal ini tentu merugikan karena membuat karyawan merasa tidak tenang dan tetap diliputi kecemasan.

Dalih seperti "cuma nanya sebentar" atau "ini urgen banget" sering dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan tersebut. Perilaku seperti ini menunjukkan bahwa banyak orang belum memahami pentingnya personal boundaries di tempat kerja. Menuntut seseorang tetap online di hari liburnya hanya akan menciptakan budaya kerja yang mengekang, seolah-olah karyawan harus selalu siap bekerja kapan pun dibutuhkan.

5. Mengakali PHK dengan surat resign

Menandatangani dokumen
ilustrasi menandatangani dokumen (pexels.com/Ivan S)

Tidak sedikit karyawan yang diminta menandatangani surat pengunduran diri, padahal keputusan mengakhiri hubungan kerja berasal dari perusahaan. Dalam kondisi seperti ini, banyak orang akhirnya memilih menandatangani dokumen tersebut karena bingung, tertekan, atau takut kehilangan haknya. Padahal, keputusan tersebut bisa berdampak pada hak yang seharusnya diterima sebagai karyawan.

Karena itu, jangan terburu-buru menandatangani dokumen apa pun sebelum memahami isi dan konsekuensinya. Jika merasa ada hal yang janggal, cari informasi mengenai aturan ketenagakerjaan atau mintalah pendampingan kepada pihak yang berwenang. Memahami hak sendiri bisa membantu kamu terhindar dari keputusan yang merugikan.

Sering terjadi bukan berarti harus dimaklumi. Jika sebuah kebiasaan justru merugikan orang lain atau membuat lingkungan kerja menjadi tidak nyaman, sudah saatnya kita berhenti menganggapnya sebagai hal yang wajar. Dari lima kebiasaan tadi, mana yang masih sering kamu temui di tempat kerja?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More