Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kebiasaan Kecil yang Bikin Kamu Rentan Jadi Korban Bullying Kantor

3 min read
5 Kebiasaan Kecil yang Bikin Kamu Rentan Jadi Korban Bullying Kantor
ilustrasi mengobrol dengan rekan kerja (pexels.com/Ivan S)
  • Kebiasaan selalu mengiyakan tugas tambahan meski kapasitas penuh dapat membuat batas kerja tidak jelas dan membuka peluang orang lain membebani pekerjaan.
  • Diam saat candaan berulang melewati batas serta sering meminta maaf atas hal yang bukan kesalahan sendiri dapat membuat perlakuan tidak nyaman dianggap dapat diterima.
  • Karyawan perlu menyampaikan kendala secara profesional, tidak menormalisasi perlakuan buruk sebagai anak baru, mencatat kejadian, dan mencari dukungan bila diperlukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Masuk kantor dengan niat bekerja baik gak selalu membuat urusan kerja berjalan mulus. Cara kamu merespons permintaan, candaan, atau perlakuan orang lain bisa membentuk batas yang terbaca oleh rekan kerja. Karena itu, beberapa kebiasaan kecil justru bisa menjadi penyebab korban bullying yang sering gak disadari.

Bukan berarti perilaku korban menjadi penyebab bullying atau membenarkan perlakuan buruk dari siapa pun. Namun, mengenali pola diri bisa membantu kamu membangun batas yang lebih jelas di lingkungan kerja. Yuk simak beberapa kebiasaan di kantor yang perlu mulai kamu evaluasi.

  1. 1. Terlalu sering bilang iya meski keberatan

    ilustrasi berdiskusi dengan rekan kerja
    ilustrasi berdiskusi dengan rekan kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Permintaan tambahan pekerjaan sering datang saat kamu sedang mengejar tenggat sendiri. Karena ingin dianggap kooperatif, kamu langsung bilang iya meski sebenarnya kapasitas sudah penuh. Jika pola ini terus terlihat, orang tertentu bisa menganggap kamu selalu tersedia untuk diberi tugas.

    Menjadi orang yang membantu memang bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebaikan berubah menjadi kebiasaan orang lain untuk melewati batasmu. Coba jawab dengan kondisi yang jelas, misalnya menyebut pekerjaan yang sedang dikerjakan sebelum menerima tugas baru.

  2. 2. Memilih diam saat candaan mulai kelewatan

    ilustrasi mengobrol
    ilustrasi mengobrol (pexels.com/Alena Darmel)

    Candaan di kantor bisa terasa biasa sampai seseorang mulai menjadikan kamu bahan lelucon berulang. Kamu mungkin ikut tertawa supaya suasana gak canggung, padahal komentar tersebut sudah membuatmu gak nyaman. Respons seperti ini bisa membuat pelaku mengira perilakunya masih bisa diterima.

    Menegur gak harus dilakukan dengan nada tinggi. Kalimat singkat seperti meminta topik itu dihentikan sudah cukup menunjukkan batas. Jika terus berulang, catat kejadian dan sampaikan kepada pihak yang punya kewenangan menangani masalah tersebut.

  3. 3. Sering meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahanmu

    ilustrasi meminta maaf
    ilustrasi meminta maaf (magnific.com/magnific)

    Kebiasaan meminta maaf memang bisa membuat komunikasi terasa lebih ringan. Masalahnya muncul ketika kata maaf dipakai setiap kali ada konflik, bahkan saat kamu hanya menyampaikan pendapat atau mempertanyakan pekerjaan. Lama-lama, kamu bisa terlihat seperti pihak yang selalu merasa bersalah.

    Kamu tetap bisa menjaga sopan santun tanpa mengambil kesalahan yang bukan milikmu. Coba sampaikan keberatan dengan kalimat yang jelas tanpa buru-buru meminta maaf atas pendapatmu sendiri. Sikap seperti ini membuat batasmu lebih terbaca dan membantu kamu terbiasa bersikap tegas saat bekerja.

  4. 4. Takut menyampaikan keberatan kepada atasan

    ilustrasi berdiskusi dengan atasan
    ilustrasi berdiskusi dengan atasan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Kamu mungkin sudah tahu pekerjaan tertentu gak masuk akal, tetapi memilih mengiyakan karena takut dianggap sulit. Setelah itu, kamu mengerjakannya diam-diam sambil menanggung beban yang sebenarnya bisa dibicarakan sejak awal. Pola ini sering membuat masalah terlihat seperti kemampuanmu yang kurang, bukan pembagian kerja yang bermasalah.

    Menyampaikan keberatan bukan berarti menolak semua arahan. Kamu bisa menjelaskan kendala, prioritas, dan waktu yang realistis tanpa menyerang siapa pun. Sikap seperti ini membantu orang lain memahami batas kerjamu sekaligus menunjukkan bahwa kamu bisa diajak bekerja secara profesional.

  5. 5. Menganggap perlakuan buruk sebagai harga menjadi anak baru

    ilustrasi orang bekerja
    ilustrasi orang bekerja (magnific.com/magnific)

    Sebagai karyawan baru, wajar kalau kamu masih belajar aturan dan dinamika kantor. Namun, status tersebut bukan alasan untuk menerima penghinaan, pemberian tugas yang gak masuk akal, atau perlakuan berbeda secara terus-menerus. Menganggap semuanya sebagai bagian dari adaptasi justru bisa membuat batas pribadi makin kabur.

    Kamu boleh belajar dari senior tanpa harus membiarkan mereka memperlakukanmu semaunya. Perhatikan pola, simpan bukti jika diperlukan, dan cari dukungan ketika perlakuan tersebut mulai mengganggu pekerjaan. Bersikap tegas bukan tentang melawan semua orang, melainkan tahu kapan harus berkata cukup.

    Mengevaluasi kebiasaan di kantor bukan berarti menyalahkan diri sendiri ketika mengalami bullying. Justru, kesadaran itu bisa membantu kamu mengenali batas dan merespons situasi dengan lebih terarah. Kamu berhak bekerja dengan aman tanpa harus terus mengorbankan diri demi terlihat mudah diajak bekerja.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More