Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jangan Langsung Cabut! Simak 5 Situasi saat Resign Bukan Solusi
ilustrasi resign (magnific.com/pressfoto)
  • Artikel menekankan bahwa keputusan resign sebaiknya tidak diambil saat emosi memuncak, karena bisa menimbulkan penyesalan dan mengaburkan penilaian terhadap situasi kerja sebenarnya.

  • Ditekankan pentingnya mempertimbangkan peluang berkembang, mengambil cuti untuk istirahat, serta menjaga kestabilan finansial sebelum benar-benar memutuskan keluar dari pekerjaan.

  • Resign disarankan dilakukan hanya setelah memiliki rencana karier yang jelas agar transisi berjalan lancar dan keputusan terasa lebih matang serta menguntungkan secara jangka panjang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Keinginan untuk resign sering muncul ketika pekerjaan terasa melelahkan atau suasana kantor sudah gak lagi menyenangkan. Apalagi jika setiap hari dipenuhi tekanan, konflik, atau tugas yang seolah tak ada habisnya.

Meski begitu, mengundurkan diri bukan selalu jalan keluar terbaik untuk setiap masalah di tempat kerja, lho. Ada beberapa kondisi yang justru membuatmu lebih diuntungkan jika tetap bertahan sambil mempersiapkan langkah berikutnya.

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek secara matang, kamu bisa menghindari keputusan impulsif yang berpotensi menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

1. Saat emosi masih menguasai diri

ilustrasi memilih resign (magnific.com/rawpixel.com)

Hari yang buruk di kantor memang bisa membuat siapa saja ingin segera angkat kaki. Mungkin kamu baru saja mendapat kritik dari atasan, berselisih dengan rekan kerja, atau merasa usahamu selama ini gak dihargai. Dalam kondisi seperti itu, resign sering terlihat sebagai solusi paling cepat.

Padahal, keputusan besar sebaiknya gak diambil saat emosi sedang memuncak. Cobalah memberi jeda setidaknya satu hari untuk menenangkan diri dan memikirkan situasi dengan kepala dingin. Setelah perasaan lebih stabil, kamu bisa menilai apakah masalah tersebut benar-benar menjadi alasan kuat untuk meninggalkan pekerjaan atau masih bisa diperbaiki.

2. Saat masih ada peluang berkembang di perusahaan

ilustrasi lelah, bosan, gak semangat (magnific.com/lookstudio)

Merasa bosan atau gak puas dengan pekerjaan bukan berarti kamu harus langsung mencari kantor baru, lho. Bisa jadi yang membuatmu jenuh hanyalah tugas tertentu atau posisi yang kurang sesuai dengan kemampuan dan minatmu. Jika hubungan dengan atasan, rekan kerja, dan budaya perusahaan masih terasa nyaman, ada baiknya mempertimbangkan opsi lain terlebih dahulu.

Coba cari tahu apakah perusahaan menyediakan kesempatan rotasi jabatan atau membuka lowongan internal. Memindahkan fokus ke peran yang lebih cocok dapat membuat pekerjaan terasa lebih menarik. Selain itu, bertahan di perusahaan yang sama juga memungkinkanmu mempertahankan berbagai keuntungan, seperti jenjang karier dan pengalaman kerja yang lebih konsisten.

3. Saat sebenarnya kamu hanya butuh istirahat

ilustrasi liburan (pexels.com/Asad Photo Maldives)

Bekerja tanpa henti selama berbulan-bulan memang dapat membuat tubuh dan pikiran kelelahan. Kondisi ini sering ditandai dengan sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, hingga merasa malas memulai aktivitas kerja setiap pagi. Gak sedikit orang yang mengira resign adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa lelah tersebut.

Menurut penelitian dalam JAMA Network Open yang melibatkan lebih dari 3.000 dokter di Amerika Serikat, mereka yang mengambil lebih banyak hari libur dan gak banyak bekerja selama masa liburan cenderung mengalami tingkat burnout yang lebih rendah. Meski dilakukan pada tenaga medis, temuan ini menunjukkan bahwa waktu istirahat yang berkualitas dapat membantu memulihkan energi dan mengurangi kelelahan akibat pekerjaan. Jika masih memiliki jatah cuti, manfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat sejenak. Bukan tidak mungkin, setelah kembali bekerja kamu justru menemukan semangat baru dan menyadari bahwa resign belum tentu menjadi pilihan yang tepat.

4. Saat kondisi keuangan belum cukup aman

ilustrasi dompet kosong (pexels.com/Towfiqu barbhuiya)

Mengundurkan diri tanpa memiliki pemasukan pengganti bisa menjadi keputusan yang cukup berisiko, lho. Proses mencari pekerjaan baru sering kali membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan. Bahkan kandidat dengan pengalaman dan keterampilan yang baik pun tetap harus melewati beberapa tahap seleksi sebelum menerima tawaran kerja.

Karena itu, penting untuk menghitung apakah tabungan yang dimiliki mampu menutupi kebutuhan hidup selama masa pencarian kerja. Mencari pekerjaan baru sebelum mengundurkan diri dapat membantu mengurangi kekhawatiran terkait pemasukan selama masa transisi karier. Dengan cara ini, kamu masih memiliki penghasilan tetap dan gak perlu terburu-buru menerima tawaran yang sebenarnya kurang sesuai dengan harapan.

5. Saat belum memiliki rencana setelah resign

ilustrasi berpikir (magnific.com/drobotdean)

Resign tanpa arah yang jelas bisa membuatmu menghadapi banyak ketidakpastian. Kamu mungkin belum mengetahui pekerjaan apa yang ingin ditekuni, perusahaan mana yang akan dituju, atau berapa lama proses mendapatkan pekerjaan baru akan berlangsung. Situasi seperti ini justru berpotensi menambah stres.

Kandidat yang masih aktif bekerja kerap dipandang lebih menarik oleh perusahaan dibandingkan mereka yang sudah lama gak memiliki pekerjaan. Informasi yang dimuat oleh Investopedia juga menjelaskan bahwa mencari pekerjaan saat masih memiliki posisi aktif dapat memberikan keuntungan dalam proses negosiasi sekaligus membantu menjaga stabilitas finansial. Oleh sebab itu, sebaiknya susun rencana karier terlebih dahulu sebelum benar-benar menyerahkan surat pengunduran diri, ya.

Memutuskan resign memang merupakan hak setiap pekerja, tapi langkah tersebut sebaiknya diambil setelah melalui pertimbangan yang matang. Emosi sesaat, rasa lelah, atau kejenuhan gak selalu menjadi tanda bahwa kamu harus segera meninggalkan pekerjaan.

Dengan mengevaluasi kondisi mental, peluang berkembang, kesiapan finansial, serta tujuan karier, kamu bisa menentukan keputusan yang paling sesuai untuk masa depanmu. Pada akhirnya, resign akan terasa lebih menenangkan ketika dilakukan dalam kondisi siap, bukan karena dorongan sesaat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article