Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

6 Standar Ganda yang Masih Sering Dialami Perempuan dalam Relationship

6 Standar Ganda yang Masih Sering Dialami Perempuan dalam Relationship
ilustrasi pasangan membaca buku (pexels.com/ronlach)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti berbagai standar ganda yang masih dialami perempuan dalam hubungan, mulai dari tekanan untuk menikah hingga ekspektasi berlebihan terhadap peran domestik dan emosional mereka.
  • Perempuan sukses finansial sering dianggap mengintimidasi pasangan, sementara tanggung jawab rumah tangga dan menjaga keharmonisan hubungan tetap lebih banyak dibebankan kepada mereka.
  • Tekanan sosial terkait penampilan dan keputusan memiliki anak menunjukkan bahwa ekspektasi gender masih membatasi kebebasan perempuan dalam menentukan jalan hidup serta keseimbangan hubungan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Relationship seharusnya dijalani dengan rasa nyaman dan saling menghargai. Namun pada kenyataannya, perempuan masih sering menghadapi standar ganda yang membuat mereka harus terus menjelaskan pilihan, sikap, hingga cara mereka menjalani hubungan. Hal-hal yang dianggap biasa saat dilakukan laki-laki justru bisa dipermasalahkan ketika dilakukan perempuan.

Tanpa disadari, standar ganda ini sering muncul dalam bentuk komentar kecil yang terdengar sepele. Padahal, jika terus terjadi tekanan tersebut bisa memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hubungan seseorang. Berikut beberapa standar ganda yang sampai sekarang masih sering dialami perempuan dalam sebuah hubungan.

1. Perempuan dianggap harus selalu ingin menikah

ilustrasi pasangan memasak bersama
ilustrasi pasangan memasak bersama (unsplash.com/beccatapert)

Perempuan yang memilih melajang atau tidak terburu-buru menikah masih sering dianggap terlalu pemilih atau takut berkomitmen. Di sisi lain, laki-laki yang menikmati hidup sendiri justru lebih sering dipandang mandiri dan fokus mengejar tujuan hidupnya. Perbedaan penilaian ini menunjukkan bahwa perempuan masih dibebani ekspektasi untuk segera “settle down”.

Tekanan tersebut membuat banyak perempuan merasa harus memberi alasan atas keputusan personal mereka sendiri. Tidak sedikit yang akhirnya merasa bersalah hanya karena belum menemukan pasangan yang tepat atau memang belum ingin menikah. Padahal, keputusan menikah seharusnya menjadi hak setiap individu tanpa dibatasi stereotip gender.

2. Perempuan sukses finansial sering dianggap mengintimidasi

ilustrasi perempuan menatap fokus ke laptop
ilustrasi perempuan menatap fokus ke laptop (pexels.com/lizasummer)

Meski semakin banyak perempuan menjadi pencari nafkah utama dalam hubungan, stigma terhadap perempuan berpenghasilan tinggi masih cukup kuat. Perempuan sukses sering dianggap terlalu dominan, terlalu mandiri, atau membuat pasangan laki-laki merasa tersaingi. Sementara, laki-laki dengan penghasilan tinggi justru lebih sering dipandang sebagai pasangan ideal.

Situasi ini membuat sebagian perempuan merasa harus menurunkan pencapaian mereka demi menjaga ego pasangan. Bahkan dalam beberapa hubungan, keberhasilan perempuan diposisikan sebagai masalah yang perlu “dikelola” bersama. Padahal, kondisi finansial yang sehat seharusnya menjadi keuntungan bagi hubungan, bukan ancaman.

“Perempuan yang menjadi pencari nafkah utama sering diperlakukan seolah-olah itu adalah hambatan yang harus diatasi pasangan demi menjaga hubungan tetap sehat,” ujar  Ashley C. Ford, seorang penulis, podcaster, dan pendidik asal Amerika yang membahas topik-topik termasuk ras, seksualitas, dan citra tubuh, dikutip dari Bustle.

3. Beban pekerjaan rumah masih lebih banyak dibebankan kepada perempuan

ilustrasi pasangan sedang membersihkan rumah
ilustrasi pasangan sedang membersihkan rumah (pexels.com/annushka-ahuja)

Meski banyak pasangan modern sama-sama bekerja, urusan domestik masih lebih sering dianggap tanggung jawab perempuan. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, mengurus anak, hingga mengingat kebutuhan keluarga sehari-hari, semuanya sering otomatis jatuh ke tangan perempuan. Kondisi ini membuat banyak perempuan mengalami kelelahan fisik sekaligus mental.

“Ketika perempuan memikul tanggung jawab untuk mengurus semua orang dalam keluarga, mereka cenderung merasa kelelahan dan ‘touched out’,  kondisi lelah secara fisik dan emosional akibat terus-menerus melakukan kontak fisik dengan anak-anak,” ujar Gayane Aramyan, Terapis Pernikahan dan Keluarga Berlisensi (LMFT) dan konselor kesehatan mental, dikutip dari Verywell Mind.

“Pekerjaan caretaker sering dianggap “tidak terlihat”, sehingga perempuan merasa kurang diapresiasi oleh keluarga maupun pasangan mereka,” tambahnya.

Masalahnya, pekerjaan domestik sering dianggap hal kecil sehingga tidak terlihat sebagai bentuk kerja yang melelahkan. Padahal, akumulasi tugas rumah tangga yang tidak seimbang bisa memicu rasa kesal dan konflik dalam relationship. Ketika perempuan merasa terus memikul beban lebih besar, kedekatan emosional dalam hubungan juga bisa perlahan menurun.

4. Penampilan perempuan selalu jadi bahan penilaian

ilustrasi perempuan membersihkan wajah
ilustrasi perempuan membersihkan wajah (pexels.com/polinatankilevitch)

Perempuan sering mendapatkan komentar soal penampilan mereka, baik ketika terlalu berdandan maupun saat tampil biasa saja. Ketika tampil menarik, mereka bisa dianggap mencari perhatian laki-laki lain meski sudah memiliki pasangan. Sebaliknya, saat tampil santai atau tanpa makeup, mereka justru dituduh tidak merawat diri.

Standar ini menunjukkan, bahwa tubuh dan penampilan perempuan masih terus diawasi oleh lingkungan sekitar. Hal-hal seperti memakai makeup, menjaga bentuk tubuh, atau menghilangkan bulu tubuh masih dianggap kewajiban perempuan dalam relationship. Sementara, laki-laki jarang menghadapi tekanan serupa terhadap penampilan mereka sehari-hari.

5. Perempuan lebih sering dituntut menjaga hubungan tetap harmonis

ilustrasi pasangan duduk di taman
ilustrasi pasangan duduk di taman (pexels.com/budgeronbach)

Dalam banyak relationship, perempuan sering diposisikan sebagai pihak yang harus lebih sabar dan lebih menjaga komunikasi. Ketika hubungan mulai renggang, perempuan juga lebih sering dianggap gagal mempertahankan hubungan. Di sisi lain, laki-laki cenderung lebih dimaklumi ketika sulit terbuka secara emosional.

“Perempuan lebih sering mengungkapkan frustrasi soal komunikasi dan pembagian pekerjaan rumah,” ujar Joanna Harrison, couples counsellor dan mantan pengacara perceraian, dikutip dari The Guardian.

Tekanan ini membuat perempuan lebih sering memendam rasa lelah demi menjaga hubungan tetap berjalan baik. Tidak sedikit perempuan yang akhirnya terus mengalah hanya agar konflik tidak semakin besar. Padahal, hubungan yang sehat seharusnya dibangun dari usaha dua arah, bukan hanya satu pihak saja.

6. Perempuan lebih sering ditekan soal punya anak

seorang ibu melatih bayi sikat gigi
ilustrasi seorang ibu melatih bayi sikat gigi (pexels.com/martproduction)

Pertanyaan tentang kapan menikah biasanya akan langsung disusul pertanyaan tentang kapan punya anak. Tekanan ini jauh lebih sering diarahkan kepada perempuan karena masih ada anggapan, bahwa perempuan harus menjadi ibu sebelum usia tertentu. Akibatnya, perempuan sering dibayangi kecemasan tentang jam biologis mereka.

Padahal, keputusan untuk memiliki anak merupakan keputusan besar yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kesiapan mental hingga kondisi finansial. Namun, masyarakat masih sering memperlakukan perempuan seolah memiliki tenggat waktu tertentu untuk memenuhi ekspektasi tersebut. Hal ini membuat banyak perempuan merasa hidup mereka terus diukur berdasarkan status hubungan dan peran sebagai ibu.

Standar ganda dalam relationship mungkin terlihat sepele, tetapi jika terus terjadi bisa memengaruhi rasa nyaman dan kualitas hubungan. Karena itu, relationship yang sehat seharusnya dibangun atas dasar kesetaraan, bukan ekspektasi gender yang timpang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Muhammad Tarmizi Murdianto
EditorMuhammad Tarmizi Murdianto

Related Articles

See More