ilustrasi keputusan (pexels.com/Vitaly Gariev)
Beberapa keputusan sebenarnya membutuhkan data, pengalaman lapangan, atau masukan dari orang yang menjalankannya secara langsung. Namun dalam lingkungan yang terjebak budaya asal bapak senang, pertimbangan tersebut sering kalah oleh satu kalimat sederhana, "Yang penting pimpinan suka." Miris tapi terjadi berulang kali.
Akibatnya, keputusan yang kurang efektif tetap dijalankan meski banyak orang sudah melihat potensi masalahnya sejak awal. Tidak sedikit proyek yang akhirnya menghabiskan waktu dan biaya lebih besar karena sejak awal dibangun untuk menyenangkan seseorang, bukan untuk menjawab kebutuhan yang sebenarnya. Saat kondisi ini terus berulang, kualitas kerja perlahan menjadi nomor dua.
Budaya asal bapak senang tidak selalu hadir dalam bentuk aturan tertulis. Sering kali ia muncul melalui kebiasaan kecil yang terus dibiarkan hingga dianggap normal. Dari lima tanda tadi, mana yang paling sering terlihat di lingkungan kerja sekitar?