Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Buku Fiksi Vs. Self-Improvement, Mana yang Lebih Membentuk Cara Pikir?

Buku Fiksi Vs. Self-Improvement, Mana yang Lebih Membentuk Cara Pikir?
Membaca Buku (pexels.com/Rahul Shah)
Intinya Sih
  • Buku fiksi mengajak pembaca menyelami emosi dan sudut pandang tokoh, sehingga dapat melatih empati, kreativitas, serta pemahaman terhadap berbagai kemungkinan.
  • Buku self-improvement menawarkan pengetahuan, strategi praktis, kisah inspiratif, dan motivasi untuk membangun kebiasaan, mengembangkan diri, serta menghadapi tantangan sehari-hari.
  • Tidak ada jenis buku yang mutlak lebih unggul; fiksi membentuk cara pikir melalui pengalaman cerita, sementara self-improvement memberi panduan terarah untuk kehidupan nyata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kamu lebih suka membaca buku fiksi atau self-improvement? Meski sama-sama menawarkan pengalaman membaca yang bermanfaat, kedua jenis buku ini memiliki pendekatan yang berbeda. Buku fiksi mengajak pembaca menyelami cerita dan berbagai sudut pandang tokoh, sedangkan buku self-improvement menyajikan wawasan serta strategi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Belakangan, muncul perbincangan mengenai jenis buku yang dinilai lebih mampu membentuk cara berpikir seseorang. Sebagian berpendapat bahwa buku fiksi dapat melatih empati dan cara memandang suatu situasi, sementara yang lain menilai buku self-improvement lebih efektif karena memberikan panduan yang bersifat praktis. Lantas, benarkah salah satunya lebih unggul? Yuk, simak penjelasannya!

1. Buku fiksi menciptakan koneksi emosional

ilustrasi wanita sedang membaca buku (pexels.com/SHVETS production)
ilustrasi wanita sedang membaca buku (pexels.com/SHVETS production)

Membaca buku fiksi seolah mengajak kamu masuk ke dalam dunia yang diciptakan penulis. Kamu akan mengikuti perjalanan setiap tokoh, memahami cara mereka berpikir, hingga ikut merasakan emosi yang muncul di setiap konflik. Pengalaman ini membuat pembaca dapat melihat suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda, seolah-olah sedang berada di posisi tokoh tersebut.

Selain membangun koneksi emosional, buku fiksi juga dapat memperluas cara pandang dan melatih kreativitas. Alur cerita yang beragam membuat pembaca terdorong untuk memahami berbagai kemungkinan, menafsirkan makna di balik cerita, serta membayangkan situasi yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya.

"Penelitian menunjukkan bahwa membaca fiksi dapat memperkuat empati, meningkatkan fokus, dan bahkan mendukung kesehatan mental. Pembaca fiksi pada dasarnya adalah master Jedi dalam memahami orang lain," ujar Katherine Alexiss, life coach bersertifikat, dikutip dari Yeay Day Life Coaching.

2. Buku self-improvement membantu mencari solusi

ilustrasi membaca buku (pexels.com/kaboompics.com)
ilustrasi membaca buku (pexels.com/kaboompics.com)

Berbeda dengan buku fiksi, buku self-improvement lebih berfokus pada pengalaman nyata, pengetahuan, serta strategi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Isi buku ini umumnya membahas cara menghadapi tantangan, membangun kebiasaan yang lebih baik, meningkatkan produktivitas, hingga mengembangkan potensi diri.

Tak sedikit buku self-improvement yang menyertakan kisah inspiratif dari orang-orang yang berhasil melewati berbagai tantangan hidup. Melalui pengalaman tersebut, pembaca dapat memperoleh sudut pandang baru sekaligus motivasi untuk menghadapi permasalahan yang sedang dialami.

"Beberapa buku pengembangan diri dibuat dengan menyertakan kisah-kisah optimistis dan studi kasus yang dapat membangkitkan semangat tentang orang-orang yang telah mengatasi kesulitan," demikian ditulis jurnalis Nuha Faiz dalam artikel The Morning berjudul Self-help Books or Fiction? An Ongoing Debate.

3. Mana yang lebih membentuk cara berpikir?

Ilustrasi pria sedang menulis dan berpikir (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Ilustrasi pria sedang menulis dan berpikir (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Pada dasarnya, tidak ada jawaban mutlak mengenai jenis buku yang lebih mampu membentuk cara berpikir. Keduanya menawarkan manfaat yang berbeda sesuai dengan pendekatan yang digunakan. Buku fiksi cenderung mengajak pembaca memahami emosi, sudut pandang, dan pengalaman hidup tokoh sehingga dapat melatih empati, imajinasi, serta cara melihat suatu persoalan dari berbagai sisi.

Sementara itu, buku self-improvement lebih banyak memberikan panduan praktis, wawasan, dan motivasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jenis buku ini cocok bagi pembaca yang ingin mengembangkan kebiasaan positif, meningkatkan kemampuan diri, atau mencari solusi atas tantangan yang sedang dihadapi.

Pada akhirnya, tidak ada pilihan yang lebih baik di antara keduanya. Baik buku fiksi maupun self-improvement sama-sama dapat memberikan pelajaran berharga dan membentuk cara berpikir dengan caranya masing-masing. Buku fiksi membantu pembaca memahami kehidupan melalui cerita dan pengalaman para tokohnya, sedangkan buku self-improvement menawarkan panduan yang lebih terarah untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan nyata.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More