Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tips Adaptasi dengan Atasan Baru, Tetaplah Menghargai
ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Mikhail Nilov)
  • Karyawan perlu cepat beradaptasi dengan atasan baru dan tetap profesional, dengan memahami peran utama mereka adalah membantu pemimpin mencapai tujuan tim.
  • Hindari sikap tidak kooperatif, termasuk prasangka berbasis gender atau usia, serta terima perbedaan gaya kepemimpinan sambil melihat kelebihan dan kekurangannya.
  • Sampaikan progres proyek dan kendala secara terbuka, tetap netral terhadap rumor, serta tunjukkan respek kepada atasan dengan fokus pada tugas dan tanggung jawab.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Biasanya staf memang paling sering kena rotasi sampai layoff. Namun, atasanmu juga dapat mengalaminya. Malah di beberapa perusahaan rotasi pimpinan diatur dengan jelas serta dilakukan dalam waktu yang cukup sering.

Misalnya, setiap tahun ada pergantian manajer. Ini artinya, kamu sebagai anak buah juga wajib dapat beradaptasi dengan cepat. Jangan sampai rendahnya kemampuanmu menyesuaikan diri dengan pimpinan baru menghambat kelancaran tugas-tugas.

Siapa pun atasanmu, kamu harus tetap profesional. Jangan terjebak dalam sikap terlalu sentimental meski atasan sebelumnya sangat berkesan bagimu. Ikuti tips-tips untuk adaptasi dengan atasan baru berikut ini dan bersiaplah bekerja sama di bawah komandonya.

1. Pahami tugas dasarmu ialah membantu atasan mencapai tujuan bersama

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/ANTONI SHKRABA production)

Terkadang anak buah kesulitan bekerja di bawah pemimpin yang baru karena mereka sudah lebih lama berada di tim tersebut. Sementara leader baru tidak pernah tergabung dalam tim yang sama. Sekalipun ia menduduki posisi yang lebih tinggi, kamu dapat merasa jauh lebih senior.

Apalagi kalau kebetulan pimpinan baru umurnya lebih muda daripada dirimu. Selisih cuma 1 atau 2 tahun bisa bikin dirimu ogah bersikap kooperatif dengannya. Ini sikap yang sangat tidak tepat. Tempat kerja adalah dunia yang penuh hierarki. Pengalaman juga kalah oleh jabatan.

Siapa pun yang menjabat sebagai atasanmu, sadari dengan rendah hati bahwa tugasmu ialah menyukseskan kepemimpinannya. Caranya dengan dirimu membantunya mencapai tujuan bersama. Jangan ada sedikit pun keinginan untuk menghambat usahanya ke arah sana melalui sikap-sikap yang tidak kooperatif.

2. Gak usah meributkan perbedaan gendernya dengan atasan sebelumnya

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/MART PRODUCTION)

Misalnya, atasan sebelumnya berjenis kelamin pria. Sekarang posisinya digantikan oleh perempuan. Hindari pemikiran bahwa di bawah kepemimpinannya pasti tim bekerja lebih lambat dan sukar berkembang. Memangnya perempuan bisa apa?

Bukan gender pimpinan yang bakal menjadi masalah dalam pekerjaan. Justru seksisme seperti di atas yang menghambat berbagai rencana kerja. Saat kamu sudah memandang sebelah mata pada pimpinan perempuan, pasti menjadi ogah-ogahan dalam bekerja.

Kamu tidak seantusias ketika dipimpin oleh atasan pria. Padahal, sehebat apa pun pimpinanmu yang baru, tetap tak bisa bekerja sendirian. Secara tidak langsung, malah dirimu yang menggagalkan usahanya untuk membawa tim makin maju. Beri waktu serta dukungan penuh buatnya bekerja sebaik mungkin.

3. Ingat, tiap leader punya gaya kepemimpinan masing-masing

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Pavel Danilyuk)

Dua leader dengan jenis kelamin yang sama serta latar belakang yang mirip saja tetap mengembangkan gaya kepemimpinan yang berbeda. Apalagi ketika keduanya punya banyak perbedaan. Tidak hanya dari jenis kelamin dan pengalaman, tapi juga umur.

Kamu kudu siap dipimpin dengan gaya yang berlainan. Tidak ada gaya kepemimpinan yang 100 persen sempurna. Setiap gaya leadership pasti memiliki sisi plus dan minusnya. Contohnya, dalam hal pengawasan.

Pemimpin lama sangat memercayai anak buah sehingga membiarkan kalian bekerja tanpa pengawasan ketat. Ini membuatmu dan teman-teman merasa bebas serta bisa lebih kreatif dan inovatif. Akan tetapi, kadang kalian juga terlalu santai dan bikin pekerjaan tidak beres. Sementara atasan yang baru melakukan controlling dengan sangat cermat.

Ia sering berjalan di antara meja-meja buat memastikan anak buahnya bekerja dengan baik. Minusnya, kamu pasti merasa lebih tegang sepanjang kerja. Plusnya, waktu kerja benar-benar produktif. Dirimu juga dapat segera menyampaikan masalah serta mendapatkan arahan langsung darinya.

4. Terbuka menyampaikan progres terakhir serta kendala yang dihadapi

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Kindel Media)

Pemimpin yang baru tidak akan tiba-tiba mengubah seluruh rencana kerja. Seakan-akan semua hal yang telah dikerjakan dan direncanakan pemimpin sebelumnya sama sekali tak berguna. Mungkin memang ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dulu atau dihentikan.

Akan tetapi, umumnya pemimpin baru meneruskan program-program yang sudah baik. Apalagi pekerjaan yang telah menjadi tanggungan tentu mesti diselesaikan. Bukan tugas itu dibiarkan terbengkalai.

Maka dari itu, setiap anak buah wajib memberitahukan perkembangan proyek-proyek yang belum beres. Jika ada masalah yang mempersulit pekerjaan juga kudu disampaikan. Tanpa pengetahuan yang utuh, pemimpin baru akan sulit mengarahkan anak buah.

5. Tetap respek walau ada suara miring tentangnya

ilustrasi suasana kerja (pexels.com/Thirdman)

Tak jarang pergantian pimpinan juga diiringi dengan beragam desas-desus. Seperti dia diangkat menjadi salah satu pimpinan karena punya kedekatan dengan direktur utama. Atau, masa lalunya yang kurang baik dan masalah yang sifatnya pribadi mendadak diangkat ke permukaan.

Kamu mungkin tidak bisa menghindari suara-suara miring seperti di atas. Akan tetapi, dirimu masih dapat mengontrol reaksi, apalagi sikapmu, terhadap atasan yang baru. Kamu tak perlu menunjukkan rasa ingin tahu lebih banyak tentang info negatif tersebut.

Cukup dengarkan apa-apa yang mustahil dihindari olehmu. Selebihnya kamu gak usah mengorek informasi lagi. Netral saja. Sementara sikapmu di hadapan atasan tetap penuh respek sesuai dengan kedudukan masing-masing. Fokuslah ke tugas dan tanggung jawabmu.

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Apalagi atasanmu bukan pemilik kantor tersebut. Walaupun posisinya kerap dianggap lebih stabil, ia tak lepas dari kemungkinan pencopotan, mutasi, atau rotasi. Kamu harus siap bekerja sebaik mungkin di bawah kepemimpinan siapa pun. Oleh sebab itu, adaptasi dengan atasan baru perlu kamu pelajari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article